Selama ini saya menilai kegiatan menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Saya dapat mengungkapkan apa yang saya pikirkan, dan tentunya saya harap dapat bermanfaat bagi orang lain. Meski apa yang saya tuliskan masih belum memberikan manfaat sebanyak apa yang suami saya bagikan lewat tulisan. Tulisan saya masih banyak yang didasari pengalaman personal sehingga kadang terlampau personal – tidak semua orang dapat memahami perasaan yang ingin saya bagikan.

Saya mulai menulis sejak di bangku SD. Itu pun menulis jurnal. Saya masih punya tumpukan buku jurnal saya di rumah yang saya tulis hingga akhir tahun SMA. Oh, bahkan kuliah saya masih mengandalkan tulisan tangan di kertas untuk mencatat apa yang saya rasakan.

Namun akhirnya saya mengenal tumblr di akhir pendidikan SMA. Saya mulai menulis di situ hingga saya menikah dan beralih ke website ini. Sungguh, tumblr milik saya itu penuh dengan tulisan yang beraneka rupa. Mulai dari kegalauan masa muda, hingga fiksi yang sempat saya abadikan dalam tagar #365tulisan.

Tidak perlu susah-susah mencarinya di Google, karena kabar baiknya, alamat tumblr tersebut masih saya gunakan. Namun tulisan-tulisan di sepanjang masa muda saya itu sudah saya hapus.

Iya, saya sempat menulis fiksi. Tepatnya flash fiction. Karena tulisan yang biasanya saya tuliskan itu tidak sepanjang cerpen. Lebih pendek lagi. Ide yang saya miliki dan saya tuangkan ke tulisan bukan ide yang mengenal awal dan akhir di jangka waktu cerita yang panjang. Lebih ke arah cuplikan singkat.

Dan reaksinya waktu itu lumayan. Entah kenapa saya jarang menuliskan cerita yang berakhir bahagia; hampir semua temanya darkthriller, psycho dan sad ending. Mungkin saya terlalu lama menenggak pahitnya kehidupan.

Pun kegalauan masa muda tentu saya tuliskan penuh merah jambu. Tulisan-tulisan unyu yang meminta agar sang pujaan hati mengalihkan pandangan. Aih, begitu noraknya. Ini pun sempat berjaya pada zamannya. Banyak yang menilai baik.

Namun, setelah menikah alias tidak pernah galau lagi, akhirnya saya off untuk menulis cerita dengan tema seperti di atas. Pun saya kemudian terjebak dengan rutinitas sehingga tidak pernah meluangkan waktu untuk berimajinasi dan menuangkannya sebagai tulisan. Ide yang muncul di kepala saya kebanyakan tentang kontemplasi hidup; pertanyaan-pertanyaan dasar filosofi yang meminta untuk didiskusikan di dalam pikiran.

Sebenarnya tema kontemplasi ini pun sudah sering saya tuliskan sejak saya kecil. Saya ingat di balik cerita unyu-unyu di jurnal dan tumblr itu, saya sering membahas tentang kuasa Tuhan. Ketika masa muda menyerang, tentu pertanyaan tentang kehidupan selalu terlintas tanpa henti dalam pikiran saya, yang seringnya saya tuang dalam tulisan.

Tapi, saya merasa belum bisa mengkomunikasikan isi pikiran saya dengan baik dalam tulisan. Maksudnya, untuk tema sebesar kontemplasi, yang saya tuliskan masih terlalu di permukaan dan bertele-tele. Bahkan kadang loncat bab. Meski kata seorang teman saya, tulisan saya memiliki target tersendiri di masyarakat. Bukan pecinta filosofis dalam, tentunya. Lebih ke anak muda dan para pecinta hijrah.

Di perjalanan, saya memutuskan untuk mencoba belajar banyak tentang kepenulisan ini. Salah satunya dengan mengikuti kelas menulis. Dan menggabungkan diri dalam komunitas menulis sehingga saya lebih terpacu untuk bisa konsistensi dalam aktivitas kepenulisan.

Ya, fokus saya saat ini masih dalam konsistensi.

Pun saya juga berharap dari konsistensi ini dapat berkembang ke arah perbaikan kualitas tulisan saya. Saya masih merasa cupu dalam hal kualitas tulisan dan pengembangan ide. Semoga dengan rajin menulis, saya bisa memperbaikinya perlahan

Selain itu, saya juga ingin nantinya bisa ahli dalam menulis. Dan tentunya untuk menjadi ahli, dibutuhkan jam terbang yang tinggi. Harapannya dengan konsistensi yang stabil, saya bisa mengejar untuk mendapatkan 10,000 jam selama lima tahun ke depan.

Kelas menulis yang saya ikuti pertama kali adalah kelas menulis cerita anak. Waktu itu saya berharap saya dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi anak-anak. Karena saya pikir, melalui tulisan saya ingin bisa ikut berkontribusi dalam mengembangkan akhlak dan moral generasi penerus.

Dan memang metode dan cara menulis cerita anak dan dewasa itu sangat berbeda. Salah satunya, anak-anak membutuhkan kata-kata sederhana dan kalimat serta paragraf yang pendek agar mudah dicerna. Saya pun banyak berlatih untuk bisa menghasilkan cerita anak yang baik. Akibatnya, gaya tulisan saya secara keseluruhan pun ikut berubah.

Ketika adik perempuan saya datang ke rumah, dan saya minta pendapatnya mengenai beberapa tulisan saya, baik cerita anak maupun dewasa, dia pun beranggapan: kalimat yang saya rangkai terlalu pendek, dan ide cerita anak terlalu berat.

Wow, sungguh masukan yang baik. Sekaligus membuat saya bingung. Jalur kepenulisan mana yang harus saya tekuni?

Mungkin saya masih membutuhkan banyak waktu di depan sana untuk berusaha mengeksplorasi dan meneliti mana yang baik untuk saya. Saya juga berharap mendapat masukan dari teman-teman sekitar.

Oh ya, kabar terbaru soal kepenulisan ini adalah..

Alhamdulillah saya sanggup konsisten menulis dalam komunitas ODOP di caturwulan pertama kemarin. Saya lanjut mengambil kelas kepenulisan Free Writing bersama Hernowo Hasim, penulis buku Free Writing dan banyak buku lainnya sekaligus salah satu jajaran petinggi Mizan. Semoga nanti ada waktu dan kesempatan untuk saya membagikan cerita mengenai kelas ini.

Saya juga berhasil menerbitkan Wonderful Ramadhan (masih ada stok) lewat Wonderland Publisher (penerbit indie) dan Semarak Idul Fitri (yang sedang buka PO) lewat Ziyad (penerbit mayor). Semuanya masih berupa antologi karena saya masih ingin terus berlatih dulu. Pun ada beberapa tulisan yang masih dalam perjalanan untuk terbit.

Ingin sekali rasanya suatu saat nanti bisa menerbitkan buku yang bermanfaat bagi banyak orang. Tapi saya sendiri masih belum tahu ke arah mana gaya, target pasar dan genre kepenulisan saya ini akan melangkah. Semoga saya segera mendapatkan pencerahan.