Di suatu percakapan bersama suami, saya sempat bertanya bagaimana caranya menjadi beliau. Saya merasa, saya masih penuh dengan kekurangan, kurang kontrol diri, kurang sabar, kurang tolerir dalam hal memaafkan. Sedangkan batasan yang beliau pasang untuk hal-hal disebut di atas, lebih panjang dan lebar daripada batasan yang saya berikan. Sehingga untuk satu kasus yang sama, saya akan lebih dulu meledak, sedangkan suami saya masih santai saja menghadapi hidup.

Sudah lama keinginan saya untuk bisa berubah. Berubah jadi lebih baik tentunya. Memiliki batasan diri yang lebih bisa menolerir campur tangan orang lain dalam hidup. Dalam artian, sekarang saya begitu saklek pada prinsip diri, sehingga ketika ada orang lain yang ikut campur, meski hanya komentar ringan, rasanya bayangan dalam pikiran saya adalah saya sudah mencakar orang tersebut dan bilang “ngapain sih urusin hidup orang lain.” Sedangkan suami saya, orangnya santai, fokus, sudah merasa content cukup dengan dari dalam diri sendiri. Sehingga orang mau ngomong apapun, mau ikut campur dalam apapun, suami pun hanya akan “ah, ga ngaruh”.

Kekurangan saya tidak hanya itu. Masih banyak yang lainnya. Masih banyak ucapan yang tidak perlu untuk diucapkan. Masih banyak emosi yang sulit dikendalikan. Masih banyak perasaan yang tidak penting untuk dirasakan. Dan sesungguhnya, dari awal menikah, komitmen kami memang ingin sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik. Kalau kata suami, dibandingkan setahun yang lalu, saya yang hari ini sudah jauh lebih baik daripada saya yang dulu. Kalau boleh ditarik garis lagi ke belakang, bahkan saya yang dulu ketika kuliah itu jauh jauh jauuh lebih parah dalam pengendalian diri, baik ucapan, perilaku dan perasaan, dibandingkan saya hari ini. Suami selalu meminta saya untuk kembali melihat yang telah lalu dan mensyukuri keadaan saya sekarang: bahwa meski saya masih jauh dari kata sempurna, setidaknya pembelajaran saya menghasilkan progress yang cukup baik.

Tapi, begitulah manusia, begitu pula saya, tidak pernah puas dengan apa yang saya miliki saat ini. Meski kata suami, saya sudah lebih baik, tapi saya ingin lebih baik lagi. Karena terus terang saja, pengendalian diri saya masih buruk sekali dalam kacamata saya. Standar yang saya pasang adalah standar suami (ketinggian ga ya?). Saya ingin bisa satu irama dengan suami saya. Ketika beliau bisa menolerir banyak kesalahan saya, saya pun ingin bisa menjadi sesabar beliau, sesantai beliau, se-content beliau dalam hidup.

Ya memang hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, saya merasa ingin cepat-cepat menguasai teknik ini karena salah satu alasannya adalah: sebentar lagi saya jadi ibu. Saya tidak ingin menjadi ibu yang terlalu kaku dengan aturan. Saya tidak ingin menjadi ibu yang ketika sudah lelah bersih-bersih rumah, kemudian anak saya yang masih umur satu tahun memberantakinya lagi, saya menjadi marah. Saya tidak ingin saya menutupi kesempatan anak saya yang dalam perkembangannya akan bermain-main dengan lingkungan sekitarnya, tapi saya larang ini itu hanya karena egoisme saya sebagai manusia banyak aturan. Saya ingin menjadi orang tua yang dapat memberikan anak saya pilihan; dan mendidiknya menjadi anak yang bebas bertanggung jawab.

Dan diri saya yang sekarang, rasanya masih jauh dari impian saya untuk menjadi orang tua yang saya inginkan.

Kembali ke masalah pengendalian diri, baik dari segi ucapan, kesabaran, memaafkan, pikiran, perasaan, dan banyak lainnya, saya tahu dengan pasti bahwa hal itu bukanlah hal yang bisa diajarkan dari satu orang ke orang yang lain. Hal itu memang harus dipelajari sendiri, dengan seiring waktu berjalan dan ujian kehidupan yang senantiasa tanpa henti memberondongi diri sesuai dengan level kemampuan kita. Tapi tak ayal, saya terus-terusan bertanya, “Gimana sih caranya? Gimana? Gimana biar aku bisa jadi lebih baik dengan segera?”

Itulah yang sering saya tanyakan pada suami saya. Meski beliau kayanya lelah ditanya itu melulu tiap istrinya curhat (tapi ga keliatan kok mas hehe), beliau setidaknya selalu menjawab, “hmm gimana yaa”. Wow sekali bukan. Awalnya yang saya selalu ingin jawaban teknis dan beliau pun tidak bisa memberikannya (karena memang teknis tiap orang kan beda-beda tergantung pengalaman), akhirnya saya bertanya yang lebih masuk akal.

