Gampang banget ya, kalau mau mengungkapkan perasaan kita pake Bahasa Inggris.

“I Love You.”

Tapi kalau pakai Bahasa Indonesia, bisa aneh dan awkward gitu. Artinya juga bisa macem-macem.

“Aku cinta kamu.” “Aku mencintaimu.” “Aku sayang kamu.” “Aku menyayangimu.”

Saya inget banget, dulu zaman awal-awal nikah sama Paksu (Pak Suami), kami mencoba mengklasifikasikan pernyataan itu ke beberapa tingkat. Paksu beranggapan, perasaan sayang itu jauh lebih tulus dan dalam dibandingkan rasa cinta. Sedangkan menurut saya, cinta itu perasaan yang paling tinggi tingkatannya dibandingkan perasaan sayang, apalagi perasaan yang lain.

Argumentasi Paksu waktu itu, seperti perasaan Ibu ke anaknya, perasaan itu digambarkan dengan perasaan sayang. Sedangkan cinta… bukan ungkapan perasaan yang tepat untuk itu. Hal itu membuat saya menyadari bahwa menurut Paksu, perasaan manusia yang paling dalam untuk digambarkan adalah perasaan Ibu ke anak.

Sedangkan saya yang masih cupu banget waktu itu (sekarang juga masih sih, mau evolve kaya gimana juga, Paksu terlalu keren di matakuh), belum tau penggambaran apa yang paling mantap ketika membicarakan perasaan manusia. Ketika itu, hal yang sedang saya alami dan sejauh itu baru perasaan saya ke beliau (ciyeh!), maka saya gambarkan dengan perasaan cinta.

Beliau tidak pernah setuju dengan hal itu. Hal di mana perasaan paling tinggi itu cinta. Beliau masih tetap pendirian dengan perasaan sayang yang paling dalam. Pun saya tidak pernah bermaksud mengganti pandangan beliau. Yah, diskusi just for fun waktu itu mah.

Sampai akhirnya, kita kembali ke hari ini.

Nai tengah tertidur dengan gayanya tersendiri. Mata bulatnya menutup sempurna, dengan pipi ke mana-mana karena tertekan ke arah kasur. Rambut tipisnya yang tumbuh memanjang mulai meliuk sehingga tampak seperti sayap di atas telinga. Seperti biasa, dia tengkurap dengan sedikit miring ke arah saya. Dia memang suka tertidur mengambil area seluas-luasnya, pun kami tidak pernah keberatan dengan hal itu.

Dan saya merasakan perasaan itu lagi, perasaan yang jauuuh berbeda dari sebelum-sebelumnya, perasaan yang muncul ketika saya bertemu dengan Nai.

Perasaan yang begitu dalam. Begitu besar. BegituĀ sayang…

Ada beberapa orang yang sempat bilang ke saya, “Duh, kayanya punya anak repot ya,” atau “Aku bingung deh ngadepin anak kecil tuh, kagok soalnya aku ga suka anak kecil.”

Saya selalu ngomong ke mereka, “Percayalah, nanti punya anak sendiri itu beda rasanya..”

Dan tentu saja saat itu mereka masih belum percaya.

Tapi, perasaan yang kita alami ke anak itu sungguh perasaan yang sangat berbeda. Bukan seperti perasaan kita ke orang tua atau ke pasangan kita. Perasaan itu jauh lebih dalam dan sangat sulit diungkapkan.

Seperti kamu mau melakukan apapun untuknya agar dia bisa terus bahagia.

Tidak hanya itu, kamu juga rela mengorbankan apapun untuknya agar kamu bisa melihat senyumnya.

Dan wajahnya ketika terlelap sungguh membuatmu terhanyut…

Senyumnya pun membuatmu melarut…

Setiap pencapaian yang dia dapatkan adalah kebahagiaanmu juga. Alih-alih biasa, kamu pun ikut menangis terharu. Karena dulu dia begitu kecil, hanya dapat tertidur dan menangis, lalu perlahan dia terus tumbuh dan belajar. Dan tempat belajarnya itu kamu.

Kamu sering mengesampingkan dirimu sendiri demi kepentingannya. Kamu tidak tega melihat dia bersedih. Setiap kebutuhannya ingin kamu penuhi.

Kedengaran seperti perasaan kita ke pasangan ya? Entahlah, tapi saya merasakan hal yang berbeda. Lagipula, perasaan kita ke pasangan akan terus termodifikasi berdasarkan pengalaman hidup dan waktu…

Ah, tapi menurut saya penjelasan di atas masih belum cukup menggambarkan perasaan sayang ini. Perasaan yang membuat saya sangat bahagia setiap harinya. Perasaan yang membuat saya terus memikirkannya dan merindukannya ketika kami terpisah. Perasaan ingin terus memeluk, merengkuh, mencium, dan terus berkata, “Nai, Ibu sayang sekali sama Nai. Nai harus tau itu, ya.”

Terima kasih banyak, ya Allah, atas karunia ini. Semoga Kau izinkan kami mendapatkan banyak kesempatan untuk terus merasakan kebahagiaan ini. Dan terus menapaki jalan lurus-Mu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sekarang saya jadi paham seperti apa itu perasaan sayang yang mungkin akan terus sama hingga akhir usia saya nanti…

 

PS:

Dan apakah kalian tahu?

Perasaan Allah pada hamba-Nya sering dijelaskan sebagai perasaan ibu pada anaknya. Setidaknya, agar kita lebih mudah untuk membayangkan. Tapi tentu saja, perasaan Allah pada hamba-Nya itu jauuuh lebih besar lagi. Ibu ke anak saja sudah pengasih, penyayang dan mudah memaafkan, apalagi Allah. Dia begitu Maha Pengasih, Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Untuk setiap kesalahan kita, kekhilafan kita, jika kita mau meminta ampunan-Nya, Allah tidak pernah ragu untuk memberi kita kesempatan baru.

Meskipun sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa membalas semua perasaan dan kebaikan yang Allah berikan, tapi semoga kita mampu membalas perasaan itu dengan cara terus menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Agar kita bisa masuk ke jajaran hamba-hamba-Nya yang sholih(ah) di hari akhir nanti.