Halo! Saat ini saya sedang mengembangkan Monee, aplikasi catatan keuangan anti-ribet yang akan mencatat pengeluaranmu secara otomatis! Yuk coba sekarang! Download di sini (Android only)


Perkembangan Clubhouse yang begitu pesat memang sangat menarik untuk dianalisis. Apakah karena faktor exclusive-nya? Apakah karena faktor pandemi? Apakah karena faktor yang lain? Mari kita coba analisis mulai dari value basic yang ditawarkan oleh Clubhouse.

Sebenarnya apa sih value dasar dari Clubhouse? Menurut saya, value dasar dari Clubhouse adalah dimana setiap orang bisa membuat sebuah obrolan interaktif yang bisa diikuti oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Dari value dasar ini, kemudian muncullah sebuah pertanyaan, siapa yang mau mendengarkan obrolan di Clubhouse? Dilanjutkan oleh pertanyaan, bagaimana kita membuat orang mau mendengarkan obrolan di Clubhouse? Tentunya akan `percuma` jika ada obrolan di Clubhouse namun tidak ada orang yang hadir untuk mendengarkan.

Salah satu jawabannya adalah dengan menghadirkan influencer, yakni orang yang memiliki pengaruh, dimana pengaruh yang dimiliki bisa membuat orang lain mau mendengarkan apa yang ia bicarakan.

Salah satu momentum terbesar dari Clubhouse adalah ketika Sriram Krishna (salah seorang General Parner di a16z) berhasil mengajak Mark Zuckerberg dan Elon Musk untuk bergabung dalam The Good Show di Clubhouse. Mark dan Elon merupakan orang paling terkenal di dunia, kehadian mereka di Clubhouse tentu saja menarik perhatian banyak orang untuk dapat mendengar apa yang akan mereka katakan.

Setelah Influencer mulai tampil, mesin invitation dari exclusivity Clubhouse mulai bekerja. Orang yang tidak memiliki invitation mulai mencari dengan cara bertanya kesana-kemari, siapa yang memiliki invitation? Sebaliknya, orang yang memiliki invitation pun mulai membagikan info bahwa dirinya memiliki invitation lebih.

Dari 2 tipe user tersebutlah awareness terkait Clubhouse terbentuk dan word of mouth pun akan mulai menyebar. Hampir di semua tempat, mulai dari group Whatsapp, Slack Kantor, semua orang mulai membicarakan terkait Clubhouse.

Selanjutnya, setelah mengikuti sebuah room, orang yang merasa bahwa dirinya memiliki sesuatu yang layak untuk diobrolkan mulai mencoba untuk menjadi moderator dan membuat room dengan mengajak teman-temannya. Orang yang membuat room tersebut kemudian akan mempromote room yang akan dia buat, lagi-lagi menyebarkan awareness akan kehadiran Clubhouse. Awareness ini akan terus tersebar bahkan setelah room selesai karena sebagian dari para pendengar akan membagikan review terkait konten yang baru saja ia dengar.

Meskipun growth Clubhouse bisa dibilang sangat tinggi, ada 1 hal yang menjadi tantangan bagi Clubhouse, yakni format obrolan yang live dimana hal ini menghuruskan orang untuk menyisihkan waktu agar dapat mendengarkan obrolan di Clubhouse. Memang seperti yang saya utarakan sebelumnya bahwa commitmen untuk mendengarkan clubhouse itu lebih kecil dibandingkan dengan mengikuti seminar zoom, namun tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sambil mendengarkan obrolan di Clubhouse.

Terkait tantangan ini, adanya wabah Covid-19 bisa dibilang seolah-olah menjadi berkah untuk Clubhouse. Karena orang tinggal dirumah dan tidak mempunyai terlalu banyak akivitas, mendengarkan room di Clubhouse akhirnya menjadi salah satu sarana untuk mengurangi rasa kesepian. Sehingga kemudian muncul pertanyaan, apakah orang-orang akan tetap mendengarkan Clubhouse setelah pandemi berakhir?


Apakah Clubhouse akan terus bertahan?

