Kayanya seru nih bahas ini!

Akhir-akhir ini Ibuk (alias saya) sedang mengajarkan MbakNai perihal hak dan kewajiban. Bahwa MbakNai punya kewajiban dan juga hak. Begitupun elemen-elemen di sekitar MbakNai.

Kesannya gedek banget ya, masa anak kecil diajarin kata-kata sulit semacam hak dan kewajiban?

Padahal dulu itu baru diajarin di SD?

Sejujurnya, saya termasuk orang yang punya pemahaman bahwa anak itu potensinya tanpa limitasi. Standar mudah atau sulit kan sebenarnya batasan kita sendiri. Kita yang punya standar oh ini mudah oh ini susah. Padahal anak mah, kalau kita mau berusaha dan anaknya juga mau, mudaaah banget belajarnya. Belajarnya anak-anak itu lebih mudah masuk kalau menjadi kebiasaan bagi mereka. Dan tentu saja Ibuk biasanya pakai real-life cases di keseharian.

Malam tadi, Ibuk kaget sekali. Pasalnya kamar berantakan sekali. Rupanya MbakNai habis main di situ. Berhubung Ibuk sudah lelah sekali, Ibuk pun menegur MbakNai. Tapi MbakNai malah menagih janji Ibuk untuk menyetelkan video.

Hm, sebenarnya udah lama Naira juga mengerti tentang tanggung jawab. Bahwa apapun yang kita lakukan, harus kita pertanggungjawabkan. Menurut saya, hal ini penting banget untuk ditanamkan sejak dini.

Kenapa?

Di Islam pun diajarkan, bahwa manusia itu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia. Dengan menjadikan ini value keluarga dan menanamkannya sejak dini, saya rasa MbakNai dan DekHan akan tumbuh menjadi muslim yang kuat akarnya dan amanahnya kepada Allah.

Contoh tanggung jawab di keseharian itu, yang paling mudah adalah: membersihkan mainan setelah bermain. Memang, bagi yang punya ART, menerapkan hal ini bukan hal yang mudah. Tapi, bukan berarti ngga mungkin.

Kalau bahas tentang bala bantuan ART ya, kalau misal mampu dan butuh, ngga masalah kok. Tapi bukan berarti tanggung jawab mendidik anak, apalagi masalah keseharian, juga kita bebankan pada beliau. Kuncinya tetap ada di orang tua. Semoga temen-temen yang baca, dimudahkan mendapat bala bantuan yang satu prinsip dalam mendidik anak ya.

Saya pun butuh dan ada ART, tapi saya juga ngga mau kepribadian anak jadi manja dan ngga disiplin karena hal tersebut. Karena menurut saya, anak sebagai manusia harus bisa mandiri dan memelihara dirinya sendiri sebagai tanggung jawab dia terhadap Allah.

Jadi, kalau MbakNai habis main, saya akan ajak dia bebersih. Bukan berarti memaksa juga, kan namanya anak tiga tahun. Kadang dia mau, kadang engga. Saya pun kadang pakai kata “Yuuk dibersihiin” atau “Mbak, kita bersihin sama-sama, yuk.”

Kira-kira dia lebih mau yang mana?

Iya, yang kedua, yang dikerjain sama-sama. Soalnya kalau pakai yang pertama, dia kadang udah bisa jawab “Ibuk aja ah” (idiih, pinternyaaa)

Dan itu suka saya singgung juga, “Ayo dong, MbakNai kan anak yang bertanggung jawab. Kalau habis main, kita tanggung jawab bersihin yaa. Kan kita mau masuk surga sama-samaa.” Iya, jadi memang sempet ada momen saya menanamkan perihal Islam, Allah, dan surga. Dan betapa pentingnya jadi orang baik sebagai umat Islam. Termasuk, menjadi orang yang bertanggung jawab, atau bahasa Arabnya: amanah. Ini kan termasuk sifat Rasulullah yang harus kita contoh.

Balik lagi ke kamar berantakan tadi dan MbakNai yang menagih janji, Ibuk pun sempet marah. Ibuk bilang. “Mbak, ayo MbakNai bersihin dulu kamarnya (iya, saya ngga ngajak soalnya saya lagi gendong DekHan yang menangis dan saya cape banget). MbakNai kan habis main, ayo bertanggung jawab.” Lalu, MbakNai pun berdalih dan ngga langsung dikerjakan (Nah kapan-kapan saya mau sharing juga ya pentingnya kepatuhan anak kepada orang tua. Kalau dibahas sekarang, bakal panjang juga, ngga selesai-selesai ini tulisannya padahal saya masih harus kejar deadline lain wkwk). Dalih MbakNai adalah sepupunya yang ngajak main, harusnya dia dong yang bersihin (pinter juga ini anak ngelesnya).

Saya pun menjelaskan, balik ke materi tentang pentingnya bersama-sama mengajak ke kebaikan (ada di Surat Al Ashr, saya pernah bahas ini sama Nai pakai modul dari Alkindikids). Sepupu MbakNai kan belum tau, jadi MbakNai harus ingatkan yang baik seperti apa. Dan MbakNai ngga boleh menyalahkan orang lain begitu, sesama muslim harus saling menyayangi. Gitu deh kira-kira ya, Ibuk kasih tau MbakNai. Ibuk pun juga mengajak MbakNai memikirkan konsekuensi logis untuk kondisi saat ini.

