“Kalau disuruh ngulang dan milih, mau ngurus anak kayak sekarang atau ngejar karir kayak temen-temen lain, mungkin aku bakal milih hal yang sama. Susah sih ngejelasinnya kenapa.” – seorang ibu, 2017.

Beberapa bulan yang lalu, secara tak terduga Allah mengantarkan kami ke dalam fase baru dalam kehidupan: menjadi calon orang tua. Sangat tidak disangka, kami masih merantau di negara orang, suami masih sibuk melanjutkan pendidikan, dan kami baru saja menyelesaikan perencanaan kehidupan selama sampai satu-dua tahun ke depan. Melihat kondisi ini, mau tidak mau, saya dan suami harus pivot, yang tadinya akan mengejar cita-cita lain, harus bersiap-siap menjadi orang tua dalam waktu dekat. Rupanya memang benar kata suami, yang baik menurut saya itu belum yang baik menurut Allah, sedangkan Allah tahu yang paling baik untuk hamba-Nya.

Kondisi hati saya naik turun. Selain karena hormon-hormon yang mempersiapkan kehamilan ini mulai mengalir lebih deras yang menyebabkan berubah-ubahnya perasaan saya, saya juga masih ragu-ragu pada diri saya sendiri. Pertanyaan besar bertengger setiap hari di kepala saya: sanggupkah saya jadi ibu?

Karena jujur, selama ini saya berpikir bahwa menjadi ibu itu adalah suatu tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawabnya meliputi sesosok manusia baru, yang harus diberi asupan yang baik (padahal masih sering makan indomie), secara fisik maupun batin (padahal masih jauh dari kata shalehah), dari titik nol hingga siap terjun ke masyarakat. Ilmu saya mengenai kehidupan berorangtua ini nol besar, ilmu mengenai kehamilan dan melahirkan pun masih nol besar. Tapi, bukan berarti kemudian saya menyerah pasrah. Justru dengan adanya keadaan ini, saya seakan dipaksa oleh Allah untuk mempersiapkan diri saya. Namun, saya bingung harus memulai dari mana.

Sehingga pertama kali yang saya lakukan adalah menghubungi seorang teman lama yang jauh lebih berpengalaman dalam persoalan ini. Saya banyak bertukar pikiran dengan beliau mengenai persiapan kehamilan, melahirkan dan menjadi ibu secara garis besar, dan menyatakan kesulitan saya dalam mendapatkan informasi dan memulai mempelajari dunia yang menurut saya sangat baru dan tidak saya sangka harus saya pelajari dalam waktu dekat. Akhirnya, saya menyimpulkan ada beberapa langkah yang harus saya lakukan dalam mempersiapkan diri dalam menjadi seorang ibu.

Mengikuti komunitas ibu dan/atau orang tua

Berhubung saya minim sekali memiliki teman seumuran yang sudah menjadi orang tua, terutama di dalam lingkaran pertemanan saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti berbagai komunitas ibu-ibu dan orang tua. Komunitas ini sebagian besar kegiatannya dilakukan di WhatsApp Group, sehingga mudah bagi saya untuk ikut berpartisipasi, meski saat ini saya tinggal ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman. Selain itu, WAG (WhatsApp Group) ini juga menawarkan Kuliah WhatsApp (kulwap) secara rutin, biasanya sebulan sekali, bagi anggota grup dan masyarakat umum mengenai topik-topik menjadi orang tua. Mengikuti komunitas, artinya saya mudah mendapatkan informasi mengenai ilmu apa saja yang sedang hits di kalangan ibu-ibu dan mudah untuk bertanya ke orang yang lebih berpengalaman mengenai apapun yang sedang saya alami. Beberapa rangkuman kulwap yang diselenggarakan oleh komunitas Diskusi Emak Kekinian dapat diakses melalui ini.

Jika ingin mendapatkan informasi yang cukup hits, saya mencoba mengunjungi Forum Female Daily. Di forum tersebut banyak informasi mengenai wanita, termasuk di dalamnya khusus mengenai kehamilan, melahirkan, mendidik anak dan sebagainya. Namun, menurut saya kelas ekonomi anggota forum ini cenderung menengah ke atas, jadi pilih-pilih lagi saran yang cocok untuk diimplementasikan pada keadaan diri sendiri.

