Di rumah lama kami, Papa sering mendengarkan musik dari CD yang diputar menggunakan VCD Player, TV dan sound system lengkap di ruang keluarga. Makanya sepanjang masa kecil saya, saya sudah kenal Didi Kempot, Bimbo, Chrisye, KLA Project, Dewa 19, dan lainnya. Papa suka menyetel CD keras-keras di hari Minggu pagi sambil menyuci mobil bersama saya. Atau ketika kami membersihkan rumah bersama. CD yang diputar pun kadang tidak perlu menggunakan TV, jadi hanya suaranya saja yang keluar. Karena ketika diputar dengan TV pun, klip video yang keluar ya sekedar gambar pantai, laut, model yang berjalan, bunga-bunga bermekaran, atau bisa jadi video aslinya.

Yang paling membekas di ingatan saya adalah salah satu lagu Chrisye yang diputar di hari Minggu pagi itu. Iramanya indah…..dan sangat sendu. Saya tidak bisa menangkap liriknya meski lagunya termasuk bertempo lambat. Video klipnya pun hanya ikan-ikan yang berenang di dasar lautan dengan terumbu karang berwarna warni. Masih teringat jelas saat itu saya berdiri termenung sambil melihat TV dan mendengarkan baik-baik lagu itu.

Mengering sudah bunga di pelukan
Merpati putih berarak pulang
Terbang menerjang badai
Tinggi di awan
Menghilang di langit yang hitam

Karena zaman itu internet masih belum menjadi tren seperti sekarang, apalagi HP paling hits saat itu masih Nokia 3310, jadinya saya belum bisa untuk mencari judul lagunya. Tapi perasaan ketika mendengarkan lagu itu tidak pernah hilang. Rasanya ada sesak kesedihan yang tidak bisa tergambarkan. Ketakutan yang tiba-tiba menguasai saya yang berumur delapan tahun saat itu. Entah kenapa, mendengarkan lagu ini membuat saya berpikir tentang..

..Kematian.

Saat itu, saya takut sekali jika kematian itu datang. Bagaimana jika salah seorang yang saya sayangi tiba-tiba pergi? Dan saya tidak akan punya kesempatan untuk bertemu lagi? Bagaimana jadinya ketika saya harus sendirian karena orang-orang di sekitar saya sudah meninggal duluan? Atau, bagaimana jadinya ketika saya yang harus pergi duluan, meninggalkan semua rutinitas saya di sini?

Di umur delapan tahun, ilmu saya mengenai kematian masih sangat dangkal. Saya dulu berpikir bahwa kematian adalah perpisahan untuk selamanya. Dan perpisahan bagi saya kala itu, adalah hal yang sangat mengerikan. Apalagi perpisahan dengan hal-hal yang saya sukai.

Semenjak saat itu, saya yang sentimentil sedari kecil ini, selalu menangis di pemakaman. Entah pemakaman siapa itu. Selalu di sepanjang umur saya sekolah, dari SD, SMP, SMA, ada saja pengumuman orang tua teman atau bahkan teman saya sendiri meninggal dunia. Setelah itu, selain ada pengumpulan infaq untuk keluarga yang ditinggalkan, kami akan berkunjung ke rumah keluarga tersebut untuk mengucapkan belasungkawa. Dan ketika bertemu teman saya yang orang tuanya meninggal tersebut, saya pasti menangis. Membayangkan menjadi dirinya yang ditinggalkan. Betapa sedihnya ketika tidak bisa bertemu lagi dengan orang yang dia sayangi.

Sampai saya teringat, ketika saya SMA, ayah dari teman sekelas saya meninggal dunia. Kami pun berkunjung ke rumahnya. Saya menangis tanpa henti ketika bersalaman dengannya, eh dia malah yang pukpuk punggung saya. “Sudah Tik, sudah..” Lah yang ditinggalkan aja sudah ikhlas, kok saya yang lebay?

Pun ketika ibu dari teman sekelas saya berpulang. Saya menangis sesegukan, sampai dia (yang ibunya meninggal) menahan tawa ketika melihat saya, dan berkata, “Tika, yang sabar yaa..”

Segitunya saya begitu takut dengan perpisahan. Dengan kematian.

Yang kemudian saya mengalaminya sendiri di awal tahun 2011. Papa saya meninggal. Saya yang terhitung dekat dengan beliau selama lima tahun terakhir pun tidak bisa membendung perasaan sedih. Bahkan selama ini saya selalu meminta saran dari beliau untuk setiap masalah yang saya hadapi. Lalu, setelah ini, apa?

