Rencana melahirkan jika sesuai dengan perkiraan lahir dan USG awal adalah awal Juli. Namun, semenjak kami pindah ke Jombang dan periksa kandungan ke Surabaya, perkiraan kelahiran itu berubah menjadi akhir Juni melalui USG terakhir. Ya, sebenarnya tidak masalah karena jika dihitung dengan perkiraan awal, masih masuk ke hitungan 38 minggu.

Di awal Juni, kami periksa terakhir. Tumben bawa satu rombongan masuk ke ruang periksa: suami dan anak-anak. Berat badan bayi sudah mencapai hampir 3 kg. Dokter kandungan mengatakan kalau rencana operasi sesar atau SC terjadwal mau dimajukan jadi seminggu setelah periksa terakhir pun tidak masalah. Saya kaget dan merasa belum siap. Tapi juga merasa sangat excited dan tidak sabar bertemu bayi baru, adiknya para kakak.

Jujur, saya masih menyimpan keinginan untuk bisa lahiran spontan. Teringat salah satu teman yang bisa melahirkan spontan setelah dua kali operasi. Dia bahkan bercerita bahwa yang dia alami itu bukan lagi VBAC tapi VBA2C. Salah satu dokter kandungan yang sangat terkenal di Bandung yang dapat menangani kondisi medis ini adalah dr Delle yang praktek di RS Al Islam. Beliau terkenal sangat pro normal. Di awal kehamilan, ketika saya dengan hati-hati mengungkapkan keinginan untuk memeriksakan kandungan ke dr Delle pada suami pun ditolak, karena resiko yang terlalu besar harus ditanggung. Salah satunya adalah pendarahan pasca melahirkan.

Memang menurut penelitian, jika seorang Ibu hendak melakukan VBAC, persalinan normal setelah satu kali operasi, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 80%. Di mana persalinan kedua saya termasuk dalam kategori 20% nya, karena sudah lewat tenggat waktu aterm. Sedangkan, persalinan normal setelah dua kali operasi caesar, tingkat keberhasilannya turun hingga 50%. Selain itu, sedikit sekali tenaga medis yang mau dan mampu melaksanakan hal tersebut. Amannya ya, sebaiknya operasi lagi saja.

Sebenarnya, hal yang saya takutkan lagi dengan operasi caesar adalah kemungkinan untuk steril. Berdasarkan cerita dari teman dan ibu-ibu komunitas yang sudah mengalami 3x operasi caesar, mereka diminta melakukan steril meski umur mereka masih muda ataupun organ reproduksi mereka masih baik. Hal ini disebabkan oleh resiko yang semakin meningkat jika menjalani operasi caesar ke-4 dan seterusnya.

Namun, rupanya menurut penelitian terbaru, jumlah operasi sesar bukan lagi menjadi patokan bagi seorang wanita untuk menjalani steril. Banyak hal yang menjadi faktor, seperti misalnya, apakah kondisi dan kualitas rahim masih baik, apakah organ dalam masih dalam kondisi baik dan tidak terjadi pelengketan, dan seterusnya. Tentu banyak hal yang harus dinilai dan didiskusikan dengan tenaga medis yang dipilih untuk membantu persalinan. Saya sendiri melakukan diskusi dengan dokter kandungan kami di Surabaya, yaitu dr Eighty di RSIA Kendangsari MERR Surabaya, dan memutuskan untuk tidak melakukan steril.

Hal lain yang saya khawatirkan lagi adalah masa pemulihan pasca operasi. Jujur, di persalinan terakhir saya, masa recovery saya cukup lama, hingga satu bulan lebih. Saya mengkonsumsi obat anti nyeri dalam jangka waktu cukup lama meski dokter kandungan saya waktu itu, dr Leri Septiani di RS Grha Bunda Bandung, tidak menganjurkannya. Namun kondisi saya waktu itu cukup sulit, ditambah pasca persalinan saya harus ujian mid semester di studi lanjut, adaptasi menyusui plus tongue tie, cukup acak adut memaksa badan saya untuk tetap waras menjalani semuanya.

Alhamdulillah, menurut metode medis terbaru lagi, operasi caesar tidak lagi semenakutkan dulu. Ada yang disebut ERACS, atau lebih dikenal dengan metode operasi sectio caesarea tanpa rasa sakit, yang katanya membutuhkan masa penyembuhan lebih cepat. Usut punya usut, rupanya hal ini bergantung pada obat anestesi yang digunakan saat operasi. ERACS akan menggunakan berbagai macam obat yang hanya mengincar syaraf pada tubuh kita, dibandingkan operasi sc biasa yang membius syaraf dan motorik tubuh kita. Jadi jangan kaget, ketika menggunakan metode ERACS, kita masih bisa menggerakkan kaki di tengah-tengah proses operasi.

Masih berkutat dengan keinginan persalinan normal, meski saya tidak saying out loud, saya berdoa pada Allah agar saya bisa merasakan persalinan spontan tersebut. Kata suami, tidak apa-apa berdoa, yang penting jangan berharap. Maka, saya panjatkan doa, bahwa saya sangat menginginkan bisa merasakan persalinan pervaginam, tapi jika hal itu bukan yang terbaik bagi saya, maka buatlah hati saya mampu menerima takdir terbaik itu.

Dan perlu diingat kembali, ridho suami dan orang tua adalah yang utama. Memang ada opsi, jika ingin VBAC, sebaiknya berkunjung ke klinik yang mengutamakan gentle birth. Namun, suami dan orang tua kami lebih tenang jika kami memeriksakan dan ditangani oleh tenaga medis yang ahli, yang tentunya dengan fasilitas yang memadai jika mampu. Maka, pergi ke klinik bukanlah pilihan. Kami dari awal pun mantap menjatuhkan pilihan untuk melahirkan di RSIA Kendangsari MERR bersama dr Eighty setelah berdiskusi bersama keluarga besar. Karena tujuan utama kami adalah Ibu dan Bayi lahir sehat dan selamat.

Lalu, bagaimana akhirnya Allah menetapkan takdir persalinan ketiga untuk saya? Insyaa Allaah akan saya coba lanjutkan cerita persalinan ketiga saya mengenai proses sc terjadwal di artikel selanjutnya.