Seminggu terakhir, saya disibukkan dengan pusat dunia saya yang baru. Namanya Naira. Bayi perempuan dengan mata berbinar dan pipi tumpah, yang selalu berpose lucu ketika tidur atau merenggangkan badan. Yang semalam cranky abis karena sedang dalam proses growth spurt-nya yang pertama. Yang jika diberi pengertian ibunya, selalu paham. Yang selalu menikmati lagu-lagu ciptaan abah-ibunya even though it’s weird. Semoga kamu mampu menerima abah ibumu yang candaannya receh ini ya nak.

Beberapa bulan sebelum melahirkan, saya sudah mempersiapkan semuanya. Ingin lahir dengan persalinan normal, tentu banyak ikhtiar yang harus ditempuh. Mulai dari jalan pagi, bahkan sampai lari kecil-kecil di setiap pagi hari bersama suami di bulan terakhir; main gymball, dari bouncing asik, puter pinggang, dan segala macam gaya untuk persiapan kenyamanan kontraksi; pijat payudara dan perineum, agar jalan lahir calon bayi lancar, terutama setelah mengetahui berat badan bayi diperkirakan akan mencapai 3.8 kg di pemeriksaan terakhir ke dokter kandungan, dan segala macam persiapan lainnya. Doa-doa dipanjatkan agar persalinan yang akan saya jalani normal, lancar, dimudahkan. Tapi kembali, segala ikhtiar itu tetap Allah yang menentukan jalannya.

Di hari Minggu itu, saya mengajak suami berjalan-jalan. Bosan di rumah, kata saya. Mari mencari pemandangan indah yang tidak perlu jalan kaki jauh karena kaki saya sudah tidak kuat berjalan jauh. Setelah mencari tempat ke sana ke mari, akhirnya diputuskan kami akan berangkat ke Tuban, sekitar satu jam dari Bojonegoro, untuk jajan rajungan. Suami memang doyannya makan rajungan. Meski saya memiliki minat yang biasa saja dengan makanan ini, tapi entah kenapa hari itu saya semangat saja diajak makan rajungan. Sekalian liat laut di Tuban, siapa tau lewat. Kami pun berangkat ke tempat makan spesialis rajungan yang ternyata super pedas tidak karuan itu, dan sekalian melihat kota Tuban yang ramai karena banyaknya wisata religi di kota tersebut.

Perjalanan pulang dari Tuban menuju Bojonegoro, saya merasa sensasi aneh dalam perut. Tapi saya masih santai saja. Saya sudah sering di-PHP dengan kontraksi palsu selama beberapa minggu terakhir, jadi saya enyahkan pikiran bahwa saya akan melahirkan. Meski memang menunggu saat-saat melahirkan bagi saya itu sudah sangat membosankan, melihat umur kehamilan saya yang sudah memasuki 41-42 minggu. Saya coba hitung kontraksinya. Ah, baru sepuluh menit sekali. Ah, apa ini beneran kontraksi. Siapa tau hanya perasaan mules karena makan satu sendok kuah pedas bumbu rajungan tadi.

“Mas, kok kayanya aku kontraksi ya,” akhirnya saya membuka mulut ketika kami di perjalanan hampir setengah jam sampai rumah.
“Oh ya?” Suami melirik sedikit ke arah saya sambil memperhatikan jalan.
“Tapi aku takut ini mah PHP lagi kayanya,” ujar saya sambil lalu.
“Bismillah,” jawab suami sambil memegang tangan saya.

Sampai rumah sekitar Ashar, saya putuskan untuk bouncing di gymball. Kali ini sensasi sakit perut itu berbeda dengan PHP kontraksi palsu seperti yang saya alami sebelum-sebelumnya. Ini adalah sakit yang dijabarkan oleh para ibu yang menjawab pertanyaan saya waktu itu.

“Tika udah mules-mules belum?” sebegitu seringnya pertanyaan ini dilontarkan oleh teman-teman seperibu-ibuan sejak kehamilan saya di 36 minggu.
“Emang kontraksi rasanya gimana sih buibu?” tanya saya clueless.
“Ya kaya mau mens gitu, tapi heboh.”

