Bisa dibilang, perjalanan lanjut kuliah lagi bagi saya itu bukan hal yang mudah. Sejak 2014, lulus Sarjana, saya menginginkan kesempatan untuk bisa lanjut Magister. Di luar negeri tentu saja. Alasannya? Tentu menuntut ilmunya bukan jadi hal yang utama. Tinggal di luar negerinya yang menjadi target.

Makanya, mungkin di tahun-tahun tersebut saya kebingungan mencari jurusan yang ingin saya selami. Sistem Informasi? Development Studies? Social Innovation? Mengingat saya menyukai kuliah saya di S1 yaitu Sistem Teknologi Informasi, jadi mungkin ambil IS lanjutan adalah hal yang tepat. Tapi kok ngoding? Saya ga suka ngoding. Tapi disuka-sukainlah demi tinggal di luar. Daftar LPDP dengan incaran Carnegie Mellon University. LPDP pun gagal.

Kala itu LPDP masih memperbolehkan daftar berkali-kali di setiap kesempatan, bahkan satu tahun masih dibuka empat kesempatan. Mereka masih mencari banyak talenta untuk disekolahkan lagi. Kali ini, berbekal LoA University of Manchester di tangan, saya coba lagi. Jurusannya ICT for Development. Lagi-lagi gagal.

Tahun tersebut, 2015, keluar pengumuman bahwa penolakan LPDP maksimal dua kali. Saya pun tahu bahwa saya tidak akan bisa mendaftar LPDP lagi.

Tapi saya tidak menyerah. Saya daftar banyak sekali universitas dan beasiswa di berbagai negara. Berbagai LoA saya kantongi, mulai dari Lund University, Stockholm University (di dua tahun yang berbeda, karena Swedia punya satu sistem yang mengatur pendaftaran universitas, jadi pelamar hanya bisa mengantongi satu LoA), University of Melbourne, Leiden University, apalagi lupa. Beasiswa pun saya jajal, Chevening, Swedish Institute, Australian Awards, Fulbright, Erasmus Mundus. Semua perjalanan itu mewarnai kehidupan saya di tahun 2015-2017. Dan di masa-masa itu juga, saya dipinang, menikah, menemani suami sekolah di Manchester, hamil, dan melahirkan. Meski ada beberapa beasiswa yang berlanjut, namun tetap akhirnya gagal di tengah jalan.

Apa yang salah? Sudah tiga tahun saya berusaha, tapi tidak pernah lolos. Apa yang kurang? Entahlah. Mungkin saya terlalu yakin dengan kemampuan saya yang sedang saja. Mungkin saya terlalu sombong dengan diri sendiri. Keinginan untuk bisa sekolah di luar negeri pun terlihat begitu jauh.

Suami menyemangati. Ayo masih bisa. Masih bisa tahun depan. Atau dua tahun lagi. Atau tiga tahun lagi. Beliau melihat mimpi saya ini sebagai salah satu bagian dari hidup saya, yang akan membuat saya hancur jika tidak tercapai. Saya merasa gagal, hanya karena tidak sekolah di luar negeri.

Kami pun berdiskusi. Suami masih ingin mencari pengalaman bekerja, karena ingin melanjutkan pekerjaan formal jika saya ingin sekolah lagi. Karir suami pun sedang menanjak. Anak juga masih kecil. Saya pun membulatkan tekad, “Ya sudah Mas, aku sekolah di ITB saja.”

Tahun 2018 awal, kami pun menyiapkan berkas. Bertemu mantan dosen pembimbing kami. Menyampaikan niat ingin lanjut S2 Teknik Informatika ITB. Menemui mantan atasan saya juga, meminta surat rekomendasi. Ambil tes TOEFL lagi, kali ini dengan TPA. Alhamdulillah, semua beres, termasuk ikut ujian tertulisnya. Dan diterima untuk masuk di tahun ajaran 2018.

Qadarullah, suami melanjutkan karirnya di perusahaan impiannya (Sungguh, ini cerita yang lebih ga masuk diakal manusia tentang bagaimana Allah menetapkan takdir-Nya). Beliau ditarik ke Jakarta selama 2-3 bulan untuk mendapatkan pembekalan. LDR bukan jadi opsi bagi kami, saya pun menunda kuliah saya ke semester berikutnya, Januari 2019, dengan cara memberitahu pihak ITB dan membayar penundaan. Berharap, selesai ikut suami, saya bisa langsung kuliah.

Bulan November 2018, saya mulai menghubungi pihak registrasi ITB. Ternyata ada masalah. Saya lupa persisnya apa, umumnya tentang administrasi. Suami pun riweuh, sampai datang ke rektorat. Namun, apa daya, tidak ada fleksibilitas, kelengkapan perkuliahan saya dinyatakan gugur dan tidak bisa kuliah di semester tersebut. Lagipula, kata pihak rektorat, S2 IF ITB tidak menerima mahasiswa baru di semester genap. Jika saya masih ingin lanjut kuliah, saya harus mendaftar dari awal. Laa hawla walaa quwwata illa billaah.

