Tadi malam, saya sempat trenyuh ketika mengikuti kulwap perihal tasawuf. Sebenarnya tema kulwap besarnya adalah tentang depresi setelah melahirkan. Namun dihadirkan dua pembicara, dari segi psikologi dan dari segi islami. Insya Allah akan coba saya tuliskan review singkatnya di waktu lain ya.

Sering ga sih, kita merasa iri hati sama kehidupan orang lain? Seperti yang sudah pernah saya bahas di tulisan sebelumnya tentang kebahagiaan.

Baca juga: Happiness Comes From Ourselves

Atau marah banget sama sesuatu yang kita ga suka?

Atau mungkin malah sedih banget merasa tidak berharga ada di dunia ini?

Jujur, saya pernah merasakan semua itu. Pernah ada hari-hari yang selalu saya lewati dengan seluruh emosi negatif. Seluruh kesombongan, kebencian, perasaan sedih….semua jadi satu. Susah banget merasa bahagia, merasa content terhadap kehidupan pribadi saya. Bahkan ga cuma pernah, tapi sesungguhnya saya merasa diri saya yang dulu adalah rasa benci itu sendiri. Saya mengenal diri saya, ya yang itu, si tukang sewot yang selalu berpikiran negatif memandang dunia.

Di awal proses saya belajar tentang Islam, saya merasa jiwa dan hati belum banyak berubah ke arah lebih baik. Memang saya tau bahwa sombong itu tidak boleh; hanya Allah yang pantas menyombongkan diri. Saya tau bahwa iri sama orang lain itu tidak boleh; Allah sudah memberikan porsi masing-masing yang terbaik untuk hamba-Nya. Namun, teori itu meski bercokol di kepala saya, tetap saja menggerakkan hati itu susah nian. Untuk berubah rasanya suliiitt sekali. Menghapus oli yang sudah memenuhi hampir keseluruhan kain putih itu memang ga cukup kalau cuma pakai penghapus pensil. Harus pake tiner kayanya.

Akhirnya di perjalanan saya itu, saya mulai mengikuti sharing tentang Islam atau sering disebut sebagai mentoring, yang berisi tentang kajian ringan membahas tentang Al Quran. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali. Yang mengisi adalah teteh yang ilmunya tentang Islam sudah cukup tinggi untuk mengupas tuntas suatu topik berasaskan Al Quran.

Ditambah lagi, dulu di kantor lama saya di Bandung, dekat dengan Daarut Tauhid, tempat Aa Gym mengisi kajian setiap Kamis malam. Sehingga saya pun mengikuti kajian Aa Gym pulang kantor, meski seringnya sendirian. Kadang ada temen juga dari ITB. Dan kalau diperhatikan, kajian Aa Gym meski beda-beda tema, tapi selalu mengacu ke satu tema besar: bersyukur. Lagi-lagi perihal Tazkiyatun Nafs!

Berlanjut setelah saya pindah ke Jakarta, saya melanjutkan mentoring dengan kakak senior ITB saya (yang juga nemenin saya ta’aruf waktu itu hehe). Seringnya kami janjian di satu tempat, berdua setelah pulang kerja. Memang tidak sesering dulu kegiatan ini, karena kakak senior saya ini sering banget lembur dan rumahnya di Bogor. Tapi masih disempatkan ketemu saya hanya karena saya ingin belajar agama (terharu). Dan sampailah di satu topik yang beliau pun mengaku sangat tertarik dan sedang dalam tahap belajar……Tazkiyatun Nafs.

Apa sih tazkiyatun nafs itu?

Arti harfiahnya, adalah membersihkan jiwa. Sebelum membersihkan, tentunya kita harus mengenal jiwa atau diri kita dulu (ma’rifatunnafs). Mengenal jiwa kita artinya kita harus tau komponen apa saja yang ada pada diri kita, mengenal diri kita sendiri, mengenal fitrah diri manusia. Usaha kita untuk dapat mengenal diri sendiri tentunya tidak lepas dari proses mensucikan jiwa alias tazkiyatunnafs ini.

Sebenarnya sepenting apa sih tazkiyatun nafs itu?

