Malam ini, saya lagi asik diskusi dengan seorang teman, perihal kehidupan pekerjaan ya. Saya sih, awalnya curhat lagi sakit hati karena baru saja saya menerima sikap yang kurang menyenangkan. Pun teman saya tersebut juga baru saja beberapa kali berturut-turut mendapatkan perilaku yang sama dari orang-orang di sekitarnya.

Somehow, saya jadi mikir, kenapa seseorang bisa berubah perilaku dan bersikap tidak menyenangkan terhadap orang lain? Apakah hal ini dapat menjadi landasan untuk kita menilai orang tersebut: orang tersebut baik atau tidak? Well, tapi berhubung saya berusaha melatih otak saya untuk berpikir positif, saya mencoba berpikir mungkin beliau juga sedang dalam tekanan yang tinggi. Mungkin beliau sedang capek. Mungkin tuntutan pekerjaan beliau cukup banyak.

But is it understandable though to use those reasons to be rude to people?

Sesungguhnya saya masih ragu untuk bisa mengabaikan perasaan negatif yang disebabkan oleh kurangnya toleransi orang terhadap kita. Saya seakan merutuki diri saya yang mengganggu standar orang lain tersebut. Mengapa saya tidak bisa menjadi menyenangkan? Seakan tanggung jawab untuk menyenangkan semua orang itu adalah tanggung jawab saya. Padahal kan, nyatanya tidak.

Kita memang ngga bisa mengendalikan apa yang orang lain lakukan atau bicarakan pada kita, tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri setidaknya. Begitu salah satu pesan penting dari suami saya, yang juga saya dapatkan dari ibu mertua saya, bahwa kita yang menentukan sendiri apa yang ingin kita rasakan. Pun kalau perasaan itu ada, kita juga yang memutuskan, apakah kita mau berkubang pada perasaan itu atau tidak.

Sayang banget, kalau saya harus fokus pada hal-hal yang menyakitkan itu. Karena saya tahu, saya punya nilai atas diri sendiri yang jauh lebih baik dari apa yang mereka katakan. Pun jika apa yang mereka katakan itu benar, bukankah akan lebih baik jika saya terima dengan ikhlas, meminta maaf, lalu saya tingkatkan kualitas diri saya pelan-pelan? Bahwa mungkin kualitas diri ini bukan hanya perihal ranah profesional. Tapi juga, kualitas diri sebagai manusia.

Seperti: sejauh apa saya bisa menoleransi orang lain?

Kejadian dua tiga minggu terakhir memang terasa surreal. Keadaan saya begitu sempit menghimpit, terasa berat karena saya dan suami dinyatakan positif COVID-19, suami harus isolasi di RS karena gejala beliau, sedangkan saya harus isolasi bersama dua anak balita karena mereka belum bisa ditinggal. Di tengah rasa sakit dari gejala yang saya alami, saya masih harus kuliah malam selama seminggu setelah saya dinyatakan positif.

Tapi bersamaan dengan hal itu, Allah memberikan kemudahan. Profesor tempat saya kuliah memahami kondisi saya. Dosen-dosen yang sedang bekerja bareng saya pun mengizinkan saya off dulu dari pekerjaan. Anak-anak sehat Alhamdulillah, aktif dan penuh semangat. Saya dapat satu permohonan terkabulkan: pengen liburan di rumah asing, bersantai ngga ngapa-ngapain (ya tetep ngurus anak sih tapi Alhamdulillah ngga perlu masak).

Belum lagi, ternyata di tengah-tengah itu semua, Allah menunjukkan self worth yang harus saya canangkan dalam hidup saya. For the first time in my life, someone and the others (in a professional field) finally appreciate me as a student mom. Di tengah saya galau, lanjut PhD ngga padahal ada anak dua masih butuh banyak perhatian? They reach me out personally and symphatize.

“I’m a mom too, I definitely know your struggle.”

Berasa dapet support group gitu, sangat encouraging.

Belum akhirnya in the end of the program, saya dapat reward as the extraordinary participant. Karena terlepas dari kondisi yang menghimpit, saya masih mau berjuang. The professor said “That’s the real entrepreneurship spirit right there.” Intrapreneurship gitu kali ya prof, jiwa saya tuh. Alhamdulillah.

Last photo session on TUM IWS 2021

Rasanya dukungan dari Allah ini mengimbas banget ke rasa percaya diri saya, setelah beberapa bulan terakhir merasa stuck dan ngga semangat untuk menyelesaikan sekolah, karena birokrasi yang berbelit. Motivasi saya dulu sekedar “pengen cepet-cepet main full sama anak-anak.” Tapi rupanya, Allah menunjukkan diri saya yang sebenarnya, tentang peran saya bukan hanya menjadi ibu, tapi menjadi manusia dengan mimpi-mimpi yang insyaa Allaah akan diberi kemudahan untuk menjalaninya.

