Tidak terasa sudah kurang lebih 6 bulan semenjak hari pertama saya bekerja sebagai Product Manager. Jika menengok kebelakang, sebenarnya saya sempat menimang diantara 2 pilhan jalur dalam berkarir, yang pertama adalah melanjutkan pekerjaan di bidang Digital Marketing atau pilihan yang kedua yakni membelokan sedikit arah karir saya ke Product Manager. Setelah sempat bingung, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Product Manager setelah berkonsultasi dan diyakinkan oleh salah satu senior saya, Wisnu Adityo (Currently PM at Moka Pos) atau yang biasa saya panggil Kak Cus.

Sebagai PM, saat itu saya berfikir bahwa pengalaman saya di bidang Digital Marketing akan sangat membantu karena PM akan banyak berkomunikasi dengan Marketing. Demikian pula dengan kuliah S2 saya di bidang Innovation Management yang walaupun lebih fokus ke Product Development di corporate, tapi masih ada ilmu yang bisa saya ambil untuk diterapkan di Startup company. Fast forward 6 bulan kemudian, saya merasa bahwa keputusan yang saya ambil merupakan keputusan yang tepat karena saya menikmati pekerjaan yang saya lakukan. It’s not 100% perfect, but it’s good enough for me.

Saya membuat tulisan ini karena beberapa hal. Pertama, saya ingin merefleksi apa yang telah saya pelajari selama 6 bulan pertama menjadi seorang Product Manager. Kedua, saya ingin menyumbang perspektif tentang dunia Product Management dari seorang yang masih hijau di dunia PM yang mungkin memiliki sudut pandang yang mungkin berbeda dengan teman-teman yang sudah lama berkutat di dunia PM. Terakhir, saya ingin meninggalkan artefak yang bisa saya kunjungi beberapa tahun lagi untuk mengingat masa-masa ketika saya masih hijau di dunia PM.

What does a Product Manager do?

Menjawab apakah jobdesc Product Manager itu seperti menjawab apakah homeschooling itu pilihan yang terbaik, jawabannya tergantung. Product Manager itu sebuah pekerjaan dengan scope tugas yang luas sehingga setiap orang bisa memiliki penjelasan yang berbeda tentang jobdecs seorang PM tergantung dari pengalaman yang ia miliki.

How most people describe PM (© 2011 Martin Eriksson Martin Eriksson.)

Ada satu diagram yang sering digunakan untuk menggambarkan skill set yang perlu dimiliki oleh seorang PM, yakni persilangan antara UI/UX, Business, dan juga Technology. Dengan berlandaskan pada diagram tersebut, maka idealnya seorang PM harus memiliki pengetahuan di ketiga bidang tersebut. Akan tetapi, meskipun diagram tersebut bisa digunakan untuk menjelaskan scope pekerjaan PM, diagram tersebut merupakan sebuah generalisasi yang tidak bisa selalu dijadikan sebagai patokan. Sebagai contoh, dalam buku Cracking the PM Interview disebutkan bahwa skillset yang dimilki oleh PM di Apple sangat berbeda dengan skillset yang dimiliki oleh PM di Amazon. Apple cenderung mencari PM yang kuat secara technical capabilites, sedangkan Amazon cenderung mencari PM yang kuat secara bisnis.

Salah seorang teman saya yang telah bekerja sebagai PM selama lebih dari 3 tahun juga menjelaskan bahwa PM itu berada di antara 2 dunia, yakni bisnis dan teknologi. Ada PM yang kuat di bidang bisnis, tapi ada juga PM yang kuat di bidang teknologi dimana masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Semuanya kembali ke bagaimana sebuah perusahaan mengatur proses pengembangan dari sebuah produk.