Saya pun kecewa. Malas juga harus mengulang semua dari awal. Suami ga berputus asa, masih menyemangati saya kala itu. Tapi, saya sudah terlanjur pundung. Hahaha.

“Ah Mas, mungkin ini kode Allah, buat nemenin Naira yang masih kecil.” Betul, Naira masih berumur satu tahun.

Saya pun mencari cara lain untuk membuat saya aktif. Saya mendaftar magang di salah satu perusahaan paling progresif di Bandung. Ini pun cerita lain lagi, sangat menarik, proses perjalanan mencari jati diri. Semoga ada waktunya untuk dibahas di lain waktu.

Sampai akhirnya, Mei 2019, karena satu dan lain hal, saya sedang browsing tentang perkuliahan bisnis di Indonesia. Lagi-lagi takdir Allah, saya menemukan kata “Management of Technology Laboratory” ketika membuka website SBM ITB. Apalagi ini? Ternyata SBM memiliki dua jenis jurusan Magister, selain MBA, ada pula MSM: Master of Science in Management. Mereka memiliki kelompok keahlian Entrepreneurship and Technology Management.

Lah, ini dia yang saya cari-cari! Jurusan yang meliputi seluruh ketertarikan saya. Mencarinya di luar negeri saja cukup sulit, ternyata di Bandung juga ada. Alhamdulillah, saya pun segera membereskan berkas dalam waktu seminggu. Alhamdulillah pakai berkas bekas daftar S2 IF tahun lalu. Alhamdulillah lancar prosesnya. Lalu saya tinggalkan dia, tidak saya harap-harap lagi. Lagi asyik membersamai Naira.

Pengumuman di bulan Juni atau Juli 2019, saya diterima! Mulai kuliah Agustus, kami pun segera bersiap menyiapkan Nai untuk masuk daycare. Hati rasanya beraat sekali, ga siap meninggalkan dia.

Qadarullah, apa ini ya Allah, saya hamil? Kami tahu di saat yang bersamaan setelah sudah bayar uang semesteran. Masyaa Allaah. Rasanya sudah berat ya Allah, meninggalkan anak di usianya yang belum genap dua tahun. Ditambah lagi amanah baru dari-Mu, yaitu janin di perut hamba ini. Dan amanah lain-Mu, yang mengizinkan hamba kali ini bisa sekolah lagi…setelah Kau tunda permohonan ini selama lima tahun…

Bulan Agustus-September 2019 itu terasa begitu berat. Saya dan Naira menangis tiap hari. Naira yang harus ke daycare, juga harus disapih karena ASI sudah seret di saat hamil. Dia terlihat sangat stres. Berat badannya turun sebanyak dua kg selama tiga bulan terakhir. Kami pun memeriksakan Nai selama beberapa bulan, dan akhirnya ketahuan di bulan November 2019 Nai menjalani pengobatan Tuberkolosis (TBC) Paru sampai sekarang.

Hari-hari itu terasa sangat berat. Berulang kali saya mohon ke suami untuk berhenti kuliah. Mau di rumah saja dengan Nai. Tapi suami diam saja. Kenapa dingin sekali? Suami hanya diam dan bersikap tenang, itu salah satu cara beliau memang untuk menghadapi saya yang suka riweuh dengan pikiran saya sendiri.

Bulan Oktober, Nai mulai betah di daycare. Saya mulai enjoy kuliah. Saya mulai mensyukuri pilihan suami untuk kekeuh saya berkuliah. Ketika saya tanya, beliau pun menjawab, “Aku tahu kamu sama Nai butuh proses adaptasi. Sebulan kurang lebih.” Dan memang, betul perkiraan suami. Memang tepat untuk mengikuti imam di keluarga sebagai pengambil keputusan dengan pikiran yang jernih.

Dan rupanya, saya jatuh cinta berat dengan jurusan saya ini. Saya pikir dulu saya tidak akan menemukan pekerjaan yang saya cintai selain Product Manager. Di MSM ITB, saya menemukan kecocokan pikiran, hati dan hidup saya, sebagai researcher. Apalagi di bidang Innovation. Di mana bisnis dan teknologi menjadi satu. Dan Allah yang berbaik hati, mempertemukan saya dengan mentor-mentor yang saya hormati, yang mengajak saya untuk terlibat di berbagai riset dan proyek yang ada. Salah satu dari beliau malah menyarankan saya juga mempelajari ilmu baru: People and Knowledge Management yang ada hubungan erat dengan Innovation. Kata beliau, ini bisa jadi poin penting ketika mau lanjut PhD. Masyaa Allaah.

