Doa yang teman saya kirimkan ketika mengetahui saya bermaksud untuk mengubah diri dan berproses sesuai dengan anjuran Islam adalah, “Semoga istiqomah ya, Tika.” Ketika itu saya beranggapan bahwa kata istiqomah ini hanyalah sebuah basa basi default islami yang memang layak untuk dijadikan ucapan wajib di kala menanggapi fenomena proses mengubah diri bagi seseorang ke jalan Islam yang lebih baik. Jadi, setiap ada orang yang dulunya ga bekerudung trus jadi berkerudung, katakan saja semoga istiqomah. Atau ketika kerudungnya mulai panjang hingga menutup dada atau sampai ke perut, katakan padanya semoga istiqomah.

Istiqomah menjadi sesuatu yang mudah sekali dikatakan kepada orang yang berhijrah.

Namun apalah daya, bagi kami, orang-orang yang sedang dalam perjalanan menjadi lebih baik ini, istiqomah adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Ga cuma sulit ya, tapi sangat sulit.

Proses yang saya jalani sendiri, untuk mulai melangkahkan kaki di jalan hijrah bisa dikatakan cukup cepat. Saking cepatnya, tidak semua orang yang dekat dengan saya ini mampu menerima diri saya yang baru. Sampai teman saya yang menjadi tempat belajar saya pun berkata, “Pelan-pelan aja Tika, gausa buru-buru.” Karena memang kala itu, semuanya bagi saya terjadi begitu cepat: trigger utama datang, malamnya saya galau, memantapkan diri, meminta ampunan, mencoba memantaskan diri dengan cara memuridkan diri sendiri ke seorang teman yang lebih alim. Lusanya kami sudah masuk ke pertemuan pertama.

Dan lagi-lagi, urusan duniawi yang tidak dianjurkan agama dan saya masih lakukan saat itu, tiba-tiba semua menjadi big no buat saya. Tidak sampai sebulan, saya mencoba melepaskan semuanya. Dan benar-benar lurus mencoba mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Kalau saya boleh menceritakan pengalaman spiritual yang saya alami, memang semua terjadi begitu saja. Allah memang tiba-tiba membuka pintu hati saya dan memasukkan cahaya di dalamnya. Hati yang sudah lama dipenuhi dengan kegelapan, begitu hitam dan pekat. Jika hati yang suci ibarat kertas berwarna putih, hati saya sudah penuh dengan coretan tidak beraturan. Penuh dengan tinta warna hitam. Tintanya pun mblobor alias bocor sampai membasahi seluruh kertas.

Kata seorang teman, satu-satunya yang bisa dilakukan jika ingin mengembalikan kertas hitam itu kembali menjadi putih adalah terus berusaha membersihkan nodanya sedikit demi sedikit. Iya, karena yang sudah hitam itu memang akan sulit menjadi putih lagi. Yang bisa dilakukan adalah terus menerus melakukan kebaikan.

Terus menerus artinya ga boleh berhenti. Meski sedikit demi sedikit, yang penting terus berjalan. Tidak perlu harus tiba-tiba semua jadi baik karena memang nearly impossible to do that. Yang perlu dilakukan hanyalah terus berusaha. Allah yang akan menilai sisanya.

Mengubah perihal fisik memang cenderung lebih mudah. Misalnya, memakai kerudung, bagi yang belum berkerudung. Atau menggunakan baju yang tidak terbuka dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh, bagi yang masih menggunakan baju yang sebaliknya. Meski memang cenderung bukan berarti akan selalu, bisa jadi hal ini pun juga sulit bagi beberapa orang.

Mengubah hati apalagi. Sulit sekali. Masih ingat tinta yang sudah bocor membasahi kertas tadi? Hati yang hitam membuat saya merasa bahwa itulah saya. Sayalah hati yang hitam itu. Itulah kepribadian saya. Dan mengubah kepribadian yang sudah mendarah daging itu seperti mencoba mengangkat barbel seberat 200 kg pake satu tangan: berat.

Baca juga: Lillahi Ta’ala

Makanya, ketika ada suatu peristiwa buruk yang melanda, kemudian yang melakukan adalah Muslim dan berpakaian seperti layaknya anjuran Islam, netizen mulai melayangkan nyinyiran dahsyat, “ih kerudung lebar tapi sikapnya kaya begitu.” Kemudian apa jawabnya?

Islam itu selalu benar, manusia itu bisa salah. Penganut Islam memang tidak sesempurna Islam. Islam kan ajaran Allah dan dicontohkan oleh Rasul-nya. Umat-Nya sendiri berusaha semaksimal mungkin untuk menuju ke kesempurnaan itu, meski pada dasarnya manusia sendiri adalah lambang ketidaksempurnaan.

Banyak orang menuntut Muslim yang sudah terlihat sesempurna dengan ajaran Islam, akan seluruh jiwa dan raganya sesempurna ajaran Islam. Padahal kalau boleh saya bilang, hijrah itu susah bok! Ga semudah yang manusia pikirkan. Ini ga cuma tentang pakaian, tapi juga perilaku. Ga cuma tentang fisik, tapi juga batin.