S’lamat berpisah kenangan bercinta
Sampai kapankah jadinya
Aku harus menunggu
Hari bahagia seperti dulu

Setahun pertama setelah kepergian beliau, hidup terasa sangat sulit. Saya tidak bisa melupakan setiap kenangan bersamanya. Saya selalu terbangun dengan air mata keluar, karena saya tiba-tiba teringat beliau. Saya sedih karena akan ada banyak hal di masa depan yang harus saya lewati tanpa kehadiran beliau. Saya pun cukup puas dengan kehadiran saya selama ini di samping beliau ketika beliau masih hidup.

But then, my life kept moving on.

Sudah hampir tujuh tahun Papa meninggalkan dunia ini. Dan dalam tujuh tahun terakhir, banyak sekali hal yang terjadi dalam hidup saya dan keluarga. Saya memutuskan untuk berkerudung enam bulan setelah Papa meninggal, karena saya merasa tidak membantu banyak untuk menambah amal beliau selama beliau hidup. Satu-satunya cara yang saya dapat lakukan adalah menjadi putri yang sholehah. Karena memang begitu salah satu pesan beliau yang saya ingat sekali, ketika beliau masih ada.

“Ada tiga amalan yang pahalanya tidak akan pernah terputus meski kita meninggal nanti: ilmu yang bermanfaat, doa anak yang sholeh/sholehah, dan sedekah jariyah.”

Saat itu saya berpikir, bagaimana bisa doa saya sampai ke beliau jika saya belum sholehah? Tapi, berkerudung pun tidak membuat saya kemudian langsung jadi menunaikan tiga dasar ilmu islam: iman, islam dan ihsan. It came a lot later than that.

Baca juga: Tazkiyatun Nafs

Dalam kurun tujuh tahun, saya menyelesaikan kuliah. Lulus dengan nilai memuaskan. Saya bekerja. Pindah kerjaan. Menemukan kerjaan yang asyik. Memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Ditolak beasiswa berkali-kali. Menikah. Tinggal di negara asing. Pulang. Melahirkan. Menjadi Ibu.

Pun dalam prosesnya, saya mengalami banyak sekali pendewasaan. Ketika saya harus menggantikan posisi ayah di dalam keluarga. Ketika saya harus dipaksa mandiri sekaligus memikirkan keluarga di atas keinginan saya. Ketika saya harus menjadi keras dan lembut secara bersamaan bagi adik-adik saya. Ketika saya harus menerima bahwa saya tidak bisa mengatur kehidupan mereka, bahwa mereka punya hidup mereka sendiri.

Dan dalam kurun waktu itu pun, saya menemukan Allah dan belajar tentang-Nya.

Tapi, saya tidak ingin bercerita secara detail mengenai hal itu.

Yang saya rasakan dalam tujuh tahun yang berlalu ini adalah……..pudarnya ingatan saya akan Papa.

Bukannya saya lupa tentang beliau, saya justru masih ingat. Saya pun ingat setiap detail kenangan di antara kami. Di setiap kegiatan yang akan beliau lakukan di rumah, saya selalu diajak. Membongkar pasang motor. Memperbaiki mesin mobil. Membetulkan genteng rumah. Membetulkan pompa air sumur. Pekerjaan laki semua? Ya, karena saat itu beliau belum memiliki anak laki-laki. Pun setiap detail yang beliau ekspresikan, saya masih ingat dengan kata-kata. Memori yang berupa gambar di otak saya itu samar di bagian wajah beliau. Di bagian suara. Di bagian tawa. Tapi jika disuruh menggambarkan dengan kata-kata, saya mampu mengungkapkannya. Jika disuruh menggambar dengan visual…….saya tak mampu.

Sedih ya?

Sampai suatu hari, ketika saya dan suami sedang duduk-duduk manis di satu ruangan.

“Mas, buat apa ya kita hidup kalau nantinya kita akan dilupakan?”

“Buat apa mengkhawatirkan akankah kita diingat atau dilupakan? Begitu kita meninggal, kita kan sudah putus hubungan dengan dunia ini.”

“Iya ya…. tapi banyak orang memilih menghabiskan hidupnya agar nantinya dia diingat banyak orang lainnya.”

Legacy. Ya boleh aja kita melakukan hal yang bermanfaat untuk bisa digunakan banyak orang meski kita meninggal duluan nanti. Tapi urusan tentang orang akan ingat pada kita atau engga, bukan urusan kita. Yang kita lakukan di dunia ini, ya cuma perihal sebanyak-banyaknya berbuat kebaikan.”