Tiga komponen besar dalam agama Islam sendiri adalah iman, islam dan ihsan. Ketika kita berusaha memahami iman, artinya kita belajar tentang ilmu akidah. Ketika kita berusaha menjalani islam, artinya kita mempelajari ilmu syariat. Dan terakhir, ilmu perihal ihsan sendiri mengenai ilmu tasawuf, di mana inti dari ilmu tasawuf adalah tentang tazkiyatun nafs.

Sesusah apa sih proses tazkiyatun nafs itu?

Saya cuplik dulu perkataan dari Ustadzah Hani Hendayani. Beliau adalah salah satu tamu yang diminta untuk mengisi kulwap yang diadakan oleh Diskusi Emak Kekinian mengenai depresi pada ibu sehabis melahirkan, namun berkaca dari ilmu tasawuf. Beliau adalah ibu dari tujuh orang anak dan sudah menjalani LDR dengan suaminya sejak awal menikah. Dan semua itu beliau terima dengan ikhlas dan lapang dada. Cuplikan perkataan beliau ini adalah jawaban dari pertanyaan saya mengenai cara berserah diri bagi manusia ambisius (curcol ini tea).

“Mba Tika shalihat… bukankah sudah sepantasnya sebagai seorang muslim kita berserah diri kepada Allah?! 😉

Islam berasal dari aslama yang artinya menyerah. Ketika seseorang mengaku dirinya muslim maka semestinya ada kesiapan dalam dirinya untuk seutuhnya tunduk patuh pada hukum Allah, qadha dan qadarullah.

Agama ini membuat hidup kita lebih mudah tinggal diikuti dengan ketundukkan dan keikhlasan. Yang membuatnya terasa sulit karena adanya hawa nafsu yang mendorong angan-angan, menuntut kepuasan, berharap kemuliaan dalam pandangan duniawi.

Inilah yang membuat berserah diri terasa sangat sulit.

Bila kita mencintai Allah maka apapun yang Allah takdirkan pada hidup kita akan membuahkan bahagia. Bahkan sesulit apapun keadaannya akan membuat hadirnya Allah semakin nyata.

Saya bukan tanpa ambisi. Justru sangat ambisius. Namun  kita hidup di dunia nyata dimana kondisi tak selalu berpihak pada keinginan kita. Di situlah pelajarannya tak semua yang diangankan menjadi kebaikan tapi bisa dipastikan setiap kenyataan adalah kebaikan yang Allah peruntukkan pada kita jadi hikmah yang akan meningkatkan kualitas hidup kita.”

Bahwa sesungguhnya, ketika kita menjalani hidup ini dengan bertujuan besar di akhirat nanti, maka tidak ada yang mampu membuat kita merasa gundah gulana di dunia ini. Bahwa sesungguhnya, semua yang kita jalani adalah pilihan terbaik dari Allah. Bahwa sesungguhnya, semua yang kita usahakan akan dinilai usahanya – bukan hasilnya – nanti di akhir masa.

Namun Allah memang menciptakan hawa nafsu di dalam diri kita sebagai cobaan. Dan sesungguhnya perjalanan kita di dunia ini adalah perihal bagaimana kita mengalahkan hawa nafsu kita tersebut. Bahwa sesungguhnya, kita punya kendali atas komponen yang ada dalam diri kita, kita punya kendali atas hawa nafsu dalam diri kita.

Yang sulit adalah, ketika kita mulai condong untuk memihak pada hawa nafsu kita. Menuhankannya. Sehingga ketika hawa nafsu kita tidak terpuaskan, maka kita merasa berat menjalani hidup. Padahal sudah sepantasnya dan selayaknya tugas kita untuk mengalahkan hawa nafsu.

Allah menempatkan saya di dalam proses mempelajari tazkiyatun nafs ini sejak tiga tahun lalu; ketika semua yang saya rencanakan dan inginkan kandas di depan mata. Cuma satu yang Allah kasih untuk saya: pernikahan. Dan sejujurnya, pernikahan ini justru mendatangkan banyak pembelajaran untuk saya, terutama tentang tazkiyatun nafs ini. Namun, Alhamdulillah Allah tidak hanya memberikan ujian dan amanah, tapi juga guru untuk membimbing saya: suami saya sendiri.

