Alhamdulillah, akhirnya saya sampai Indonesia beberapa minggu yang lalu dengan selamat dan sehat wal’afiat. Padahal beberapa hari sebelum keberangkatan udah takut ga karuan, karena harus sendirian mengarungi perjalanan belasan ribu kilometer selama 25 jam dan harus transit di berbagai kota, bawa adek bayi masih di kandungan yang uda cukup besar dan emaknya takut ga kuat trus ga ada yang nolongin. Lebay pisan. Tapi perjalanan ini….sungguh, Allah telah memudahkan.

Setidaknya itu yang saya rasakan.

Rute Manchester-Semarang saya lewati dengan menggunakan maskapai Emirates dan NAM Air menempuh 7 jam 30 menit menuju Dubai, istirahat 3 jam di Dubai, cus ke Jakarta selama 8 jam 30 menit, istirahat 3 jam di Jakarta, kemudian perjalanan 1 jam ke Semarang.

Berdasarkan pengalaman dari perjalanan ini, saya ingin berbagi tips and trick bagi para ibu hamil yang menginjak usia kandungan lebih dari 28 minggu, apalagi yang travelling sendiri saja tanpa pendamping (hiks, I feel you, buibu) sehingga insya Allah perjalanan tetap terasa kuat dan menyenangkan.

Umumkan kehamilan untuk dapat “priority”

Kalau baca-baca blog di tempat lain, kayanya banyak ibu-ibu hamil yang justru menutupi kehamilannya agar tidak ketahuan oleh pihak penerbangan. Sedangkan saya, justru menonjolkan kehamilan saya, ya bukan berarti saya jalan sambil membusungkan perut gitu ya, tapi selalu menyerahkan surat “fit to fly” ke setiap petugas penerbangan atau bandara yang saya temui. Format surat “fit to fly” dapat diunduh di masing-masing airline yang akan digunakan, atau bisa cari di Google.

Saya juga menyampaikan kondisi saya yang sedang hamil berapa minggu sehingga petugas pun tahu apa yang harus dilakukan pada saya. Selain menyampaikan kondisi kehamilan saya, saya juga meminta privilege untuk menikmati “priority” sehingga saya tidak perlu antri untuk boarding dan masuk ke pesawat. Sebenarnya untuk priority ini adalah amanah dari suami agar saya tidak perlu berlelah-lelah menunggu sambil berdiri ketika mengantri. Dan mengabari petugas sangat penting karena kita sendirian, artinya jika ada apa-apa yang terjadi pada kita, setidaknya kita bisa meminta bantuan dengan memberitahukan kondisi kita sejak awal.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan dan transit, baik check in maupun boarding, saya mendapat kemudahan untuk tidak mengantri atau pas counter-nya sepi.

Untuk check in sendiri, baik ketika saya menggunakan Emirates dan NAM Air (anak dari Sriwijaya Air), sangat penting untuk menyampaikan kondisi kehamilan kita dan menyerahkan surat “fit to fly”. Ketika di Manchester, petugas check in sudah mencatat dan menandai perihal kehamilan kita, sehingga ketika boarding mudah bagi kita untuk mendapatkan ruang tunggu boarding paling depan dan masuk lebih dahulu dibandingkan penumpang lainnya (tapi tetap saja, kita harus menunggu penumpang yang lebih prioritas daripada kita, seperti penumpang yang menggunakan kursi roda). Petugas check in di Manchester, juga menyarankan untuk memberitahu petugas keamanan bandara agar saya mendapatkan prioritas ketika melewati security.

EKGAIR_0064_525x198_tcm288-3551746

Keren gitu ya Emirates (sumber)

Sedangkan ketika melakukan check in di counter NAM Air bandara Soekarno Hatta Jakarta, ketika saya menyerahkan surat “fit to fly” dan proses check in selesai, saya diminta untuk mengisi formulir yang menyatakan kebersediaan saya untuk menanggung semua resiko penerbangan dalam keadaan hamil. Surat “fit to fly” kita akan dicek dan KTP kita akan diperiksa untuk pengisian formulir oleh petugas. Setelah itu, petugas akan memberikan satu kopi formulir untuk kita simpan dan kita serahkan ke pramugari pesawat dan surat “fit to fly” nya untuk dilampirkan, dan dua kopi untuk diserahkan ke petugas boarding. Ketika boarding sendiri, saya tidak meminta diprioritaskan masuk pesawat, karena saya mendapatkan antrian paling depan untuk bisa masuk pesawat, hehehe.