Penjelasan lain tentang jobdesc PM datang dari Sachin Rekhi, ex Head of Product di Linkedin yang dalam presentasinya menjelaskan bahwa  “Product Managers drive the vision, strategy, design, execution of their product“. Jika merujuk pada penjelasan tersebut, berarti bisa diketahui bahwa paling tidak seorang PM harus memilki kemampuan di 4 aspek yakni visi, strategi, desain dan eksekusi.

Further reading:

1. What is Product Management, exactly? (Wisnu Adityo)

2. What, exactly, is a Product Manager? (Martin Eriksson via Mind the Product)

How to learn as PM

Sebelum menjadi seorang PM, pengalaman saya dalam pengembangan produk sangatlah terbatas. Saya pernah mencoba untuk membuat startup ketika kuliah, tapi kemudian disudahi bahkan sebelum launching. Disamping itu, saya hanya berpengalaman membuat web ecommerce dengan menggunakan wordpress yang menurut saya tidak bisa dikatakan sebagai product development. Oleh karena itu, ketika saya akhirnya diterima menjadi PM di Prelo, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menambah wawasan saya tentang PM dengan membaca buku dan bertanya kepada teman-teman saya yang sudah menjadi PM.

Read

Books for PM

Saya tipe orang yang suka membaca dan karena sebelumnya saya sudah berfikir untuk menjadi PM, sehingga saya sudah memiliki banyak stock buku yang berkaitan dengan Product Management. Beberapa buku yang sudah saya baca antara lain:

1, Inspired : How to Create Products Customers Love : Buku ini ditulis oleh Marty Cagan, ex PM di eBay dan juga founder dari Sillicon Vallery Product Group. Saya mengetahui buku ini dari Istri saya (yang kebetulan pernah bekerja sebagai PM) karena buku ini merupakan buku wajib yang harus dibaca oleh setiap PM yang bekerja di tempat Istri saya dulu. Secara general, konten buku ini dibagi menjadi 3 topik utama, yakni People, Product, Process dan ditambah dengan 1 topik tambahan mengenai Culture. Bagi yang ingin membaca rangkuman buku ini silahkan membaca tulisan dari Rizkah Shalihah yang sekarang sedang menjalani internship sebagai PM di Amartha.

2. Cracking the PM Interview : Buku direkomendasikan oleh 2 orang teman saya yang sudah bekerja sebagai PM. Terlihat dari judulnya, buku ini mengupas seluk beluk proses hiring seorang Product Manager mulai dari tipe-tipe product manager yang dicari oleh perusahaan, cara membuat resume dan cover letter yang baik, hingga belajar tentang teknis algorritma. Saya pribadi melihat buku ini sebagai career guide seorang PM yang cocok digunakan oleh orang yang ingin menjadi PM ataupun sudah menjadi PM.

Jika 2 buku pertama yang saya baca mempunyai topik yang general, 2 buku selanjutnya lebih membahas mengenai hal yang spesifik.

3. Sprint: How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days ( Jake Knapp dan Braden Kowitz dari Google Ventures) membahas tentang validasi ide. Premise yang ditawarkan oleh buku ini adalah bagaimana sebuah perusahaan bisa mengujicoba sebuah ide besar hanya dalam waktu 5 hari, yang dimulai dari problem statement dan diakhiri dengan user testing. Dari ujicoba tersebut, perusahaan akan mendapatkan kesimpulan apakah ide yang akan dibuat sudah sesuai dengan keinginan user atau belum. Ujicoba ide sangat penting untuk dilaksanakan karena tahap tersebut merupakan tahap paling awal dalam pengembangan produk dimana cost masih sangat rendah. Ketika produk sudah di implementasi dan kemudian kita baru menyadari bahwa produk tersebut tidak sesuai dengan keinginan user, maka cost untuk merubahnya akan naik berkali-kali liipat.

4. Scrum: The Art of Doing Twice the Work in Half the Time. Sebagai buku yang ditulis oleh salah satu co-creator dari Scrum, buku ini banyak membahas mengenai filosofi dari kelahiran Scrum serta prinsip-prinsip dalam eksekusi metode Scrum itu sendiri. Sebagai contoh, kegiatan restropective dalam Scrum diambil dari metode PDCA (Plan, Do, Check, Action) dari Toyota dengan tujuan untuk selalu memperbaiki proses development yang telah berlangsung.