Sudah lama pikiran dan perasaan negatif bercokol pada diri saya. Saya tau teorinya, bahwa semua ini salah, tapi saya selalu sulit untuk berubah. Karena memang prakteknya tazkiyatun nafs ini sulit sekali. Misal saja, ketika kita sudah terbiasa membicarakan buruknya orang lain, bahkan ketika ada orang baru lewat pun ada pikiran negatif perihal orang tersebut yang muncul secara tiba-tiba tanpa kita mau. Saking terbiasanya. Tentunya menghilangkan kebiasaan ini terasa sangat berat bagi pemiliknya.

Saya selalu mengeluhkan pada suami saya, betapa sulitnya untuk berubah. Betapa sulitnya untuk membersihkan hati. Ada hari-hari di mana saya menangis karena hati saya yang terlampau hitam dan saya menyesal karenanya. Ada hari-hari di mana saya hopeless dan ingin menyerah karena yakin saya tidak akan pernah bisa berubah. Bahwa saya akan selalu iri, akan selalu sombong, akan selalu egois perihal banyak hal. Dan saya sangat tidak bahagia dengan berbagai perasaan negatif ini. Selalu timbul kecemasan yang berlebihan akan banyak hal yang sudah maupun belum kejadian. Kekhawatiran untuk tetek bengek yang bahkan bukan urusan saya.

Tapi apa yang dilakukan suami saya?

Beliau selalu bilang, “kamu sudah jadi lebih baik kok, dek.”
“Kamu itu berprogress, cuma kamu aja yang ga sadar.”
“Jangan liat terlampau jauh mengenai hasil, yang penting sudah berusaha. Dan usaha itu selalu dinilai sama Allah.”

Beliau tidak pernah berhenti memberi saya semangat. Menyatakan pada saya bahwa saya perlahan-lahan berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

“Coba kamu bandingkan diri kamu yang sekarang sama yang dulu, masa ga berubah?”

Beliau yang selalu membuat saya yakin bahwa usaha saya ini worth it.

Tapi ya, bukan berarti setelah beliau bilang begitu tiba-tiba wusshh saya jadi sholehah ya. Masih ada kejadian yang kadang membuat saya kesal atau bahkan marah, apalagi kalau lapar dan ngantuk (hehe). Masih ada inner child saya yang keluar ketika saya berada di kondisi yang tidak nyaman. Dan masih saja…….suami saya sabar menghadapi saya.

Sampai suatu pagi, ketika kami sarapan di ruang makan dan anak kami masih terlelap.

“Mas, aku baru sadar bahwa kita punya kontrol atas diri kita sendiri.”
“Iya, memang.” Jawab beliau cuek sambil tetep makan.
“Dulu aku pikir, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan.”
“..Lho iya memang.” Beliau melihat ke arah saya. “Kita memang bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Kita tinggal milih aja, mau dilakuin atau engga.”
“Oh iya ya, maksud aku gitu hehe.” Saya mengoreksi pernyataan saya. “Dulu aku pikir, aku bisa seenaknya aja ngomong frontal yang sering menyakiti hati orang lain, dan tinggal bilang ‘ya emang gue orangnya begini’. Tapi ternyata pernyataan itu cuma pembenaran dari aku yang gabisa mengendalikan diriku sendiri. Padahal aku punya pilihan untuk tidak mengatakan apapun sehingga tidak menyakiti orang lain. Tapi aku lebih milih buat memuaskan hawa nafsu aku, yang penting njeplak nyablak padahal itu merugikan orang lain.”
“Alhamdulillah.”

Iya, kita bisa memilih untuk melakukan apa pun. Kita bisa memilih marah dan menulis status panjang di Facebook tentang kekesalan kita tersebut. Atau kita bisa memilih perasaan marah itu pergi dengan sendirinya dan tidak memikirkan hal itu lagi. Kita bisa memilih mengambil gambar setiap momen indah dengan pasangan dan anak kita dan mengunggahnya ke sosial media (just because atau ada intensi lebih untuk mendapat approval dari orang lain). Atau kita bisa memilih untuk menyimpannya sendiri. Kita bisa memilih untuk mengingat-ingat masa lalu dan terbenam di dalamnya. Atau kita bisa memilih untuk let go and move on.

