Setelah sekian lama saya off sosial media – but it’s not totally off, saya deactivate Instagram, ga pernah buka Twitter selain buat share promo, dan hanya follow grup penting di Facebook sehingga timeline tidak terkotori – saya kembali aktif di Instagram buat jualan.

Beberapa hari pertama saya jualan via WhatsApp, kemudian seorang teman menyarankan saya untuk kembali ke Instagram dan menawarkan dagangan saya. Tentu itu ide yang bagus! Saya pun kembali masuk ke Instagram, aktif di akun saya sebelumnya, juga menciptakan akun baru khusus untuk berdagang.

And that’s when I realized..

Hampir dua tahun menghilang, teman-teman saya berubah! Well, setidaknya timeline Instagram mereka. Postingan Instagram mereka tentu dipenuhi dengan hal-hal yang terlihat a e s t h e t i c dan menyenangkan – hal-hal yang mereka anggap indah dan mereka sukai. Makanan, travelling, foto berduaan dengan patjar. Instastory mereka pun tentang hal-hal kecil yang menurut mereka perlu dibagikan, yang menarik untuk dikomentari.

Yang saya sulit untuk bisa mengerti.

Mungkin karena sudah sekian lama saya tidak pernah menyentuh sosial media lagi? Ada banyak hal yang selama ini ingin saya bagikan, namun terbang bersama waktu – alias saya tidak berusaha membagikannya lewat sosial media. Pun kebahagiaan yang saya rasakan saat ini terasa sangat personal: tawa Naira, pelukannya; senyum Mas ketika pulang kerja, rasa rindu ketika ditinggal dinas ke luar kota; waktu di mana mereka sama-sama membutuhkan saya; hal-hal yang mungkin sulit diungkapkan dengan kata-kata, atau foto, yang sulit untuk membuat orang mengerti kebahagiaan yang saya rasakan itu.

I changed, didn’t I?

Ya, bukan teman-teman saya yang berubah. Saya rasa mereka tetap sama. Tapi saya yang telah berubah. Sometimes I felt the distance dan saya selalu merasa “ah, saya ditinggalkan..” but not at all, apparently, I left.

Dan mungkin itulah yang dirasakan oleh teman-teman dekat saya terdahulu, ketika saya memutuskan untuk hijrah, menikah, meninggalkan pekerjaan saya yang cemerlang, memilih untuk tinggal di rumah, mengurus anak dan suami secara penuh, dan akhirnya sekarang memilih berdagang sebagai pekerjaan paruh waktu. This is not you! Banyak dari mereka yang terkejut mendapati saya begitu berbeda.

Do I miss my old self?

Yang mungkin jika saya tidak memutuskan untuk menikah, saya akan memilih kebahagiaan yang sama seperti yang dipilih teman-teman saya saat ini: travelling, membeli barang kesukaan, makan enak, hangout, sekolah lagi sampai tinggi, mengejar karir. I would stay the same old me. Mungkin?

Tapi, pilihan ini bukan hal yang akan saya ambil jika saya diberi kesempatan untuk mengulang waktu. I would choose the same. Saya akan tetap menjadi diri saya yang sekarang ini. Karena ada satu hal yang tidak akan pernah saya dapatkan jika saya tetap menjadi diri saya yang dulu…

…ketenangan.

Ketenangan tidak akan pernah terbeli.

Dan saya menjadi lebih fokus untuk memikirkan apa yang ingin saya lakukan di hidup ini. Ingin menjadi manusia yang seperti apakah saya.

Dari sekian banyak mimpi dan keinginan yang terus saya kejar jatuh bangun selama lima tahun terakhir, ternyata banyak sekali keinginan yang fana. Yang hanya muncul karena rasa ingin di permukaan, terbawa oleh suasana. Satu yang pasti tidak pernah berubah setelah saya terus mencarinya adalah..

..menjadi orang yang bermanfaat.

Saya tidak tahu sampai batas apa besarnya orang yang bermanfaat itu. Tapi, menurut saya pribadi, menjadi istri dan ibu sendiri sudah sangat minimal setidaknya bagi saya bermanfaat untuk orang-orang terdekat. Bahkan kamu, jika kamu mau, dengan bekerja dan beraktivitas pun kamu tetap bisa bermanfaat. Hanya saja bagi saya saat ini, kehidupan saya dipenuhi oleh keluarga. Alhamdulillah ini amanah saya. Mungkin amanah kamu saat ini adalah pekerjaanmu. Sehingga minimalnya saya dan kamu saat ini adalah menjaga amanah ini.

Saat itu, ketika saya tengah berkontemplasi tentang hidup, ketika saya tengah mempertanyakan sungguh-sungguh apa yang saya inginkan di masa depan, ternyata ada hal yang lebih besar dari saya sendiri yang inginkan di masa depan. Amal jariyah.

Konsepnya adalah bahwa amal yang kita perbuat selama ini sifatnya hanya menambal dosa-dosa yang dilakukan selama ini pula. Sehingga mungkin ketika mati nanti, tabungan amal itu tidak sebesar itu untuk membawa kita ke surga. Maka, salah satu cara untuk menambahnya adalah dengan amal jariyah.

Dan menjadi orang yang bermanfaat: saya sendiri ingin membuka lapangan pekerjaan, membangun sekolah dan rumah sakit, memberdayakan perempuan, mendidik generasi…ah ada banyak sekali mimpi saya untuk bisa menebarkan manfaat. Maka hal yang bisa saya lakukan saat ini adalah dengan berdagang. Harapannya dagangan ini bisa terus berkembang sehingga satu demi satu mimpi saya bisa terwujud.

And yes, I love my present.

Mungkin sebagian besar orang tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana berada di posisi saya saat ini. Ibu rumah tangga. But actually, I learned a lot. Too many that I don’t deserve.

Banyak sekali traits diri sendiri yang saya benci di awal saya hijrah. Bahwa diri saya yang dulu memiliki kekurangan-kekurangan yang sangat menyulitkan untuk saya bergerak saat ini. Dan menjadi istri, serta ibu bagi anak saya dan beberapa orang lain, benar-benar mengasah kepribadian saya. I feel so different…ketenangan yang tidak akan pernah saya punyai jika saya mengambil jalan yang berbeda.

Saya tidak meminta semua orang untuk bisa menerima saya yang berubah. It’s okay to be weirded out. I’ve changed so much after all. Saya sangat bisa menerima perasaan itu.

Meski sesungguhnya, saya sangat ingin sekali bisa berhubungan dengan teman-teman dekat saya di masa lalu, yang mungkin saat ini sudah terasa sangat jauh. Pun mereka tidak bisa disalahkan, because years has past and it’s normal to change. Yang berubah tidak hanya saya, mereka juga. Dan kadang perubahan itu ke arah yang berbeda.

Alhamdulillah, masih ada lingkaran pertemanan yang saat ini saya berada di dalamnya dan terasa menyehatkan. Insya Allah ada jalannya.

Even if we are meant to be met again, we’ll meet eventually.