Ketika kami tinggal di UK tahun 2016, kami menyempatkan diri datang ke konser Maher Zain. Sebenarnya zaman itu kami juga ingin datang ke konser Adele dan Ed Sheeran di tahun 2017. Apalah daya, Ed Sheeran sudah saya uber tiketnya lewat twickets.com setiap hari tapi tetep aja kehabisan tiket.

Sedangkan konser Adele di Wembley Stadium, kami sudah dapet tiketnya dari tahun sebelumnya (setelah ngeklikin website yang jualan tiket berkali-kali refresh demi oh demi dapet tiket!). Tiketnya mewaah banget kesannya. Bagus banget deh. Saya foto tapi lupa saya taruh di mana hehe. Eh Qadarullah hamil eike, mayan gede pas konser Adele. Dan kami beli tiket murah yang duduknya di lantai paling atas banget harus naik tangga. Dan katanya, agak berbahaya buat pendengaran bayi kalau nonton konser dengan sound system yang luar biasa (tapi setelah baca-baca lagi ternyata engga juga, karena bayi di dalem kandungan kan dikelilingin sama air ketuban. Entahlah). Akhirnya kami jual tiketnya via twickets.com. Hiks.

Baca juga: Travelling to London

Alhamdulillah kesampaian tapinya nonton konser Maher Zain. Di Manchester pula! Deket kampus suami pula! Jadi ga perlu pusing-pusing cari transportasi dan sebagainya.

Kami membeli tiket dari PennyAppeal, salah satu organisasi internasional mengenai penggalangan dana untuk kemanusiaan. Tiket yang dijual untuk konser Maher Zain ini beragam; beragam pula fasilitas yang ditawarkan. Mulai dari yang paling murah, yaitu £25 sampai £100. Mulai dari makan malam plus dengerin Zain nyanyi, sampai foto bareng, ngobrol eksklusif dan lainnya. Tentu, kami pilih yang paling murah hehe.

Di hari konser itu, kami janjian di depan kampus Mas Suami.Kebetulan waktu itu Mas Suami ada kuliah sampai tepat sebelum acara. Daripada beliau bolak-balik, jadi saya aja yang nyamperin. Sebenernya bisa naik bus langsung sampai depan kampus suami. Tapi saya lagi pengen jalan-jalan waktu itu. Oh ya, uda masuk winter juga ceritanya. Jadi saya sambil liat-liat sekitar lah ya. Setelah nyamperin suami, kami berdua lanjut jalan sampai di gedung acara. Iya, acaranya di dalam gedung, semacam di Ballroom suatu hotel.

Si Zain

Dari acara konser ini, ada beberapa kisah yang saya petik hikmahnya. Let’s say: lesson learned!

Allah knows better than you

Kami mengantri untuk masuk ke dalam ballroom. Sudah kami duga sebelumnya, bahwa bisa jadi kami satu-satunya orang Melayu yang menonton konser ini. Kebanyakan penikmat Maher Zain yang lain adalah kaum Timur Tengah. Dan pakaian mereka cukup gemerlap seperti akan pesta. Sedangkan kami…..yang satu mahasiswa pulang kuliah, yang satu gamis gombrong biasa. Yasudahlah, kami jalani saja antrian itu dengan lapang dada.

Penataan dekorasi untuk konser ini adalah konsep meja bundar. Karena akan ada makan malam bersama, jadi pasti sudah disiapkan meja dan kursi. Tapi saya sebenarnya kurang sreg dengan meja bundar untuk nonton konser, karena panggung cuma satu di depan, nanti gimana dengan orang yang duduknya membelakangi panggung? Ah entahlah, mungkin ada konsep lain yang tengah disiapkan panitia.

Total 50 meja bundar yang disiapkan, dengan masing-masing meja memiliki 8 kursi. Dan yak, kami mendapatkan meja nomor 50! Dan kamu tau letak meja nomor 50 di mana? Di pojok kanan belakang jika kita menghadap panggung. Hmm, saya sudah sedikit gusar. Begitu sampai di mejanya saya lebih gusar lagi. Karena kursi yang masih kosong adalah kursi yang membelakangi panggung!! Kursi kami pun juga membelakangi kursi meja sebelah…

Ah macam mana pula?! Saya pun sewot dan ngomel ke Mas Suami. Tapi beliau da santai aja gitu yah, dasar suami sabar dan baik hati…..

Makanan satu per satu pun datang. Ada camilan ringan, minuman soda. Menunya pun mulai dari appetizer, menu utama sampai dessert. Menu utamanya ada macam-macam, tapi tentu saja hidangannya lebih mengarah ke Timur Tengah. Sebelum makanan datang pun, di atas meja sudah disiapkan beragam utensils yang dapat disesuaikan dengan penggunaaan masing-masing.

Di tengah-tengah kejadian itu, tiba-tiba kursi kami terdorong karena ada penonton yang hendak duduk di meja sebelah. Iya, penempat kursi tepat di belakang kami. Mereka berpasangan, laki-laki dan perempuan. Dan wajahnya tampak melayu…..bisa jadi Malaysia atau Indonesia.

Kami pun bertukar senyum. Tanpa sebelumnya mengatakan apapun.

Namun laki-laki itu menyapa duluan.

“Orang Indonesia, ya?”

Wah Alhamdulillah! Kami pun sontak menjawab iya dengan girang. Kemudian kami ngobrol dengan mengalir indahnya ke samudera…

Ternyata pasangan suami istri ini tinggal di luar kota. Datang ke Manchester hanya untuk nonton Maher Zain. Malam itu mereka langsung naik kereta pulang. Si suami sendiri sedang menempuh pendidikan S3 Bahasa Inggris karena beliau seorang dosen. Dosen di mana? Salah satu universitas di Jombang!