Sedangkan untuk informasi mengenai kesehatan kehamilan yang disarankan oleh para midwife di Inggris, lebih umumnya dunia barat, saya masih mengandalkan research melalui Google, dan menghabiskan berjam-jam waktu untuk menemukan insight spesifik untuk suatu topik yang ingin saya ketahui. Namun, pada dasarnya, midwife di sini lebih banyak mengandalkan “as long as you happy” yang intinya hamil jangan dibuat susah. Saya akan bahas lebih lengkap mengenai pemeriksaan kehamilan di Inggris, insya Allah di tulisan selanjutnya.

Saya juga mengikuti kegiatan Matrikulasi Institut Ibu Profesional, salah satu kelas yang membimbing para wanita (biasanya kalangan ibu muda) tentang bagaimana cara ideal seorang wanita dapat berperan penuh dalam keluarga, namun tidak melupakan perannya sebagai individu yang dapat berguna bagi orang sekitar. IIP sendiri menyediakan kelas lanjutan setelah matrikulasi selesai, diantaranya berupa kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, dan lainnya. Setiap kelas diadakan setiap tiga-empat bulan sekali dengan investasi sebesar seratus ribu rupiah, yang menurut saya sangat worth the money. Mengikuti kelas ini, tidak hanya membuat saya tercerahkan dengan banyak materi baru, tapi juga menyenangkan dapat bertemu berbagai macam ibu dengan keadaan, tantangan dan perjuangan mereka masing-masing yang membuat saya semakin terkagum dengan wanita yang sanggup mengambil peran sebagai Ibu.

Meng-install aplikasi kehamilan di smartphone

Karena saya tidak pintar di mata pelajaran biologi, ditambah perkembangan bayi dari minggu ke minggu itu sangat detail dan menarik plus membuat semangat setiap minggunya karena setidaknya dapat melihat keadaan si bayi meski hanya lewat gambar, saya meng-install aplikasi mengenai kehamilan, seperti BabyCenter App dan WhatToExpect App. Di aplikasi ini, diberikan informasi mengenai perkembangan bayi per minggu, perubahan badan ibu per minggu, apa-apa saja yang harus disiapkan dalam kehamilan dan melahirkan, voting mengenai keadaan yang sedang dialami, dan banyak informasi mengenai persiapan memiliki anak. Selain itu, aplikasi ini juga memiliki forum yang bisa kita masuki kapan saja, entah untuk membaca pengalaman yang pernah dirasakan para ibu atau jika ada hal yang hendak kita tanyakan.

Saya juga sudah lama meng-install Period Tracker Deluxe App, aplikasi untuk mencatat period bulanan saya. Dengan settingan “pregnancy”, aplikasi ini dapat menunjukkan perkembangan bayi, ibu dan saran untuk ayah setiap minggunya, yang menurut saya sangat berguna. Aplikasi ini juga memberikan informasi mengenai makanan yang baik dan tidak baik untuk dikonsumsi bagi ibu hamil dan do’s and dont’s bagi ibu hamil.

Membaca buku mengenai parenting

Ini super PR buat saya, karena saya terhitung sudah ngantuk duluan ketika baca beberapa halaman buku. Teman saya memberikan beberapa judul buku mengenai parenting, yang dapat memberikan gambaran bagi saya nantinya ketika menjadi orang tua, seperti: Prophetic Parenting, Islamic Parenting, dan lainnya. Beliau juga memberikan judul buku, yaitu Human Development by Diane Papalia and friends, ketika saya menanyakan tentang bagaimana saya dapat mengetahui perkembangan anak saya sesuai dengan track usia normal atau tidak.

Sayangnya, kebanyakan buku yang berbasiskan Islam sebagai dasar pengasuhan anak, masih sulit ditemukan di Inggris. Saya tidak dapat menemukan penyedia jasa dan penerbit yang terpercaya yang dapat memberikan informasi mengenai hal ini. Alhamdulillah, ada seorang teman yang menghadiahkan buku Prophetic Parenting dari Indonesia yang dibawa ke Manchester dan saya juga membeli buku Human Development sesuai dengan saran teman lama saya. Sehingga insya Allah, sedikit banyak saya membekali diri saya dengan informasi yang cukup. Sumber literatur yang lain, saya rencanakan untuk dibelanjakan dan dibaca ketika sampai di Indonesia.

