Hidup adalah pilihan.

Ketika orang-orang mulai menjadikan quote ini sebagai kiblat, bahwa hidup kita adalah hasil dari pilihan kita sendiri. Bahwa hidup kita adalah tentang memilih, selalu memilih. Bahwa setiap satu pilihan akan membuka pintu pilihan lainnya.

Pernah ga sih, kepikiran, bahwa pilihan yang tersedia di depan kita pun sebenarnya dipilihkan?

Mungkin ada ratusan, bahkan ribuan pilihan yang mungkin terjadi di hidup kita, tapi akhirnya sudah dikerucutkan menjadi tiga pilihan oleh Sang Pencipta. Kita hanya diminta memilih satu dari tiga pilihan tersebut.

Dan sesungguhnya pengerucutan itu adalah hasil dari usaha kita selama ini. Usaha kita dalam menempuh kehidupan. Apakah sudah cukup pantas untuk mendapatkan tiga pilihan skenario terbaik dalam hidup, atau justru mendapatkan tiga pilihan skenario terburuk.

Entahlah, itu baik atau buruk dilihat dari mana. Karena sesungguhnya ketika kita sudah memberikan sebaik-baiknya kemampuan yang kita miliki, maka semua akan menjadi skenario terbaik bukan? Karena sesungguhnya lagi, berangkat dari pengerucutan itu, kita pinta lagi pada Sang Pencipta untuk memilihkan satu skenario terbaik-Nya untuk kita.

Betapa mudahnya kehidupan ketika kita menyerahkan segala pilihan kepada Allah SWT dan tugas kita hanya berusaha sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya.

Saya pun ingin menjalani hidup yang seperti itu. Tanpa harus memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi di setiap pilihan yang ada. Berpikir tentang pro dan kontra; baik dan buruk; kelebihan dan kekurangan. Ketika hanya berfokus pada apa yang Allah senangi, dan yakin Dia akan memberikan yang paling baik untuk kita.

Tapi, sayangnya, dalam hati saya ini masih ada ego manusia. Ego duniawi. Yang terus bertabrakan dengan pandangan religi yang saya anut. Dan lama-lama saya merasa tersiksa sendiri, atas pilihan-pilihan dalam hidup yang saya pikir harus saya pilih sendiri.

Bukankah sebaiknya saya serahkan semua pada Yang Maha Kuasa dan minta untuk dipilihkan?

Karena sesungguhnya ketika kita merasa memiliki kuasa atas hidup kita sendiri dan merasa harus memilih untuk kita sendiri, kita akan tersiksa dengan realita yang ada setelahnya: ketika kita harus menjalani hidup atas nama kita sendiri. Padahal kita tidak berhak atas hal itu.

We own nothing in this world, even ourselves.

Saya ingin bisa mencapai level tersebut dalam menghadapi hidup: berserah diri seluruhnya.

Ketika manusia cukup tahu diri bahwa dia tidak memiliki apa pun di dunia ini, saya rasa manusia tidak akan serakus apa yang sering kita lihat di masa kini – manusia melakukan segala cara untuk memenuhi hawa nafsunya. Ketika manusia cukup tahu diri bahwa hidupnya bahkan bukan hidupnya, maka hidup pasti tidak akan semenyakitkan itu untuk dijalani.

Manusia tidak akan semudah itu untuk menggenggam dunia, memasukkan ke hatinya dan mengunci pintu hatinya agar dunia menjadi pusat dalam segala.

Saya harap saya bisa berhenti untuk rakus.

Karena berkat kerakusan ini, hati saya menjadi tidak tenang. Saya akan terus berambisi untuk bisa mencapai apa yang saya inginkan. Untuk terus berpikir bagaimana caranya menuju ke sana. Bahkan terus bertanya: apa yang benar-benar saya inginkan?

Yang mungkin keinginan saya itu tidak 100% murni niatannya untuk Allah SWT. Just for the sake of fun, maybe. Kadang keinginan itu yang mendominasi terlebih dahulu.

Ketika saya terlalu berfokus pada pilihan-pilihan di depan mata, tapi tidak punya keberanian untuk keluar dari opsi tersebut dan berpikir yang lain. Ketika saya terlalu berfokus untuk memilih, tapi tidak memberikan usaha versi terbaik saya sehingga akan dipilihkan secara otomatis yang terbaik. Ketika saya terlalu fokus untuk hidup, tapi tidak meminta pada Sang Khalik.

Saya ingin keluar dari kerakusan saya, dan mencoba hidup dalam kebaikan yang ada.

Yaitu berusaha sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya. Kemudian meminta agar dipilihkan yang terbaik.

But it’s pretty hard to stop wanting thingsisn’t it?

Di situlah, kendali menjadi yang utama.

Kendali.

Ah, kendali.

When life goes overwhelmed and it’s difficult to say calmWhen life gets complicated and it’s difficult to live in it. When life is life and we need to choose.

We should choose to control.

Hidup akan selalu menjadi hidup: penuh dengan pilihan. Hambatan hidup pun akan semakin banyak. Tantangan akan semakin besar. Kita seolah dilatih untuk meningkatkan kemampuan kita dalam berbagai hal lewat ujian dalam hidup.

Dan di saat itulah, kita semakin tertekan, terhimpit, terasing… Kita akan semakin menunjukkan apa yang benar-benar kita miliki… dan kadang lupa untuk mengendalikan diri kita sendiri.

Mungkin itu yang masih sangat kurang dalam diri saya: kemampuan untuk mengendalikan diri. Masih saja hati dan pikiran saya mengendalikan saya, bukan sebaliknya. It’s bad enough to continue with it.

Sehingga dari segala macam pilihan ini, saya harap saya bisa terus berusaha, mampu mengendalikan diri dan mampu untuk tenang. Menyerahkan segala keputusan pada Allah SWT.

Karena meski hidup adalah pilihan, kita tidak punya hak untuk mengepalainya. Kita hanya perlu menjalankan dengan sepenuh kemampuan kita.