Lumayan naik NAM Air (sumber)

Lumayan naik NAM Air (sumber)

Bawa jajan

Kelaparan ibu hamil memang kadang suka muncul tanpa terduga. Dan tidak baik untuk menahan lapar bagi ibu hamil, karena janin sedang membutuhkan banyak nutrisi dari ibunya. Melihat jadwal penerbangan saya adalah jam 2 siang, sedangkan saya harus siap sedia di bandara dari 3 jam sebelumnya, saya pun sudah bisa melihat nanti saya akan kelaparan. Sebelum bertolak ke bandara menggunakan bus, saya dan suami mampir ke warung untuk membeli beberapa jajanan, setidaknya camilan untuk menunggu makan besar di pesawat.

Benar saja, sebelum masuk pesawat saya sudah kelaparan. Untung bawa jajanan, jadi saya sembari ngemil ketika menunggu boarding. Saat transit pun, sekitar jam 12 malam waktu Dubai, karena penerbangan pertama saya hanya disuguhi satu kali makan besar, maka saya sudah kelaparan lagi. Hasrat ingin mencari makan besar di airport, tapi ternyata counter fast food di dalam airport penuh dengan antrian tanpa ujung. Akhirnya saya hanya membeli camilan di convenience store airport untuk tambahan bersamaan dengan konsumsi yang saya bawa di awal.

Sampai Jakarta, waktu transit pun hanya sebentar, ditambah harus lari-lari kejar pesawat sambil bawa koper dari satu airline ke airline lainnya. Akhirnya karena sudah bosan dengan jajanan yang saya bawa, plus ngantri di fast food airport memang harus butuh perjuangan yang tidak main-main, saya pun menyerah hanya membeli satu buah roti kesukaan suami di counter dekat boarding room. Lumayan bisa mengganjal perut sampai ke Semarang.

Bawa tas jinjing yang tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu berat, untuk dijadikan sandaran kaki di pesawat

Kadang kaki suka kram atau pegal jika tidak pada posisi yang tepat. Maka disarankan kaki ibu hamil disandarkan pada sesuatu, bahkan lebih baik disandarkan lebih tinggi dari posisi badan agar peredaran darah tetap lancar. Karena tidak mungkin kita bisa memposisikan kaki lebih tinggi dari badan di pesawat, terlebih di posisi duduk, maka sebaiknya kaki disandarkan pada sesuatu, dalam hal ini saya sarankan tas jinjing. Kalau biasanya tas jinjing ditaruh di kabin, maka persiapkan tas jinjing yang tidak terlalu berat untuk ditempatkan di bawah kursi penumpang depan kita. Dengan begini, kaki kita bisa berganti-ganti posisi dan tidak terlalu pegal, aliran darah pun tetap lancar.

Bawa botol minum kosong dan meminta air minum tak terhingga

Ibu hamil sangat membutuhkan air minum yang jumlahnya lebih dari kebutuhan orang biasa. Bahkan midwife yang saya temui di Inggris, menyarankan ibu hamil itu minum setidaknya 3 liter sehari, boleh air mineral atau jus buah. No caffeine, termasuk soda di dalamnya. Dan begitu sampai di pesawat yang akan terbang selama belasan jam ke depan, tentunya akan sangat sulit menemukan air minum selain meminta ke pramugari.

Tapi, tidak perlu merasa sungkan untuk meminta air minum yang banyak ke petugas. Apalagi memang kondisi ibu hamil yang menuntut banyaknya asupan air minum ke dalam tubuh, untuk menjaga air ketuban bayi dalam kandungan juga. Saya sendiri, setelah naik ke dalam pesawat, saya menemui pramugari dan meminta izin untuk meminta air minum yang banyak selama perjalanan.

Di perjalanan Manchester menuju Dubai, saya menemui seorang petugas dan petugas tersebut dengan senang hati memberikan air satu botol minum langsung kepada saya sambil berbisik, “kalau kamu merasa kurang, nanti minta lagi saja yah.” Yang tentu saja di tengah perjalanan botol air minum 1.5 liter itu sudah habis masuk ke perut saya, saya pun meminta lagi ke petugas yang ada di bagian dapur pesawat.