Singkat cerita, ternyata kami punya hubungan di Indonesia. Orang tua pasangan ini mengenal orang tua suami saya. Wow dunia terasa sempit!

Rasa gusar saya berkenaan dengan penempatan tempat duduk pun hilang. Ternyata ada hikmah di balik setiap cerita. Termasuk di antaranya, si kursi ini. Dengan mendapatkan kursi yang menurut saya tidak nyaman ini, ternyata kami bisa bertemu dengan sesama saudara muslim Indonesia yang tidak terlalu jauh hubungan kekerabatannya..

After you found Allah, everything will be better

Setelah makan malam selesai, konser pun dimulai. Maher Zain keluar. Tapi sebelum dia bernyanyi, akan ada sesi wawancara dulu di atas panggung. Ada pewawancaranya, yang sepertinya cukup profesional juga.

Maher Zain menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Berawal dari dia yang tidak rajin beribadah. Kemudian ingin memulai karir sebagai penyanyi. Menjadi penyanyi yang biasa saja. Sampai akhirnya dia menemukan Allah.

Dia mulai mempertanyakan tujuan hidupnya. Apa yang ingin dia lakukan. Apa yang bisa dia lakukan untuk menyembah kepada-Nya. Apa yang bisa dia lakukan agar dia bisa tetap dekat dengan-Nya.

Dia banyak berdoa kala itu. Mulai rajin beribadah. Dan mulai dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Dia juga mulai membangun rumah tangga setelah bertemu dengan istrinya. Dia merasa hidupnya menjadi lebih baik setelah menemukan Allah. Karena sebelumnya dia hidup dengan penuh rasa khawatir dan takut akan banyak hal, termasuk masa depan.

Hal yang sama berlaku juga dengan saya. Jujur, saya merasa hidup saya menjadi lebih tenang dan baik menurut versi saya setelah saya belajar tentang keberadaan Allah dalam Islam. It’s something that I can’t describe. It’s just something that you can feel by your heart. Ada perasaan yang berbeda aja di kehidupan kemarin dan sekarang ini. Dan karena ada pembanding itulah, saya bisa mengatakan yang sekarang ini jauh lebih baik daripada yang dulu.

Tapi tentunya pengalaman setiap orang berbeda-beda. I just hope you can feel it too.

You can do kinds of preaching you like

Lanjutan dari cerita di atas uda bisa ditebak ya..

Maher Zain memutuskan untuk menyanyikan lagu-lagu bertemakan Islam. Dia merasa dengan melakukan hal itu, dia bisa mengajak banyak orang untuk bisa merasakan apa yang dia rasakan setelah menemukan Allah. Dia juga merasa ini adalah tujuan hidup dia yang tentunya bisa dia pertanggungjawabkan.

Untuk masalah rezeki, ya mungkin ada beberapa orang yang berpikir dengan menyanyikan lagu-lagu Islami, Zain tidak akan mendapatkan banyak profit karena marketnya kecil dibandingkan dengan aliran musik yang dulu dia lakukan. Tapi Zain tidak masalah dengan hal itu. Dia percaya Allah telah mengatur semua itu, dia hanya melakukan yang terbaik. Dan buktinya, sampai sekarang masih berkecukupan Alhamdulillah.

Dari cerita itulah, saya jadi berpikir, bahwa sebenarnya kita bisa melakukan berbagai cara untuk bisa berdakwah pada orang lain. Apapun yang bisa kita lakukan. Apapun yang kita sukai. Kalau si Zain ingin bernyanyi untuk melakukannya, saya pun berpikir saya ingin menyampaikannya lewat tulisan. Berhubung saya ga terlalu pinter ngomong (atau belum?) dan saya ga pinter nyanyi dan bikin lagu kayak si Zain.

Untuk menulis hal-hal berbau dakwah pun saya juga maju mundur. Karena saya pengen banget bisa nulis berat berdasarkan fakta dan sumber yang terpercaya, sehingga tulisan saya bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, lebih ke pembahasan hal-hal serius yang menambah informasi mengenai seluk beluk Islam lebih dalam ke orang lain. Sayangnya, saya pun fakir ilmu. Dan menunggu saya punya ilmu dulu pun masih lama, jadinya saya ga nulis-nulis nanti.

Seorang teman pernah berkata,

“Ya mungkin tulisan Tika targetnya lebih ke para perempuan muda dan ibu-ibu muda dan orang-orang yang membutuhkan ketenangan lewat tulisan Tika. Ga masalah Tik, tulis aja. Jangan pakai alasan kurang ilmu, yang penting kan dakwahnya.”

Hmm… jadi saya mencoba menulis beberapa hal berdasarkan pengalaman saya. Saya ga berani mengulas tentang ilmu Islam lebih dalam seperti aqidah, fiqih dan sebagainya, karena selama ini pun saya masih baca Al Quran saja. Hadits masih sekedar tahu. Belum sampai ke ijma juga dan berbagai pendapat ulama. Hehe, jadi mohon maaf ya saya belum bisa menulis hal yang berat. Tapi saya berharap hal-hal yang saya tulis selama ini bisa bermanfaat.

Dari ketiga hikmah tadi yang saya dapatkan dari konser Maher Zain, akhirnya ditutup dengan 10 lagu yang dia nyanyikan berkelanjutan. Sekaligus menutup acara konser amal Maher Zain malam itu. Dan begitu pulang, kami bertemu dengan beberapa orang Melayu, yang kayanya anak kuliahan Indonesia juga. Hehehe Alhamdulillah.