“Mindset apa yang harus aku pasang gitu mas, biar aku setidaknya bisa content dengan diriku sendiri?”

Menurut saya, pengendalian diri ini pun besar kaitannya dengan kepercayaan diri. Seberapa besar diri kita puas dengan apa yang kita miliki dari diri kita sendiri. Terus terang, self-esteem saya pun rendah sekali. Saya mudah terpengaruh dengan orang lain. Saya tidak pernah puas dengan apa yang saya miliki. Saya cukup ambisius dalam hidup; dan itulah yang membuat saya bertanya-tanya, apa rencana Allah di balik kehidupan saya dua tahun terakhir ini.

“Bersyukur dek,” kata beliau.

Suami saya sering sekali mengajarkan saya tentang syukur. Memang dasar beliau orangnya sangat positif, sedangkan saya cenderung negatif, sehingga apapun yang saya curhatkan terutama yang negatif, selalu beliau balas dengan pikiran yang positif. Yang saya tahu apa yang beliau katakan itu benar, dan cara pandang saya yang salah, sehingga saya hanya bisa manggut-manggut saja mendengarnya.

Rasa syukur ini pun sebenarnya yang membuat manusia menjadi lebih puas dengan apa yang dia miliki. Lebih content dengan dirinya sendiri. Tidak lagi melulu mendengarkan kata orang lain, tidak lagi memerdulikan kondisi orang lain sehingga iri hati, tidak lagi menuntut yang berlebihan. Rasa syukur ini yang saya rasa masih kurang dalam diri saya sendiri. Masih naik turun rasanya, beda dengan suami yang selalu mensyukuri setiap rezeki Allah, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

“Tapi rasanya syukur itu bukan yang paling dasar ya mas. Kayanya hal yang paling dasar yang harus kita miliki adalah ketika niat kita lillahi ta’ala. Ya ga sih mas?”

Suami saya pun membenarkan. Kata beliau, tidak peduli orang mau ngomong apa pun tentang diri kita, hidup kita pun tidak akan dipengaruhi dengan perkataan itu. Bahwa segala macam campur tangan orang lain dalam hidup, terutama yang buruk, di akhirat nanti justru hal itu akan menjadi pahala bagi kita. Bahwa fokus kita adalah akhirat; di dunia ini kita tidak mencari apa-apa selain bekal di sana.

Rasanya itu yang masih kurang dalam diri saya. Ikatan saya pada dunia masih cukup kuat, sampai saya tidak bisa mengendalikan diri saya untuk lebih sabar menghadapi omongan sana sini, lebih memaafkan banyak kejadian, lebih mentolerir lingkungan sekitar. Padahal jika saja saya banyak fokus pada akhirat, pasti semua-mua yang saya khawatirkan itu akan hilang dengan sendirinya.

Bahwa cukup Allah kita bersandar. Cukup Allah yang kita inginkan.

Teringat lagi ketika masa mentoring jaman di Bandung dulu, ketika membahas tentang Iman kepada Allah. Ini adalah rukun iman yang pertama, rukun yang paling dasar pula. Bahwa Iman kepada Allah tidak hanya semata-mata perihal percaya akan keberadaan Allah, tapi mencakup percayanya kita pada kebesaran-Nya, pada janji-Nya, pada kuasa-Nya. Bahwa di dunia ini semata-mata hanya mampir, kita pun akan kembali pada-Nya. Bahwa ketika kita sholat, dan mengucap “Allahu Akbar” yang dalam bahasa Indonesia adalah Allah Maha Besar, maka segala masalah yang kita hadapi saat ini pun, sangat kecil di hadapan-Nya. Bahwa semua prinsip-prinsip tentang Islam ini, seringkali kita ketahui, tapi tidak benar-benar tertanam dalam diri kita, yang membuat kita sering lupa tentang lillahi ta’ala.

Masih menjadi PR saya selama beberapa waktu ke depan untuk memperbaiki niat saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Yang membuat saya berpikir, mencoba menguak rahasia-Nya: bahwa saya yang sudah bertahun-tahun dimanjakan dengan dunia, beberapa tahun terakhir ditakdirkan oleh-Nya untuk beberes akhlaq diri, melalui banyak ladang pahala yang terhampar dalam hidup saya saat ini. Apalagi Allah dalam proses menitipkan amanah kepada saya dan suami yang tentunya harus saya jaga dan dapat saya pertanggung jawabkan nanti di hadapan-Nya. Saya tahu, tidak mungkin saya bisa tiba-tiba menjadi sabar luar biasa atau baiknya luar biasa atau kecerewetan saya berkurang sedemikian hingga ketika anak saya lahir nanti. Tapi insya Allah, saya akan berusaha menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk sekitar, target paling minimumnya keluarga, target paling maksimumnya manusia-manusia lainnya.

Semoga kita semua istiqomah dalam memperbaiki diri.

Lillahi ta’ala.