Di bagian terakhir ini, kita akan membahas hal yang menjadi pertanyaan sejuta umat, apakah hype dari Clubhouse akan bertahan dan membuat Clubhouse tetap digunakan hingga satu dekade kedepan ? Hal ini merupakan sebuah pertanyaan yang sangat wajar karena banyak sekali platoform social media yang hype di awal namun akhirnya tenggelam dan tutup.

Jawaban klasik dari pertanyaan diatas adalah Tergantung. Saya tidak bisa meramal dan melihat ke masa depan utnuk mengetahui apakah Clubhouse akan bisa bertahan, namun menurut saya ada beberapa hal yang dapat menjadi kunci apakah Clubhouse bisa bertahan atau tidak.

  1. Tingkat kemauan orang untuk kembali menjadi moderator dan membuat room.

Konten bagi sebuah social media platform bisa diibaratkan sebagai oksigen bagi tubuh kita. Tanpa oksigen, tubuh kita akan mati. Demikian pula dengan social media, tanpa kehadiran konten, lambat laun mereka pun akan mati.

Konten yang ada pun tidak sembarang konten, namun harus new content. Ekspektasi akan adanya konten baru adalah sumber adrenalin yang membuat orang selalu membuka Instagram, Twitter dll dengan sadar walaupun baru beberapa detik sebelumnya mereka merefresh newsfeed dari social media tersebut.

Persentase kemungkinan bertahannya Clubhouse sangat tergantung pada seberapa besar keinginan moderator-modeator yang sebelumnya telah membuat room di Clubhouse untuk terus membuat room. Jika moderator-moderator tersebut sudah tidak memiliki semangat lagi untuk membuat room, maka keadaan ini akan membahayakan bagi Clubhouse.

Kenapa? karena sekali orang mulai beranggapan bahwa Clubhouse sudah mulai sepi, kemungkinan orang untuk membuka Clubhouse akan semakin menurun. Semakin menurunnya jumlah orang yang membuka Clubhouse, maka jumlah pendengar room akan semakin menurun yang bisa mengakibatkan moderator untuk berfikir 2 kali sebelum membuka room berikutnya.

Untuk menarik minat user untuk menjadi moderator, Clubhouse telah menyiapkan sebagian dana dari funding $100jt yang mereka dapatkan untuk mendukung creator yang hadir di Clubhouse. Selain itu, Clubhouse juga mulai merilis fitur-fitur tambahan bagi moderator untuk menambah semangat mereka, seperti fitur Analytics yang sangat membantu moderator unuk memahami data dari room yang telah mereka buat dan semoga bisa menambah semangat untuk mendapatkan performa yang lebih baik.

Selain dari jalur organic, jika melihat tweet dari Andrew Chen (Partner di a16z) , Clubhouse juga sepertinya akan mencoba membuat konten dari jalur non-organic, alias membuat inhouse konten layaknya Netflix Original. Sebuah hal yang logis karena dengan adanya inhouse content, Clubhouse bisa memastikan bahwa akan selalu ada konten yang berkualitas untuk disimak oleh para pengguna.

Content tersebut bisa menjadi sebuah daya tarik untuk sementara waktu, at least agar user tidak menguninstal Clubhouse karena ada room yang masih mereka nikmati, hingga akhirnya Clubhouse bisa memiliki native influencer yang tentunya akan membuat pull facor Clubhouse menjadi lebih tinggi.

2. Unique Value diantara Kompetitor dan Native Influencer

Seiring dengan kesuksesan Clubhouse, plaform social media lain mulai berlomba-lomba untuk menciptakan pesaing Clubhouse, salah satu diantara adalah Twitter dengan Twitter Space yang saat ini sudah mulai dibuka untuk user tertentu.

Dengan masuknya social media lain, maka Clubhouse harus mulai membuat differensiasi yang bisa membuat moderator tertarik untuk membuat room di Clubhouse dibandingkan dengan kompetitor.