Ya, semenjak Papa meninggal, saya mulai menerima kematian dalam hidup saya. Penerimaan itu bertambah seiring dengan pembelajaran saya tentang Islam. Bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. Dan memang takdir kita di dunia ini adalah untuk mati. Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan hal itu. Apakah bekal kita cukup untuk menghadapinya? Apakah kita sudah siap setiap saat untuk hal itu?

Bagaimana jika yang meninggal adalah orang terdekat kita?

Jangan pernah melakukan hal-hal yang buruk kepada orang lain. Hanya karena ingin memuaskan hawa nafsu kita untuk membuat mereka celaka, bisa berakhir buruk bagi kita sendiri. Sudah tidak ada manfaatnya, menambah dosa, pun akan menambah penyesalan ketika orang tersebut meninggal dunia.

Berdoalah. Berdoalah. Doakan dia. Selalu. Setiap saat. Mintakan yang baik. Siapa tahu dari sekian banyak orang yang berdoa untuknya, Allah mengabulkan apa yang kita minta.

Menangis itu boleh, asal bukan tangisan yang mencegah kepergiannya. Ikhlaskan. Ingat, dunia ini fana. Hanya sementara. Doakan sebanyak-banyaknya agar kita dipertemukan lagi di akhirat nanti. Semoga kita masih saling mengingat untuk kebaikan.

Meski kenangan tentang fisik beliau secara visual di dalam pikiran saya semakin samar, tapi tidak lantar menghilangkan segala memori yang ada. Justru ketika saya berkeluarga, saya semakin ingat kepadanya. Bahwa beliau mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang keseharian. Pun ada beberapa memori buruk yang tak terlewatkan, tapi tidak lantas mengakar dendam.

Yang mampu saya lakukan adalah berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia, agar setidaknya tidak memberatkan dosa beliau. Dan terus menerus mendoakan beliau, agar kami bisa berkumpul di surga Allah nanti.

Bersama kasih kembali mesra
Bercumbu lagi kembali satu
Janji berjuta bintang
Dalam pelukan
Sehangat pagi yang cerah

Tiga hari yang lalu, Ibu dari Papa saya meninggal dunia di umurnya yang hampir mencapai 71 tahun. Terakhir kali kami bertemu adalah sebelum saya dan suami beranjak ke Inggris. Setelah itu, saya belum punya kesempatan untuk menemui beliau karena keadaan fisik saya yang tidak memungkinkan. Ketika beliau meninggal kemarin pun, saya belum mampu terbang ke tempat beliau di Salatiga.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, lindungilah dia dan maafkanlah dia, Dan muliakanlah tempat tinggalnya sekarang ini, dan lapangkanlah kuburnya. Bersihkanlah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau telah membersihkan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya di dunia dengan rumah yang lebih baik daripada yang dia tinggalkan, dan gantilah keluarganya di dunia (yang ditinggalkan) dengan keluarga yang lebih baik (di akhirat). yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, dan istri yang lebih baik dari yang ditinggalkan. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnahnya, dan dari azab api neraka. Ya Allah berikanlah ampunan bagi kami yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia, dan bagi kami yang hadir, dan bagi kami yang ghoib, dan kami yang masih kecil (anak-anak), dan kami yang dewasa, dan bagi kami laki-laki dan bagi perempuan. Ya Allah, siapapun yang hidup diantara kami, maka hidupkanlah dalam Islam, dan siapapun yang Engkau matikan diantara kami, maka matikanlah kami dalam Iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami atas pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang Maha pengasih penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Saya pernah menulis tentang kisah beliau di tahun 2011. Ketika suami, adik dan anak dari Eyang Uti meninggal dunia dalam setahun terakhir. Beliau dirundung kesedihan yang sangat dalam. Ketiganya adalah orang-orang yang paling dekat dengannya.

Di tulisan tersebut, saya menuliskan.

Bahagiakan dia, Tuhan. Bahagiakan dia.

Bisa kamu bayangkan dalam setahun kamu ditinggalkan orang yang kamu sayangi, apa jadinya..

Saat air matamu mulai mengering. Saat kamu merasa sangat sendirian. Saat kamu hanya bisa berserah diri pada-Nya.

Selamat jalan, Eyang Uti. Doa kami bersamamu.

PS: Ketika saya SMA, saya mendengarkan lagu yang memberikan perasaan sedih yang sama ketika saya umur delapan tahun. Turn out, it was the same song. Tapi, lagu itu dinyanyikan oleh Astrid. Saat itulah, saya baru tahu judul lagunya: Merpati Putih.