Wow, menjelaskan sekali, pikir saya kala itu. Namun, sekarang saya mengerti maksud dari pernyataan tersebut. Saya pun berujar pada suami.

“Mas, kok kayanya aku hitungin, kontraksiku udah lima menit sekali ya.”
“Masa?” suami sedikit kaget tapi masih rebahan di atas kasur.
“Tapi aku masih nyantai sih, nanti aja ya ke rumah sakitnya kalau udah sakit banget,” kata saya sambil berlalu ke kamar mandi.

Namun rupanya, bloody show sudah dimulai.

Hati saya senang, riang, sambil cemas penuh harap ketika melihat tanda-tanda melahirkan ini. Ya Allah, ya Allah, benarkah saat-saat yang saya tunggu ini akan datang sebentar lagi? Dengan kondisi lumayan mules dan sakit, saya pun berjalan perlahan kembali ke kamar dan berbisik ke suami.

“Mas, aku berdarah.”

Suami sontak kaget, langsung bangun dari tempat tidur dengan muka heboh.

“APAAA??? GIMANA TERUS GIMANA????”

Keadaan rumah kala itu hanya kita berdua, suami pun bergegas menelepon sana sini dan memanggil salah satu asisten rumah tangga yang sedang keluar main ke tetangga.

“Mas, santai aja. Masih gapapa kok mas.”
“TAPI ITU GIMANA KATANYA TADI BERDARAH??”
“Iya, tapi belum sakit banget.”
“KATANYA UDA LIMA MENIT SEKALI??”
“Iya, tapi aku pengen mandi dulu.”
“MANDI???? MANDIII??? NGAPAIIN??? AYOK SEKARANG SIAP-SIAP!!”
“Tapi pengen mandi mas..”

Belum pernah saya melihat suami sepanik itu. Padahal kami sudah pernah membuat janji bareng.

“Mas, nanti kalau udah mau melahirkan, jangan panik ya.”
“Iya.”
“Suruh aku tarik napas yang panjang ya, katanya ntar ibunya lupa bernapas.”
“Siap.” Ucap suami penuh ketenangan.

Dan semua itu ternyata kandas.

Saya pun mandi. Sambil diteriakin suami di depan kamar mandi buat disuruh cepat. Saya pun pengen sholat. Tapi kata suami dan ipar dan mertua, udah gaboleh sholat. Akhirnya saya nurut, dan kami bertiga, saya, suami dan mbak asisten pun berangkat ke rumah sakit.

Bukaan satu. Masih bukaan satu. Dua jam sejak kontraksi per lima menit dengan durasi 30-40 detik itu masih bukaan satu.

“Udah mbak, tidur miring dulu aja ditungguin.” Kata salah satu nakes.
“Emm saya boleh jalan-jalan ga ya mbak, biar lebih cepet prosesnya?”
“Boleh, tapi kalau capek, istirahat ya,” jawabnya.

Saya pun paksa main gymball dan berjalan-jalan terus-terus-terus dan terus. Sampai kamar pesanan kami siap, keluarga berdatangan, malam menjelang, tapi saya masih terus berjalan, terus-terus-terus.

“Istirahat mbak!” ujar salah satu nakes yang melihat saya masih melewati ruangannya pukul 8 malam. Saya hanya tersenyum dan mengangguk.

Ketika beristirahat di kamar pun, kalau sudah ada tenaga, saya main gymball lagi. Malam sudah terlalu larut buat saya berjalan-jalan di lorong rumah sakit. Tengah malam, bukaan itu masih hampir tiga. Saya pun disuruh tidur untuk mengumpulkan tenaga. Insya Allah besok bisa lahiran katanya.

Kontraksi pun terus berjalan, bahkan sampai dua setengah menit hingga tiga setengah menit sekali dengan durasi hampir satu menit semalaman. Dan subuh pun datang. Masih bukaan tiga.

Masih kontraksi lagi… dan lagi… dan lagi… hingga pukul sembilan pagi. Kontraksi saya sudah berjalan selama enam belas jam dengan intensitas yang lumayan. Dan masih bukaan tiga.