Salah satu value yang dimiliki Twitter dibandingkan dengan Clubhouse adalah network of user yang lebih luas. Jika seseorang telah memiliki jumlah follower yang lumayan di Twitter, maka ketika dihadapkan pada opsi untuk menggunakan Clubhouse atau Twitter Space, orang tersebut akan cenderung untuk memilih untuk menggunakan Twitter Space. Hal karena ia telah memiliki audience sehingga Space yang dibuat kemungkinan akan menarik lebih banyak pendengar jika dibandingkan dengan jika membuat room di Clubhouse.

Tantangan bagi Clubhouse saat ini adalah apakah mereka mampu menciptakan native influencer, yakni orang-orang yang besar dan membangun audience dari awal di Clubhouse. Contoh ekstremnya adalah seseorang seperti Charlie D’Amelio di Tiktok. Orang-orang tersebut akan memiliki kecenderungan untuk membuat room di Clubhouse dibandingkan platform lain karena audience mereka terdapat di Clubhouse.

3. Personalisasi

Bagi seorang listener, pengalaman yang kurang bagus terjadi ketika orang tersebut membuka Clubhouse dan tidak menemukan room yang sesuai dengan selera dia. Hal ini bisa disebabkan karena pada saat itu memang tidak ada room yang sesuai dengan keinginan user tersebut atau kemungkinan lain, saat itu sebenanrya ada room yang sesuai dengan selera user tersebut namun belum direkomendasikan oleh Clubhouse. It’s a loss opportunity.

Personalization di Clubhouse menurut saya sangat penting karena orang cenderung untuk mendengarkan topik yang ia suka. Selain topik, ada faktor lain yang saya sadari sangat berpengaruh terhadap apakah saya tertarik untuk join room yang tersebut atau tidak, yakni faktor Bahasa. Bagi saya pribadi, selain Bahasa Indonesia, saya cukup memahami percakapan dalam Bahasa Inggris. Sehingga jika konten dalam Bahasa Indonesia memang sedang sangat terbatas, saya tidak mempermasalahkan untuk mendengarkan room dalam bahasa Inggris asalkan dalam topic yang saya sukai.

Issue bahasa ini menurut saya cukup penting karena jika kita melihat dari room-room yang ada di Clubhouse, sebagian besar atau mugkin hampir semua dibuaat secara sukarela diluar jam kerja.

Di saat covid seperti ini, orang cenderung memiliki waktu yang lebih panjang karena bisa bekerja dari rumah. Namun ketiaa Covid usai, hal ini akan menjadi pertanyaan, apakah orang masih mau membuat room setelah bekerja dan melakukan perjalanan dari kantor? Apakah mereka masih punya energi untuk melakukan hal ini? Dalam kondisi ini, karakterisik Clubhouse yang harus disiarkan secara live akan menjadi tantangan tersendiri.

*Update**

Issue bahasa dalam rekomendasi personalisasi yang saat ini masih didominasi oleh Bahasa Inggris sepertinya sudah menjadi fokus dari Clubhouse.

Hal ini bisa diketahui melalui change log tanggal 5 Maret dimana Clubhouse menyatakan bahwa rekomendasi roomdalam bahasa yang kita gunakan saat ini sudah menjadi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya


Penutup

Clubhouse adalah platform yang sangat menarik. Dengan growth yang sangat tinggi dan didukung (dan menjadi rebutan) oleh investor-invesor besar seperti a16z, perkembangan Clubhouse dalam beberapa saat kedepan patut untuk diamati.

Waalaupun kondisi saat ini yaang masih berada diatas angin, Clubhouse tentu tidak bisa bersantai ria. Kompetisi dari existing social media player yang mulai berdatangan serta pandemi yang kemungkinan mulai mereda setelah adanya vaccine, berpotensi untuk mengubah behaviour orang yang bisa mengakibakan berubahnya peta persaingan. Clubhouse akan selalu dituntut untuk menghadirkan inovasi terbaru dan menciptakan native influencer agar kuantitas dan kualitas konten tetap terjaga.

Terlepas apakah Clubhouse akan menjadi startup yang sukses atau bernasib sebaliknyaa, perkembangan Clubhouse akan menjadi study case yang akan dipelajari oleh banyak orang untuk kemudian diikuti atau dijadikan pembelajaran.