Hijrah aja udah susah, gimana mau istiqomah?

Lingkungan masih besar sekali pengaruhnya. Ketika seorang perempuan sudah memantapkan diri memakai jilbab, lalu teman-temannya berkata, “kebawa sinetron ya?” atau “edisi Ramadhan nih?” atau “ah kerdus lo!” ketika si perempuan ini masih belum menjaga attitude meski sudah berkerudung dan dikatakan kerudung dusta.

Kemudian ketika perempuan itu mencoba mengurangi dalam menampakkan lekukan tubuh dengan menggunakan rok, lingkungan sekitarnya berkata, “emang ga susah naik motor?” atau “liat lo aja gue uda kepanasan jir” atau “ntar susah nyari kerja loh!” atau “ribet banget sih lo!”

Yah itu sebagian kecilnya. Dan masih awal dari perjalanan. Dan sebenarnya bisa saja kita tetap berjalan lurus ke depan tanpa mengindahkan mereka. Kuncinya: tutup aja kuping kita.

Sesungguhnya kita punya kendali besar atas lingkungan yang kita pilih. Kita bisa aja memilih untuk bertahan di lingkungan yang nyaman untuk diri kita saat itu, namun ternyata kurang mendukung kita untuk menjadi lebih baik. Atau kita bisa memilih buat mencari lingkungan lain yang akan selalu support kita dalam kebaikan, meski memang harus adaptasi di awal. Atau bisa aja kita memilih dua-duanya sebagai jalan dakwah.

Yang lebih sulit lagi adalah….

Ketika kita sudah (merasa) berhasil mengubah diri, baik fisik dan batin, sudah digembleng oleh Allah sedemikian rupa sehingga kita belajar dan terus belajar dan terus menerus melakukan kebaikan untuk diri kita dan orang lain. Ketika kita sudah memiliki rasa nyaman di dunia yang baru, yang kita percaya inilah dunia yang akan membantu kita untuk mencapai surga-Nya. Ketika kita sudah menjadi who we are dan siap menempuh berbagai hal di masa depan untuk fokus dalam Islam-Nya..

Then we met those people who only knew about who we were.

Dan mereka ga peduli tentang siapa kita sekarang, baik fisik maupun batin. Kemudian mereka hanya mengingat kita tentang masa lalu kita. Dan kita jadi terbawa suasana.

Karena kendali tidak serta merta hanya diucap tanpa dilakukan. Tidak hanya perihal lingkungan, tapi juga kendali atas kesadaran diri kita sendiri. Kendali atas indera kita, kendali atas batiniah kita. Kendali untuk memaafkan, baik tentang situasi, orang lain, dan diri sendiri. Kendali untuk menerima.

Astaghfirullah hal adzim, jangan sampai kita lepas kendali.

Kendali untuk bisa terus istiqomah dalam jalan yang sudah kita mantapkan dari awal.

Baca juga: Menjadi Perempuan Shalehah

Tak bermanfaat pun untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan tentang kita. Apa yang mereka pikirkan tentang kita. Apa yang mereka ingat tentang kita. Kita tidak akan pernah bisa mengendalikan apa yang manusia lain lakukan tentang kita. Dan usaha untuk melakukan itu pun jarang berbuah manis.

Pun tak perlu mengklarifikasi perihal diri kita. Mengutip dari Ali bin Abu Thalib,

“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.”

Seperti kisah Luqman dan anaknya dengan keledai, yang kemudian dia katanya pada anaknya,

”Sesungguhnya tidaklah terlepas seseorang itu dari perbincangan manusia. Maka orang yang berakal tidaklah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barangsiapa mengenal kebenaran, maka itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap hal.”

Maka fokuslah pada perbaikan diri sendiri. Pada kebaikan yang bisa kita lakukan dari diri sendiri dan keluarga. Teruslah berusaha. Penilaian yang paling akurat hanyalah dari Allah semata.

Ketika kita sempat lengah, jangan lupa untuk memohon ampun pada-Nya. Lalu kembalilah ke jalan Allah selagi mampu. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat.

Seperti ketika beberapa hari yang lalu, saya sempat lengah dan lepas kendali. Rasanya menyesal sekali di hati ini setelah kejadian itu. Saya sempat down dan meminta maaf berulang kali, tidak hanya pada Allah tapi juga pada keluarga kecil saya. Alhamdulillah, suami justru berkata, “Gapapa, kemarin kan baru pertama kali kamu dihadapkan dengan situasi seperti itu. Harus belajar lagi berarti.” Dan perihal perkataan orang lain terhadap saya, “Gausah dipikirkan. Mereka itu gatau aja. Aku yang tau.” Karena di kasus saya ini, ridho Allah adalah ridho dari suami juga.

Dan memang, mudahnya orang berprasangka tentang kita, apalagi prasangka buruk, adalah karena mereka tidak pernah berada di posisi kita. Mereka belum tau apa yang kita hadapi. Begitupun kita, yang tidak tau apa yang mereka hadapi. Sehingga jangan pernah mudah mengatakan hal-hal buruk just becauseWe never know what they’ve been through.

Semoga kita selalu istiqomah dalam kebaikan.