Kendali atas respon kita ini pun masuk ke dalam Habit 1 di 7 Habits of Highly Effective People. Habit paling dasar yang harus kita miliki untuk bisa lanjut ke habit selanjutnya. Tujuan besarnya, dengan mempelajari 7 Habits ini, kita bisa menjadi manusia yang produktif dan efektif.

Dan buat saya sendiri…. yang sering banget berpikiran negatif akan semua hal….

Awalnya suami memaksa saya untuk membuat daftar sepuluh sisi positif untuk setiap hal yang hendak saya cap negatif tersebut. Dan saya kesal, kenapa sih disuruh mikir positif orang pengennya ngejelek-jelekin. Suami pun selalu tertawa dan memaksa saya menyebutkan sepuluh sisi positif tersebut. Tapi masih saja saya terus berpikiran negatif.

Tiap saya mengeluh pun, suami selalu memberikan sudut pandang lain. Misal saya bilang “ih kenapa si A cuek banget sama aku.” Beliau jawab, “mungkin dia sibuk, masih banyak yang harus diurusin.” Selaluuuuu aja beliau mikir hal positif, heheu. Ga bosen gitu ya beliau, saya juga ga paham. Tapi lama-lama saya jadi terbawa. Sekarang tiap mau mikir negatif, selalu ada sisi lain yang saya pikirkan.

Saya mencoba berpikir dari sudut pandang orang yang saya pikirkan.

Dan rasanya luar biasa, masya Allah.

Ketika kita berpikir positif, rasanya bahagia. Ketika kita berpikir tentang akhirat, rasanya menjadi mudah. Ketika kita tidak memikirkan hawa nafsu, rasanya terasa ringan.

Pastinya akan ada saat di mana kita tetap merasa lelah dan bersedih hati. Kembalikan pada Allah. Jangan lupa, la tahzan innallaha ma’ana. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Jika kita yakin dan percaya bahwa Allah selalu bersama kita, selalu mengawasi kita, selalu menginginkan yang terbaik untuk kita, maka apalagi yang perlu kita khawatirkan?

Ini kata Ustadzah Hani perihal menghadapi rasa kecewa,

“Ini adalah waktu saya untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah, melepaskan tekanan yang ada. Mengambil air wudhu’, menyungkur sujud tanda tak mampu pada Pemilik segala persoalan kehidupan.

Saya tepis kecewa dengan penerimaan dan berkompromi dengan keadaan. Mencoba untuk lebih menikmati dan menghikmati hingga puncaknya mampu mensyukuri dan memandang indah persoalan.

Rasa kecewa biasanya timbul karena adanya gap antara harapan dan kenyataan. Hadapi kenyataan yang merupakan fakta yang nyata di hadapan kita. Turunkan harapan dan sadari itu bagian dari angan-angan yang boleh jadi memang tak dikehendaki Sang Pencipta.”

Seperti salah satu pesan suami untuk saya,

“Niatkan semua pada Allah. Kembalikan pada Allah. Maka, hari-hari kita di dunia akan terasa lebih berarti.”

Dan pesan dari Abah untuk kami,

“Selalu sandarkan semua pada Allah.”

Akan ada kala di mana kita lupa dan lalai….

..maka selalu minta pada-Nya untuk diingatkan dengan cara yang baik.

“Wattaqullaha wayu’allimukumullah.

Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan mengajari kalian dengan ilmu-Nya.

Ilmu adalah cahaya dan jalan keselamatan. Dan Allah adalah Pemiliknya. Sebagaimana para malaikat yang berdo’a

Subhanaka la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana”.

(Maha Suci Engkau Ya Tuhan, kami tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami)

Maka sandarkanlah diri pada Allah. Mintalah rahmat, hidayah, inayah serta ‘afiyah Allah.

Semoga Allah menjadikan kita tahu dan mampu menjalani hidayah yang telah terberi.”

– Ustadzah Hani Hendayani.

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Selamat berusaha membersihkan jiwa!