Sedangkan di perjalanan Dubai menuju Jakarta, ketika saya menemui seorang petugas dan meminta supply air minum yang tak terhingga, beliau mengatakan keberatan. Namun beliau menambahkan informasi tambahan, “kamu bawa botol minum kosong? Saya akan isikan air minum sesuai dengan botol minum yang kamu bawa, dan kamu bisa meminta isi ulang jika merasa kurang.” Dan Alhamdulillah, suami sebelumnya sudah membawakan saya botol minum kosong untuk diisi di pesawat berdasarkan pengalaman beliau sebelumnya. Alasan petugas meminta kita untuk membawa botol minum kosong adalah karena persediaan air minum di pesawat yang terbatas dan penumpang lain yang melihat kita di-supply air minum satu botol merk pesawat akan ikut meminta hal yang sama. Dengan membawa botol minum kosong, permintaan penumpang lain pun dapat ditolak dengan dalih kita membawa botol minum sendiri.

Duduk di aisle dekat lavatory

Karena supply air minum tanpa batas itulah, sudah sangat jelas ibu hamil membutuhkan toilet setiap setidaknya satu jam sekali. Belum lagi, di kehamilan yang mulai menua, kondisi kantung kemih sudah tertekan dengan bayi yang mengakibatkan keinginan buang air kecil yang begitu sering.

Sangat disarankan untuk memilih tempat duduk di dekat jalan sehingga akan memudahkan mobilisasi ibu hamil untuk sekedar berjalan dan melakukan peregangan badan, juga untuk ke toilet. Saya sendiri memilih duduk di pinggir dan tepat di belakang toilet, sehingga setiap saya ingin ke toilet, saya akan mudah berguling menuju toilet yang kosong dan tidak perlu mengantri terlalu lama atau berebutan dengan penumpang lain yang menuju toilet setiap waktu-waktu ramai (biasanya waktu setelah tidur atau waktu setelah makan).

Pakai pregnancy belt

Karena ukuran perut yang semakin besar, akan terasa tidak nyaman untuk ibu hamil ketika mengalami guncangan atau getaran. Perut akan terasa gimanaaaa gitu. Maka sebaiknya, untuk kenyamanan ibu hamil sendiri, sebaiknya perut dikencangkan dengan pregnancy belt. Tapi jangan terlalu kencang, justru akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Dan entah mengapa saya amati, para penduduk dan ahli di Indonesia selalu mengkhawatirkan guncangan untuk ibu hamil ketika berkendara, karena konon katanya akan membahayakan janin dalam kandungan. Sedangkan midwife di Inggris sendiri, tidak menjadikan guncangan sebagai marabahaya. Saya pun bertanya-tanya sampai sekarang, mengapa oh mengapa? Ataukah mungkin karena di Indonesia notabene mayoritas jalanan dan kemudi itu selalu menimbulkan guncangan, sedangkan di Inggris hal itu jarang terjadi?

Pregnancy belt yang saya pakai, beli di Amazon UK

Pregnancy belt yang saya pakai, beli di Amazon UK

Pakai compression socks dan melakukan peregangan

Bahaya duduk di pesawat terlalu lama adalah timbulnya blood clot/thrombosis pada kaki karena peredaran darah yang kurang lancar. Dapat diamati jika setelah perjalanan jauh, kaki akan terasa berat dan bengkak biasanya. Apalagi bagi ibu hamil, blood clot ini bisa sangat berbahaya jika peredaran darah ke janin tidak lancar. Oleh karena itu disarankan untuk melakukan peregangan setiap satu jam sekali atau setidaknya berjalan kaki keliling pesawat selama beberapa menit. Compression socks pun dapat membantu pencegahan blood clot karena bentuk kaos kaki yang panjang hingga ke lutut dan cukup ketat juga elastis untuk menahan kebengkakan kaki yang bisa terjadi kapan saja.

Untuk peregangan sendiri, saya melakukan beberapa gerakan yang bisa dilakukan di atas tempat duduk (biar ga malu-malu banget, bangun dari tempat duduk buat jalan kaki sendirian), yang bisa dilihat di sini.