Selain dari buku, saya juga suka membaca blog yang berkaitan dengan product management dan bisnis. Beberapa website yang menjadi langganan saya antara lain: mindtheproduct, noteworthy journal, serta blog milik andrew chen.

Listen

Podcasts for PM

Karena saya suka mendengarkan podcast, saya mulai mencari-cari Podcast tentang product management ketika menjadi PM. Diantara banyak Podcast yang saya dengarkan, beberapa yang menurut saya enak untuk didengarkan dan isinya berbobot antara lain :

1. Inside intercomm : Rekomendasi dari salah satu member di group MVP ITB, Podcast produksi dari Intercomm ini berisikan interview dengan marketer, designer, product manager atau expert lain dari dunia startup yang banyak memberikan insight tentang bagaimana cara mereka bekerja.

2. Ground Up : Berisikan  cerita tentang pengalaman membangun sebuah startup, mulai dari strategi yang ditempuh hingga permasalahan yang dihadapi. Disamping itu, podcast ini juga sering membahas tentang practical tips yang bisa langsung dieksekusi seperti pada episode “Accelerating Growth with Comarketing” dan “How to Partner with other Firms”.

3. The Produt Podcast : Berbeda dengan Podcast pada umumnya yang memiliki format interview, Podcast produksi dari Product School ini berisikan rekaman presentasi dari pembicara pada event Product School. Salah satu perbedaan yang paling kerasa adalah kurangnya interaktifitas seperti yang biasa dirasakan di podcast lain. Walaupun demikian, The Product Podcast memilki kualitas yang tinggi dari segi konten sehingga kelemahanya bisa tertutupi. Salah satu episode rekomendasi saya yakni “First 90 Days as a New Product”

Ask

Selain membaca buku, hal lain yang saya lakukan adalah bertanya, kebetulan saya memiliki beberapa teman yang telah lebih dulu menjadi PM. Topik utama dari pertanyaan saya adalah mengenai managemen organisasi dan proses development di perusahaan tempat teman saya bekerja. Pertanyaan ini saya ajukan karena Prelo baru saja merubah proses development sehingga kita masih mencari proses dev yang paling efektif dan efisien. Dari pertanyaan tersebutlah saya memahami bahwa ada banyak model proses development, seperti misalnya Bukalapak yang banyak mengadopsi sistem Tribe yang digunakan oleh Spotify.

 

My Experience So Far

Berikut ini adalah cerita pengalaman saya setelah menjadi PM selama 6 bulan di Prelo. Seperti yang saya tuliskan di awal, pengalaman yang saya ceritakan di bawah ini belum tentu juga dialami oleh PM yang lain. Mungkin ada beberapa aspek yang sama, tapi ada juga aspek yang berbeda. Sebagai informasi tambahan, sebagai PM di Prelo, saya bekerja dalam 1 tim bersama dengan 1 iOS Dev, 1 Android Dev,1 Back End, 1 Front End dan 1 UI/UX Designer.

Adaptation

Hal yang pertama kali saya lakukan setelah masuk menjadi PM adalah mencoba memahami sistem development di Prelo. Aspek ini mencakup tugas dan tanggung jawab PM, relasi PM dengan divisi lain, tools yang digunakan, metode riset, dan yang terpenting terkait dengan pemahaman produk.