“Mbak, karena masih bukaan tiga, dokter menyarankan untuk diberikan obat perangsang agar bukaannya bisa nambah lebih cepat. Gimana?” Kata salah satu nakes menghampiri kami di kamar besalin.

Saya melirik ke suami. Suami pun menelepon mertua dan berdiskusi. Kami pun sepakat untuk menggunakan induksi agar kondisi badan saya yang sudah mulai melemah pun bisa segera merasakan lahiran.

Tapi rupanya induksi itu…….sakitnya tak tertahankan.

Beberapa menit setelah induksi, ketuban saya pecah. Warnanya hijau. Pertanda tidak boleh terlalu lama bayi ini berada di dalam, harus segera dikeluarkan.

Awal diinduksi saya masih bisa menarik napas panjang dan tidak panik, namun lama-lama, saya pun mulai berteriak dan beristighfar. Sampai saya menangis, suami pun sudah tidak kuat melihat keadaan saya, tapi kami tetap bertahan. Kami ingin persalinan normal.

Hingga pukul satu siang. Bukaan masih tiga.

Kami ditawari pilihan untuk operasi, jika bukaan tidak bertambah sampai pukul tiga sore.

Saya ragu-ragu dan tidak dapat berpikir jernih kala itu. Saya sudah lemas, tidak kuat, tidak mampu mendengar apa-apa lagi.. Suami dan ibu mertua saya berdiskusi, menelepon ayah mertua saya. Dan ya, keputusan beliau-beliau adalah operasi.

Saya pun menatap suami saya. Berkaca-kaca. Suami pun membalas tatapan saya.

“Dek, gapapa ya operasi aja.. Yang penting kita sudah ikhtiar semampu kita untuk bisa normal. Allah mencatat kok setiap ikhtiar ini. Kamu kuat kok Dek..”
“Iya gapapa mbak, Ibu juga dulu operasi kok. Kan kita sudah ikhtiar maksimal to, gausah nunggu sampai jam tiga, kita operasi sekarang saja.”

Saya pun mengangguk pelan. Sejujurnya, selama proses itu saya tidak mampu memberikan fokus yang maksimal ketika orang berbicara atau menanyakan hal apapun ke saya. Saya hanya mampu merasakan kontraksi dan genggaman erat tangan suami yang selalu menemani proses persalinan kala itu.

Kami memutuskan untuk operasi caesar. Operasi akan dimulai pukul dua siang. Badan saya tengah dipersiapkan oleh para nakes untuk dapat melakukan operasi. Saya pun tidak dapat merasakan apapun, badan saya sudah terlalu lemah kala itu. Entah suntikan apa saja yang sudah saya terima sejak pagi, entah intervensi medis apa saja yang sudah saya dapatkan, entah omongan apa saja yang sudah beredar di sekitaran. Saya pun dibawa ke meja operasi.

“Mbak, boleh ga suami saya masuk?” ucap saya lirih ke salah satu nakes yang sedang mempersiapkan saya untuk operasi.
“Nanti saya tanyakan dulu ke dokternya ya mbak,” jawabnya.

Saya pun masih merasakan kontraksi ketika menunggu saat-saat untuk operasi. Saya masih terus bertanya apakah suami bisa mendampingi saya saat operasi. Sampai ketika sang dokter datang, dan menyatakan peraturan rumah sakit bahwa suami tidak boleh ikut masuk. Padahal kan kalau liat IG artis, biasanya suaminya boleh ikut ya. Beda ternyata haha. Waktu mendengar jawaban dokter, saya hanya bisa pasrah. Saya pun menjalani operasi dengan perasaan….pasrah. Ya Allah, Engkaulah pemilik segala raga dan jiwa, hidup dan matiku Engkau yang menentukan.

Selama operasi, saya merasakan kesulitan untuk bernapas. Meski sudah dipasangkan selang oksigen di hidung saya, saya masih mengeluh ke dokter anestesi bahwa saya kesulitan bernapas. Akhirnya saya diberikan masker oksigen dengan tekanan oksigen yang lebih kuat dari selang oksigen. Saya masih belum bisa bernapas. Hidung saya tersumbat.