Karena saya rasa, perjuangan saya ini bukan hanya perihal “cepet-cepet lulus”, tapi saya masih menyimpan idealisme dalam dada untuk terus belajar, tentang apa yang ingin saya pelajari. Dan akan sangat egois jika saya menyerah dengan alasan “anak-anak”. Anak-anak akan selalu meminta saya mendampingi mereka, saya pun akan selalu punya mimpi itu. Sehingga yang perlu saya lakukan adalah menata diri sendiri agar mampu menjalani keseluruhan peran tersebut.

Nyatanya, memang transisi antara wanita single menjadi istri, kemudian istri menjadi ibu, adalah sesuatu yang sangat sulit. Sering saya jumpai, teman-teman saya yang dulu sangat aktif mengejar mimpi dengan produktivitas tinggi, akhirnya mengalami tekanan batin ketika menjadi ibu. Saya juga sempat mengalami hal itu! Identitas menjadi luruh, merasa bahwa diri sendiri sudah menghilang, tergantikan oleh identitas sebagai ibu.

Terasa memang ya, dulu perasaan kerjaan bisa selesai dalam waktu sehari. Tapi kenapa pas punya anak, mau fokus aja susah? Lalu lama-lama pekerjaan menumpuk dan tidak terselesaikan? Kita pun merutuki keadaan, ah karena aku ngurus anak seharian!

Tapi sadar ngga, bahwa anak akan selalu menjadi anak, they will never understand what we’ve done, dan dia akan selalu menjadi prioritas kita (if we want to)? Ini bukan perihal anak menjadi alasan, justru anak menjadi sebuah tamparan bahwa tanggung jawab kita bertambah! Ini bukan tentang menjadi tidak produktif dalam hal pekerjaan, tapi justru kita produktif dalam menomorsatukan keluarga.

Sempat saya merasa saya harus menanggalkan keseluruhan cita-cita untuk memenuhi hak-hak anggota keluarga yang lain. Saya pikir hal itu adalah sebuah pengorbanan, yang selama ini saya impikan: ibu dengan pengorbanannya. Namun rupanya, pengorbanan itu bukanlah tentang pengorbanan mimpi. Tapi pengorbanan waktu dan tenaga, bahwa seorang ibu mampu menjadi dirinya secara utuh tanpa mencopot titelnya sebagai ibu penuh waktu.

Saya pun belajar, lama sekali saya belajar, bahwa keluarga, terutama anak-anak, bukanlah sebuah barrier. Mereka ngga akan pernah menjadi penghalang antara saya dan mimpi saya, justru mereka adalah jembatan antara saya dengan diri saya yang baru. Setelah mengalami punya anak, kerja, sekolah, dua anak, pandemi, saya sadar bahwa ternyata saya diberikan kemampuan yang lebih dari yang saya tahu untuk bisa berkontribusi secara lebih pada lingkungan sekitar. Yang saya perlu lakukan adalah terus berusaha, dan berdoa. Dan tentu, semua itu adalah campur tangan Allah, ngga mungkin saya melakukan semua itu sendirian.

Ini semua hanya tentang sebuah persepsi, yang harus kita yakini.

So, here’s to all women in the world, you all are worth it. Know your own worth, kamu bukan “cuma ibu rumah tangga” tapi kamu “seorang ibu rumah tangga.” You should be proud! Teruntuk para ibu WFH dengan segala kerempongannya. You survive! Ngga ada yang namanya “full time mom” karena semua ibu adalah full time mom!

Bu, dengan menyuapi anakmu, kamu berkontribusi dalam kelangsungan hidup generasi berikutnya. Dengan menggendong anakmu dan menyusuinya, kamu sedang melakukan tanggung jawabmu yang nantinya akan dipertanyakan Allah di akhir hidup nanti. Dengan ikut meeting sambil ditangisi anak, artinya anakmu menyadari kehadiranmu sebagai hal penting dalam hidupnya.

In the end of the day, seluruh ucapan yang merendahkanmu, pikiranmu yang merendahkan dirimu sendiri, akan kalah dengan kebahagiaan yang kamu rasakan atas kata-kata “Ibu, aku sayang Ibu” dan permintaan kruntelan di atas kasur bersama anak-anakmu..

Semangat ya Ibu, semua butuh proses, termasuk proses menjadi diri sendiri. Bukan kamu yang menghilang, tapi kamu hanya butuh menemukan dirimu sendiri. Pasti sulit, tapi bukan berarti ngga mungkin. Anak-anak juga pasti mengerti, “Nak, Ibu juga belum tahu caranya, yuk kita belajar sama-sama..”