Diantara berbagai aspek tersebut, hal yang hingga saat ini masih sering memberikan saya kejutan adalah aspek produk. Hal ini dikarenakan sebagai Marketplace, ada banyak sekali fungsi yang dimliki oleh Prelo sehingga beberapa kali saya menemukan fitur yang sebelumnya tidak saya ketahui. Saya sendiri menganggap ini sebagai sesuatu yang wajar karena saya akan menghabiskan waktu jika harus mempelajari semua fitur tersebut di awal. Lebih baik saya mempelajari fitur-fitur yang ada sambil jalan, oleh karena itu saya sangat sering bertanya kepada PM yang sudah lama di Prelo untuk mengkonfirmasi jika ada fitur baru yang saya temukan.

Feature Prioritization

Prioritisasi merupakan salah satu pekerjaan utama PM karena terbatasnya sumber daya yang di miliki. Di dunia yang ideal, semua fitur yang diinginkan oleh semua stakeholder bisa dikerjaan oleh engineer dan selesai tepat waktu. Akan tetapi, kita hidup di dunia yang tidak ideal, dengan sumber daya engineer yang terbatas. Oleh karena itu, pertanyaan penting yang harus dijawab oleh PM adalah fitur mana yang harus kita dirilis terlebih dahulu?

Dalam menentukan fitur mana yang akan dirilis terlebih dahulu, kita menggunakan beberapa metric yang akan memberikan penilian terhadap daftar fitur yang akan dibuat, seperti tingkat kesulitan, seberapa besar pengaruh ke GMV, atau seberapa penting fitur tersebut akan bermanfaat untuk user. Fitur yang mendapatkan nilai tertinggi akan masuk dalam backlog yang akan dikerjakan di sprint selanjutnya.

Feature prioritization ini nantinya akan sangat terkait dengan backlog management. Fitur-fitur yang tidak masuk dalam sprint akan dipindah ke backlog yang akan masuk dalam pembahasan di feature prioritization selanjutnya. Dalam backlog management, akan terdapat fitur yang pada akhirnya masuk ke archive karena sudah berkali-kali tidak masuk dalam prioritas. FItur yang masuk dalam archive tidak berarti tidak akan dikembangkan, archive digunakan dengan tujuan agar backlog fitur lebih bersih dan lebih fokus.

Product Research dan User Testing

Sebelum merilis sebuah produk atau fitur, salah satu hal yang menjadi pertanyaan PM adalah “Bagaimana kita tahu bahwa produk/fitur yang akan kita buat sesuai dengan keinginan user?“. Hal ini dikarenakan ada banyak sekali kemungkinan yang dapat kita pilih dalam mengembahkan sebuah fitur, mulai dari sistem bisnis, operasional, hingga alur interaksi. Sebagai PM, tugas kita adalah memastikan bahwa fitur yang kita kembangkan memiliki kombinasi yang terbaik diantara aspek-aspek tersebut dan untuk mencapai hal itu, maka kita memerlukan Product Research.

Di Prelo, kita menggunakan Google Design Sprint (GDS) sebagai framework dasar untuk product research dengan berbagai penyesuaian sesuai dengan kondisi tim. Beberapa hal yang dilakukan selama product research antara lain mencari tahu bagaimana implementasi fitur yang akan dibuat di produk lain (jika sudah ada) sehingga kita bisa membandingkan solusi yang sudah ada, membuat prototype berdasarkan solusi yang telah dirancang, hingga kemudian melakukan user test untuk proses validasi. Dari product research inilah nantinya kisa bisa mengetahui apakah fitur/produk yang akan kita buat telah sesuai dengan kebutuhan user atau belum.

Scrum

Ketika saya masuk ke Prelo, ada perubahan yang terjadi di komposisi tim dev yang mengakibatkan sistem dev juga berubah. Sebelum saya masuk ke Prelo, Prelo hanya memiliki satu tim dev karena hanya ada 1 service yang dikembangkan. Tetapi setelah Prelo mengembangkan Sewa dan Jastip, jumlah tim dev bertambah 1 lagi dengan pembagian tanggung jawab berdasarkan service.