Dan di manakah saya bertemu mentor-mentor tersebut dan menjalankan riset? Management of Technology Laboratory! Iya, kalimat pertama yang ga sengaja saya baca di Mei 2019 itu!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Ga paham sama takdir Allah. Ga masuk di akal manusia. Lemah memang manusia dengan segala kemampuannya.

Berlanjut lagi, Maret 2020, kami menjalani Online Learning karena adanya pandemi. Padahal di bulan sebelumnya, saya menemui dosen satu per satu untuk meminta izin membawa bayi ke kampus. Bahkan galaunya gimana-bakal-ngurus-bayi-padahal-gabisa-cuti-karena-cuma-mahasiswa itu udah ada sejak bulan Oktober. Terus sama Allah tinggal satu jentikan aja, wuuusshh, taaraaa! Melahirkan di waktu awal pandemi, ketika RS sepi sekali (dan enak banget!), di awal online learning pula. Akhirnya bisa ikut kuliah sambil ngurus bayi di rumah. Ga cuma itu, bisa ngurus balita juga, karena daycare Nai tutup sampai sekarang. Ga cuma itu, dibantu suami sama adik juga, karena mereka juga kerja dan kuliah dari rumah.

Masyaa Allaah. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Lebih ga masuk di akal lagi kan?

Jadi, buat temen-temen yang nanya:
– Kok bisa kuliah sambil hamil?
– Kok bisa kuliah sambil ngurus anak?
– Kok bisa kuliah sambil ngurus dua anak?
Terutama buat para ibu muda yang ragu mau lanjut kuliah lagi..

Jawabannya adalah laa hawla walaa quwwata illa billah. Teman-teman yang dirahmati Allah, sesungguhnya kita ga punya kuasa apapun atas segala sesuatu. Kita ini lemah, udah akui aja. Kita bisa punya keinginan, tapi apa keinginan itu yang terbaik buat kita? Siapa tau, ternyata keinginanmu harus ditunda, digantikan, untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih berkah daripada sebelumnya..

Begitu pula dengan jalan hidup saya. Instead of kuliah di luar negeri, yang mungkin bergengsi, baik universitasnya, tempat hidupnya, beasiswanya, pengalamannya, rupanya Allah jauuuuh lebih ridho dengan saya yang kuliah, sambil nemenin suami dan karirnya (dan side project-nya), sambil hamil dan melahirkan, sambil menemani tumbuh kembang mereka. Kok kuat? Ya engga kuat saya mah, yang ngasih kekuatan Allah. Hahaha.

Saya juga bingung, kok bisa? Mana MSM kuliahnya itu ga main-main, tiap ujian ada kali bikin paper. Beraat banget. Tapi Masyaa Allaah, bener deh, fa inna ma’al usri yusroo, sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. Serahkan semua pada Allah ta’ala. Cuma Dia yang mampu.

Sungguh, saya sendiri masih belum ada apa-apanya. Banyak saya lihat dan perhatikan, teman-teman lain, tauladan-tauladan lain, yang bahkan bisa juggling aktivitasnya dengan lebih fasih, baik itu di internal maupun eksternal keluarga, menjadikan mereka panutan dalam produktivitas rasanya menjadi lebih ringan. Berasa ada teman gitu (padahal banyak yang ga kenal) hahaha.

Pun banyak teman-teman yang ragu, ketika sudah menikah, apalagi sudah punya anak, untuk bisa berkarya lagi, entah dengan kuliah lagi atau apapun. Teman-teman yang dirahmati Allah, semoga dimudahkan jalannya, diyakinkan niatnya. Memang ga mudah, tapi insya Allah worth it. Apalagi kalau yang dicari ridho Allah, pastiiii akan dimudahkan entah gimana caranya. Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti, mungkin digantikan dengan yang lebih baik. Kita mah hamba, kita gatau, Allah yang lebih tau. Yang penting, berusaha semaksimal mungkin untuk itu.

Rencana ke depan, Alhamdulillah, semester pendek ini online learning masih berlanjut. Masih bisa membersamai anak-anak di rumah. Semester depan, Insyaa Allaah tinggal tesis saja. Program dari sananya memang begitu. Doakan ya, semoga sama dosen pembimbing diperbolehkan menggunakan data yang sudah ada. Jadi bisa sambil kerja dari rumah. Tapi, kalaupun gabisa, semoga Allah mudahkan apapun keputusan di masa depan.

Meski di dunia ini, saya bukan siapa-siapa, tapi jujur saya mendamba surga. Mungkin, beginilah cara-cara yang Allah atur agar saya berkesempatan berusaha. Saya rasa, memang Allah maunya gini, siapa tau ini jalan menuju ke sana, ya ga? Aamiin ya Mujibassailin.