Bertanya dan berdiskusi dengan teman, yang sudah dan akan menjadi ibu

Alhamdulillah, begitu sampai di Manchester, saya bergabung dengan grup WA ibu yang menyebut diri sebagai “Mahmud”. Grup ini memiliki peserta dengan berbagai macam umur, dengan rentang 23-36 tahun, punya anak maupun tidak, tapi semua peserta adalah seorang istri, entah istri yang berkuliah, bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Karena grup ini dibentuk berdasarkan semua-saling-mengenal dan sama-sama angkatan University of Manchester 2016/2017 (suami dan/atau istrinya), kami sering bertemu dalam acara-acara tertentu, setidaknya sebulan sekali. Grup ini tidak hanya memberikan informasi mengenai di toko sebelah mana yang menjual kemiri, atau apakah toko Asia dekat kampus sudah tersedia tempe, atau open PO makanan Indonesia, tapi banyak obrolan asik yang beredar di antara kami. Grup ini tidak hanya memberikan suatu hubungan persaudaraan, tapi juga sebagai emotional support bagi kami-kami yang sedang dilanda kesedihan dan kegalauan.

Ada suatu hari, kami menyempatkan satu hari berkumpul di taman saat cuaca sedang sangat cerah (sulit menemukan cuaca cerah di Manchester), dan membahas beberapa materi mengenai menjadi seorang ibu dengan berbagai kondisi, contohnya: bagaimana menjadi ibu sabar, bagaimana mengatur jadwal menjadi working mom, bagaimana menemukan passion, dan sebagainya. Selain itu, saya juga sering menanyakan dan mendiskusikan hal-hal tertentu yang bersifat lebih privat ke beberapa ibu yang terbilang lebih dekat dengan saya. Dan saya banyak mendapatkan insight baru dari pengalaman-pengalaman mereka yang jauh lebih kaya daripada saya.

Saya juga satu rumah dengan seorang teman yang juga sedang hamil anak pertama, namun sudah mengandung tiga bulan lebih dahulu daripada saya. Bedanya, beliau punya banyak teman dekat yang sudah melewati masa kehamilan dan melahirkan, dan Alhamdulillah, informasi yang beliau dapatkan berguna untuk saya juga. Kami sering berbagi cerita dan pandangan mengenai kehamilan dan bagaimana menjadi ibu ini ketika kami sedang menghabiskan waktu berdua di dapur. Kadang pun sudah sangat natural bagi saya ketika saya baru mengalami hal aneh atau lucu mengenai kehamilan, saya membagikan pada beliau (sekalian bertanya ini normal atau tidak). Sehingga memiliki teman seperjuangan seperti ini, sangat membantu menjaga mental state saya tetap normal dan positif.

Mungkin, saya tidak akan pernah sampai di satu titik di mana saya merasa sudah pantas menjadi seorang Ibu. Nyatanya, menjadi seorang ibu adalah suatu komitmen tanpa henti, yang tidak hanya sebuah penghargaan yang tak tertandingi, tapi juga sebuah pecutan untuk senantiasa belajar menjadi lebih baik. Saat ini, saya belum ada apa-apanya untuk bisa menyebut diri saya siap menjadi ibu. Saya yakin suatu saat nanti akan ada saatnya saya lelah atau menangis, seperti fase yang sudah dilewati ibu-ibu hebat lainnya, tapi insya Allah saya berusaha untuk bisa mengemban tanggung jawab baru ini dengan sepenuh hati. Karena kata mereka, seluruh perjuangan dan pengorbanan seorang ibu ini priceless.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Banyak sih Tik, cerita-cerita tentang gimana susahnya ngurus anak, yang begadang, yang konvesionalnya orang tua kita pengen ikutan, tapi gausa pikirin itu deh. Banyak kok hal-hal luar biasa yang bikin kita tuh….gitulah. Ntar rasain sendiri deh. Seru banget kok, gabisa dijelasin deh.” – ibu lainnya, 2017