Compression socks yang saya pakai, beli di Amazon UK

Compression socks yang saya pakai, beli di Amazon UK

Isi koper secukupnya

Karena urusan koper nanti kita pun akan menanggung sendiri, maka usahakan koper tidak diisi terlalu banyak. Meski memang bisa jadi nanti kita bertemu dengan orang baik yang mau membantu kita untuk menaik/turunkan koper saat check in atau baggage claim counter, tapi kita pikirkan saja yang terburuk: kita sendirian. Toh memang kenyataannya lagi sendirian. Jangan tergoda untuk mengisi koper dengan berat maksimum, karena belum tentu nanti kita bisa mengangkatnya. Apalagi mengangkat barang berat itu tidak diperbolehkan lho bagi ibu hamil, bisa jadi akan mempengaruhi kandungan.

Saya sendiri meski koper tanpa kosong, ternyata beratnya tetap menginjak 20 kg. Akhirnya ketika saya harus baggage claim dan check in di Jakarta, juga baggage claim di Semarang, saya mengumpulkan tenaga untuk bisa mengangkat sambil menarik ke depan, bukan ke atas, jadi beban koper tidak jatuh sepenuhnya pada badan saya, ada tarikan langkah kaki yang membantu, meskipun memang membuat koper jadi agak berdebum. Yang penting kitanya sehat hehe. Dan Alhamdulillahnya bertemu orang-orang baik yang mau membantu mengangkatkan koper, bahkan mbak di check in counter NAM Air membantu mendorongkan koper menggunakan conveyor belt, jadi saya tinggal dorong dari bawah aja meski harus pake jongkok-jongkok.

Stop baper

Nah ini, karena kita sendirian, hamil pula, biasanya baper. Berhubung saya entah kenapa tidak tertarik untuk memanfaatkan entertainment yang disediakan pesawat untuk menghabiskan waktu saya, saya pun jadi mencoba menulis-nulis ide menggunakan buku. Di buku inilah terselip foto saya dengan suami. Lalu saya pun jadi kangen dan mata berkaca-kaca. Daripada malu di pesawat karena harus nangis sendirian, sebaiknya tidak usah buka-buka foto yang ada orang tersayangnya hehehe.

Foto berdua sama suami di Manchester Airport, muka saya udah baper nahan nangis hahaha

Foto berdua sama suami di Manchester Airport, muka saya entah baper atau teler hahaha

Jika para ibu yang sedang hamil trimester akhir memang kepepeet banget harus naik pesawat berpuluh-puluh jam tanpa pendamping, ada baiknya melakukan tips yang sudah disebut di atas. Satu hal yang paling penting, meski merasa sendirian, ingatlah bahwa ada bayi mungil di dalam kandungan yang menemani ibu, yang diam-diam menguatkan ibu ketika ibu merasa lemah. Jangan putus-putus melafalkan doa dan dzikir kepada Allah ketika merasa takut atau lemah, selain untuk menenangkan hati ibu, tapi juga menenangkan bayi dalam kandungan.

Sepanjang perjalanan ini pun, saya merasa terbantu sekali dengan kemudahan yang Allah berikan. Mulai dari petugas-petugas bandara yang baik di Manchester, Dubai, Jakarta dan Semarang, sampai bertemu dengan para penumpang pesawat yang ramah, suka menolong dan baik hati.

Ada sebuah kejadian tidak menyenangkan yang saya dapatkan di Dubai ketika transit, mungkin karena Dubai airport banyak penumpang transit yang nakal sehingga petugasnya pun galak. Saya minta prioritas, tapi dicengokin. Waktu itu udah lemes, karena kurang tidur juga, lemah tak berdaya, perut tegang tak kuasa. Keadaan super ramai, orang berebut antrian, mungkin mereka stress juga karena waktu dini hari saatnya tidur dan pesawat delay beberapa belas menit. Udah mau nangis diri ini, muka melas nunggu boarding hahaha. Selama penantian itu, saya cuma usap-usap perut sambil doa dan dzikir minta dikuatkan sama Allah. Sambil bisik ke dedek bayi, “kuat-kuat ya dek, ibu percaya adek kuat, insya Allah ibu juga kuat buat adek.”

Alhamdulillahnya, ada petugas bandara yang bertugas mengantarkan penumpang berkursi roda untuk masuk duluan ke pesawat, yang melihat saya kayanya kasian bener gitu ya, kemudian dia mengajak saya untuk ikut bersama dia masuk duluan tanpa antrian. Alhamdulillah! Alhamdulillah! Mana nikmat Allah mana yang kamu dustakan?

Insya Allah, Allah akan selalu memberikan kemudahan di perjalanan ibu. Semoga tips and trick di tulisan ini dapat membantu. Selamat bepergian!