Apakah MbakNai bermain di kamar? (betul Ibuk)
Apakah bermain di kamar boleh? (di keluarga kami, ada beberapa peraturan. Karena ini di rumah orang lain, jadi tidak boleh hehe)
Apakah bermain lalu tidak dibereskan itu perbuatan baik? (cencu cydac)
Kalau tidak baik, apa MbakNai merasa bersalah? (yes, Alhamdulillah cencu sajha)
Jika bersalah, apa yang harus dilakukan? (minta maaf)
Setelah minta maaf, kita harus apa? (bertanggung jawab atas kesalahan kita)

Dan Ibuk akhirnya bahas tentang hak dan kewajiban. Bahwa kewajiban MbakNai saat ini adalah bertanggung jawab atas perbuatan MbakNai. Hak akan Ibuk tunaikan jika MbakNai sudah membereskan kewajiban.

MbakNai pun setuju. Ibuk pun ikut beres-beres pas di akhir, pas DekHan udah ngga nangis. MbakNai pun senang karena Ibuk ikut dia beberes. Kita pun akhirnya senang, saling meminta maaf (pas sebelum mau bobo, ini ritual banget sih, selain Ibuk mengucapkan terima kasih dan rasa sayang dan berpelukan bersamo), dan MbakNai dapet haknya untuk nonton video.

Selain itu, yang sering Ibuk terapkan di keseharian melalui hak dan kewajiban, adalah mandi, makan dan tidur. Itu kewajiban MbakNai saat ini. Hak MbakNai salah satunya adalah nonton video (sekali sehari 30 menit, itu juga di bawah pengawasan Ibuk. Kalau ada yg ngga baik, Ibuk bilang, “itu contoh yang ngga baik ya Mbak, jangan ditiru” atau “MbakNai sedih ya nonton itu, kok mukanya sedih?” Emang Ibuknya aja yang suka komentar ini mahhh). Setelah sebelumnya bangun fondasi bikin kesepakatan, misalnya kalau di tempat kami sesimpel: MbakNai boleh nonton kalau sudah makan, mandi dan habis itu tidur siang. Setelah kebiasaan itu terbangun, Ibuk akhirnya pakai kata-kata hak dan kewajiban.

Kalau dia minta nonton, Ibuk bilang, “MbakNai sudah mengerjakan kewajibannya MbakNai belum?”

Kalau dia bingung, Ibuk pun berdialog sama MbakNai, apa saja kewajiban dia. Apa hak dia. Alhamdulillah anaknya udah bisa diajak dialog. Dialognya pun sesimpel pertanyaan logis kaya contoh di atas tadi, yang jawabannya singkat-singkat. Atau bisa yang jawabannya yes-no. Kalau dia bingung, bisa dipancing pakai ejaan dari jawaban yang benar misalnya: “baik atau tidak baik? TIDAK BAA…??? IIIKKK” Jangan lupa diulang-ulang juga karena anak belajarnya itu dari mengulang hehe.

Hal ini pun bisa diterapkan kalau MbakNai nggamau makan. Ibuk katakan bahwa badan MbakNai berhak atas makanan, dan MbakNai punya tanggung jawab sekaligus kewajiban untuk memenuhi hal tersebut. Dia suka masih males sih, jadi Ibuk biasanya pakai roleplay, Ibuk jadi perut MbakNai yang menangis karena kelaparan, hehe.

Harapannya, kalau konsep hak dan kewajiban ini insyaa Allaah tertanam, penanaman nilai-nilai Rukun Islam dan Rukun Iman, juga implementasinya jadi lebih mudah nantinya. Sekarang, untuk kewajiban umat muslim masih Ibuk sampaikan melalui cerita, keseharian, dan materi audio (alias Ibuk ngobrol dan Ibuknya yang baca buku wkwk).

Bismillah, semoga share ini berkah dan bermanfaat ya buat temen-temen semua. Doakan semoga MbakNai dan DekHan menjadi anak-anak yang shalihah. Ibuk dan Abahnya juga bisa mempertanggungjawabkan amanah anak-anak ini nanti di hadapan Allah. Aamiin.

PS: Edit tambahan.
Setelah Ibuk kontemplasi singkat sembari baca paper (halah ini mah ngga fokus we), Ibuk sepatutnya introspeksi juga dalam hal mendidik anak-anak selama ini.

Kalau anak pinter ngeles, apa mungkin Ibuk juga melakukan hal yang sama selama ini ketika berkomunikasi dengan Abah atau orang-orang sekitar Ibuk sehingga dia belajar begitu?

Kalau anak menyalahkan orang lain, apa mungkin Ibuk juga pernah atau bahkan sering menyalahkan orang lain sehingga MbakNai belajar dan mencontoh hal tersebut?

Alhamdulillah, sebuah masukan. Semoga Ibuk juga bisa memperbaiki diri lebih baik lagi.