“Dok.. tolong dok.. Saya gabisa napas..”
“Bernapas seperti biasa saja mbak.”
“Gabisa..dok..”
“Coba bernapas biasa.”
“Dok..tolong..leher..dok..”
“..”
“Dok..tolong..gabisa..napas..”
“..”

Akhirnya saya memaksakan bernapas lewat mulut. Dan saya ga inget apa-apa lagi. Hanya samar-samar suara. Sampai akhirnya..

..saya tiba di ruang kamar inap. Di hadapan saya, ibu mertua saya sedang menggendong bayi mungil dibalut dengan kain putih. Orang-orang mengelilingi saya dengan tatapan berbinar. Kemudian bayi tersebut diarahkan untuk belajar menyusu dari dada saya. Meski saya belum bisa berbuat apa-apa. Obat bius masih terus bekerja hingga dua-tiga jam pasca operasi. Saya diminta untuk menunggu, jika ingin menyusui anak saya secara langsung.

Saya menunggu…dan terus menunggu…

Sambil melihat bayi merah yang baru keluar dari rahim saya itu. Si mungil yang bikin saya mual muntah selama tiga bulan pertama kehamilan itu. Yang membuat saya mati gaya cuma tiduran di kamar dari pagi sampai malam, gabisa makan apa-apa, bikin khawatir suami setiap hari. Yang membuat kami membatalkan rencana jalan-jalan dalam waktu panjang karena kondisi saya yang tidak fit. Yang membuat saya ngidam banget belut goreng tapi harganya selangit di Manchester. Yang membuat saya kangen masakan-masakan indo yang tidak sehat, macam cilok, seblak, dan masakan lain yang harus dimasak dulu, macam bakso, sambel goreng ati, lele penyet. Yang membuat saya memaksa diri untuk terus berjalan pagi dan bergerak, karena sakit pinggang yang saya rasakan jika terus berdiam diri di kamar. Yang menemani saya sepanjang perjalanan pulang ke Indonesia. Yang membuat saya sangat sulit untuk merasa baik-baik saja selama trimester akhir.

Si anak perempuan kami, Naira. Kami harap anak kami mampu menjadi anak yang rendah hati, penuh cahaya dan taat beragama sesuai dengan namanya.

Assalamualaikum, anak sholihah. Terima kasih sudah menjadi salah satu ladang pahala yang sangat luas untuk ibu. Maafkan ibumu yang masih cupu ini, newbie banget menghadapi kamu, masih panjaaangg perjalanan kita untuk saling mengenal. Terima kasih sudah menjadi anak yang sangat pintar, despite what people say about us, don’t listen to what they say ya Nak. Dan semoga kita, Abah, Ibu, kamu dan keluarga besar, bertemu dengan semakin banyak orang-orang setujuan seperjalanan.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Mohon doanya agar kami mampu mempertanggungjawabkan dengan baik amanah kami ini.

Kami tinggal di rumah sakit selama tiga hari. Selain karena saya harus menjalani perawatan pasca operasi, Naira juga harus mendapatkan suntikan karena ketuban yang keruh selama proses persalinan. Doakan semoga kami sekeluarga sehat-sehat selalu.

Oya, ternyata posisi kepala Naira kurang tepat di dalam rahim dan jalan lahir, sehingga ketika kontraksi dan dirangsang dengan obat, posisi Naira tidak segera turun untuk membuka jalan lahir. Adanya dia malah terjebak di atas, dan jika tidak dioperasi, justru tidak bisa dilahirkan. Masya Allah, begitulah rahasia Allah dalam kejadian ini. Yang juga menjawab berbagai keputusan yang terambil dalam perjalanan hidup kami.

Baru seminggu, tapi banyak sekali hikmah yang kami dapat selama menjadi keluarga baru. Ayah baru, Ibu baru, anak baru. Perjalanan pembelajaran ini baru dimulai. Mohon doanya ya.