Prelo baru menggunakan Scrum setelah terdapat 2 tim dev untuk memudahkan proses dev dan koordinasi. Setiap Sprint berlangsung selama 2 minggu dengan output berupa update aplikasi versi terbaru. Untuk tim Sewa dan Jastip, sprint untuk setiap service akan dilakukan secara bergantian sehingga jika di Sprint sekarang mengerjakan task untuk Sewa, maka di Sprint selanjutnya akan mengerjakan task Jastip. Karena Scrum merupakan metode yang baru diimplementasi di Prelo, saya sebagai PM baru dan anggota dev yang lama sama-sama baru belajar how to run scrum the right way dengan selalu melakukan evaluasi.

Salah satu output dari evaluasi yang kita lakukan adalah memperpanjang waktu sprint dari 2 minggu menjadi 3 minggu. Salah satu pertimbangannya adalah dengan memperpanjang sprint menjadi 3 minggu, ada banyak task yang bisa diselesaikan oleh tim Sewa dan Jastip sehingga tidak perlu menunggu sprint Sewa/Jatip berikutnya yang masih lama karena harus menunggu sprint selanjutnya selesai.

Quality Assurance

Sebagai PM di Prelo, salah satu job-desk saya adalah memastikan bahwa aplikasi yang dirilis dalam kondisi ‘bug free’. Saya memberikan petik dalam bug-free karena pada dasarnya hampir tidak mungkin merilis sebuah produk yang bug free. Walaupun demikian, kita bisa berusaha untuk meminimalisir jumlah bug yang ada dengan melakukan testing sebelum aplikasi dirilis.

Ada banyak hal yang saya pelajari ketika menjalankan QA test, seperti cara membuat test case, apa itu regression test, hingga pentingnya legacy user. Mengenai pentingnya legacy user, saya mendapatkan pengalaman berharga ketika perbaikan yang baru saja dirilis justu membuat user lama tidak bisa melakukan action yang diinginkan.

Ketika melakukan QA testing, saya tidak hanya melakukan test berdasarkan test case yang dibuat, namun juga test secara random karena justru seringkali saya menemukan bug untuk task-task random yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan QA yang baik sangat diperlukan kesabaran dan ketelitian.

Release

Masa-masa rilis itu campuran antara senang dan khawatir. Senang karena akhirnya kita bisa memberikan fitur baru ke user dengan harapan user menjadi lebih puas, khawatir karena bisa saja ada bug baru yang muncul atau jika fitur baru yang dirilis ternyata kurang disambut dengan baik oleh user.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dari Prelo ketika rilis adalah mengkoordinasi kerja dari 2 tim dev untuk memastikan bahwa tidak ada kode yang konflik ketika digabungkan. Oleh karena itu, rilis harus direncanakan dengan baik agar bisa dirilis tepat waktu dengan memberikan waktu QA yang cukup.

Sebenarnya rilis sebuah fitur itu bisa dibagi menjadi 2 tipe, yakni rilis backend dan rilis frontend. Rilis frontend itu maksudnya kode untuk fitur terbaru sudah ada di aplikasi, tetapi fitur itu bisa tidak dimunculkan hingga backend memutuskan untuk merilis fitur tersebut. Salah satu contohnya adalah ketika Bukalapak mengadakan flash sale. Sebenarnya fitur flash sale itu sudah ada di aplikasi Bukalapak jauh hari sebelum flash sale dilaksanakan, akan tetapi fitur itu baru dinyalakan di hari ketika flash sale dimulai.

Rilis juga bisa dilakukan dengan bertahap alias tidak semua user bisa langsung mendapatkan aplikasi versi terbaru, misalkan dimulai dari 10% user, kemudian naik menjadi 30%, hingga akhirnya100%. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu apabila ada bug krusial sehingga bug tersebut bisa diperbaiki ketika orang yang menggunakan masih aplikasi versi terbaru masih sedikit.

Data

Data adalah elemen krusial dalam membuat sebuah keputusan. Ketiadaan data dalam proses pengambilan keputusan akan menurunkan tingkat akurasi dari keputusan yang dibuat.

