Sumber gambar: @adrikartun, Pak Adrian, DSM 2019 – kolega di bawah naungan dosen bimbingan yang sama.

Saya merasa perlu banget bikin konten ini ya, sebagai mahasiswa aktif yang berharap sebentar lagi saya bisa lulus tepat waktu. Berasa punya tanggung jawab buat mengenalkan jurusan ini ke teman-teman yang hendak melanjutkan studi dalam negeri.

Mungkin pernah saya bahas sedikit tentang program studi ini, di tulisan Lanjut Kuliah Lagi. Tentang awal saya bertemu dengan jurusan ini dan bagaimana Allah menunda mimpi saya selama lima tahun buat sekolah lagi, untuk menemukan apa yang benar-benar saya inginkan. Dan Alhamdulillah, rezekinya di sini.

Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB memang terkenal bagus di Indonesia. Fakultas ini juga siap menyandang akreditasi dunia untuk sekolah bisnis. Pembelajarannya juga full English, baik S1, S2 dan S3 nya. Bagi yang punya dana lebih, bisa ambil program double degree, atau pertukaran pelajar. Sekarang banyak banget programnya, saya ngga sanggup nyebutin satu-satu. Sok langsung cek aja website resminya yah.

Untuk program S2 sendiri, SBM ITB lebih banyak menerima mahasiswa MBA. Dan lagi-lagi, program MBA ini banyak banget macemnya, ada yang untuk fresh graduate, ada yang untuk pengusaha, ada yang untuk manager, dan sebagainya. Langsung baca aja di website SBM. Tapi, yang ngga banyak orang tahu, rupanya SBM ITB juga punya program S2 yang sangaat berbeda dengan MBA, yaitu MSM atau Magister Sains Manajemen.

Apa sih MSM itu?

Kalau misal temen-temen ngira, di MSM akan belajar tentang bisnis dan cara buat bikin usaha, temen-temen salah besar. Kalau yang saya tangkap dari teman-teman sih, mereka pada merasa salah jurusan karena punya pikiran kaya gini nih. Mereka pikir MSM ini akan nambah materi bisnis mereka dengan harga yang lebih murah dari MBA. Atau kalau temen-temen mau belajar managerial, hmm kayanya ngga bakal dapet ilmunya di MSM. Yah, dapet sih, ada yang namanya matrikulasi, itu semacam course tambahan dari program studi yang membuat kita belajar tentang pengetahuan dasar di bidang bisnis dan manajemen, tapi limited banget.

Justru MSM ini adalah Master by Research, kalau pakai istilah di luar negeri yah. Literally, kita belajar tentang bagaimana kita melakukan riset, metode apa saja yang digunakan, bagaimana kita melakukan literature review, bagaimana kita membangun argumen, bagaimana kita melakukan analisis, dan sebagainya. Mata kuliah yang membahas tentang bisnis pun bisa kita ambil sebanyak 4 mata kuliah pilihan, atau 5 kalau mau, tapi kita juga akan banyak bahas tentang teori dalam mata kuliah tersebut. Kita akan “dipaksa” baca paper akademis jurnal yang begitu banyak, tugas di tengah dan akhir semester akan banyak membuat essay atau riset kecil-kecilan yang didukung dengan penjelasan saintifik.

Praktek bisnisnya gimana?

Ngga adaaaaaa, teman-teman. Kalau mau praktek bisnis, mending langsung ambil MBA, yang fokusnya ke entrepreneurship juga. Kalau di MSM kita akan fokus belajar bagaimana cara bikin artikel jurnal akademis, bagaimana jadi researcher, atau bagaimana kita bisa jadi analis di perusahaanlah, karena kerjaan analis kan riset juga yah.

Apakah kemudian kalau masuk MSM ngga bisa kerja di industri?

Ya ngga jugalaah. Banyak kok alumni MSM yang tetap mengejar karir profesional yang ngga ada hubungannya dengan mata kuliah waktu ambil MSM. Lagi-lagi, ini balik lagi ke motivasi dan cita-cita individual. Ngga bisa dipukul rata bahwa semua akan jadi researcher atau dosen ketika lulus dari MSM.

Tapi, kurikulum MSM tidak dirancang untuk mempersiapkan alumninya selain menjadi researcher, baik di industri maupun dunia akademis. Jadi, temen-temen sebaiknya juga belajar-belajar lagi, kalau misalnya mau berkarir di dunia industri, kalau misal milih S2 di MSM.

Beruntungnya, saya suka banget sama riset. Dan di MSM sangat didukung karena memang kurikulumnya bagus banget mendukung kita belajar jadi researcher. Bahkan dosen-dosen kami juga mengakui, jika MSM dibandingkan dengan jurusan yang sama di perguruan tinggi top dunia, bisa jadi kurikulumnya lebih bagus. Karena memang MSM sebagus itu.

Selain dari mata kuliahnya yang beneran mendukung riset banget, juga ada pertemuan seminggu sekali selama dua tiga jam untuk menambah kemampuan mahasiswa di bidang riset, yang diisi oleh researcher profesional. Juga bagaimana caranya biar paper bisa tembus SCOPUS Q1 misal. Ada juga materi tentang bagaimana menjadi researcher di perusahaan teknologi besar. Pernah juga ada materi bagaimana kita mencari “masalah” untuk kita pecahkan lewat riset.

Keuntungannya jadi mahasiswa MSM apa?

Kalau kata kaprodi kami yang dulu, kita tuh aset SBM, alias jadi aset asisten bantu-bantu riset dosen hahaha. Karena beneran, beban pekerjaan dosen di Indonesia itu yah, harus memenuhi tri darma perguruan tinggi, mulai dari mengajar, melakukan riset dan pengabdian masyarakat. Itu beneran udah ngabisin waktu banget. Jadinya kehadiran mahasiswa MSM nih, sangat membantu dosen menjalankan riset mereka dengan lancar. Tentunya dapet bayaran juga, ngga gratisan.

Ini ngaruh juga ke networking kita. Kalau performa kita bagus, pasti dicariin buat bantuin. Dan nggausah khawatir, kita juga bakal diajarin sama dosen-dosen yang sekaligus jadi mentor kita dengan cara terjun langsung di riset atau proyekan. Nambah portfolio kita juga sebagai researcher beginner gitu kan. Ini bisa jadi modal kita banget kalau mau lanjut S3. Bisa juga nambah bahan cuci mata, kira-kira kita mau ahli di bidang atau topik apa.

Selama hampir dua tahun kuliah di MSM, saya merasa mendapatkan banyak banget manfaat, karena mungkin saya juga suka bidang yang saya geluti dan dunia riset ini. Memang pasti ada ups and downs-nya, ngga bisa dipungkiri, tuntutan kuliah di sini cukup berat karena paper kita harus accepted di jurnal sebagai persyaratan sidang tesis. Plus, saya sempet agak culture shock ketika bekerja di dunia riset harus berhadapan dengan dunia akademis dengan orang-orang yang prominent dan berumur di bidangnya, dibandingkan dulu kerja di startup yang notabene mayoritas anak seumuran. Tapi semuanya menambah pengalaman saya dalam memulai karir di dunia riset.

Doakan ya, semoga saya segera lulus, portfolio riset bertambah baik, dan bisa segera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi!

Semoga sharing kali ini bisa menambah keberkahan ilmu yang saya dapat.