Sebagai contoh, misalkan pada suatu waktu jumlah transaksi harian yang terjadi turun secara drastis. Secara otomatis, kita akan mencoba mencari tahu mengapa jumlah transaksi tersebut menurun. Apakah ada bug dari deployment terakh? Apakah ada update terbaru dari third party provider? Akan ada bank hipotesis yang dibuat untuk menentukan apakah penyebab dari masalah tersebut.

Selanjutnya, pertanyaan yang muncul adalah diantara semua hipotesis yang sudah dibuat, hipotesis manakah yang benar? Di tahap inilah data menjadi penting. Data digunakan untuk memvalidasi hipotesis yang telah dibuat sehingga sumber permasalahan bisa ditemukan. Ketika sumber permasalahan ditemukan, maka kita mulai bisa menyusun solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Coba bayangkan apabila kita tidak memiliki data apapun, maka akan sulit nutuk mengetahui secara pasti penyebab dari sebuah masalah. Dan jika kita salah mendeteksi penyebab dari sebuah masalah, maka secanggih apapun solusi yang kita rancang tidak akan menyelesaikan masalah tersebut.

Agar bisa mendapatkan data yang kita inginkan untuk membuat sebuah keputusan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendefinisikan hal-hal yang perlu masuk dalam tracking. Biasanya hal ini terkait dengan event analytics karena tidal semua event yang dilakukan user akan masuk dalam tracking. Setelah definisi dibuat, hal selanjutnya yang dilakukan adalah memasang tracker dan memastikan akurasi data dari tracker.

Walaupun dua hal terlihat mudah jika diatas jika dilihat secara sekilas, namun implementasinya jauh lebih sulit. Ada beberapa waktu dimana saya menemukan bahwa data yang saya inginkan ternyata belum masuk tracking atau ternyata ada kesalahan dalam instalasi tracking sehingga event yang misalkan hanya terjadi sekali terdeteksi sebanyak 2 kali.

Sebagai PM, kita memang tidak memiliki kewajiban untuk dapat menjalankan query dan mengolah data karena itu adalah tugas Data Analyst. Akan tetapi berdasarkan pengalaman saya, kemampuan itu sangatlah penting untuk mempercepat proses kerja kita.

Seringkali dalam proses research, kita perlu melakukan pengolahan data sederhana yang jika tugas itu diberikan kepada Data Analyst, biasanya akan cukup memakan waktu karena ada banyak request yang harus mereka kerjakan. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan kepada PM untuk belajar query-query dasar sehingga ketika sedang ngulik data dan mencari sesuatu, kita bisa mendapatkannya dengan cepat.

Selain itu, dengan kemampuan mengolah data, kita bisa mencari apapun yang kita mau tanpa harus bergantung kepada orang lain. Percayalah, kamu akan mendapatkan hal-hal menarik dari ngulik-ngulik data.

Penutup

Demikianlah pengelaman saya setelah bekerja selama 6 bulan sebagai PM di Prelo. Sebagai catatan, seperti yang telah saya tuliskan di bagian awal, pengalaman yang dirasakan oleh PM itu berbeda-beda di tiap perusahaan tergantung dari company size, business type, hingga organizational sturcture sehingga apa yang saya rasakan mungkin berbeda dengan yang dirasakan oleh PM yang lain. Oleh karena itu, jangan menggunakan tulisan ini sebagai satu-satu sumber untuk mencari tahu tentang apa itu PM, ada banyak tulisan lain yang bisa memberikan gambaran yang lebih luas tentang pekerjaan PM.

Oh ya, jika ada pertanyaan atau ada referensi tulisan/podcast/video/buku bagus yang bisa jadi referensi untuk mengenal lebih jauh tentang dunia PM, jangan sungkan-sungkan untuk tulis di komentar ya agar kita sama-sama belaar. Thanks all, see you on my next post! 🙂