Mencomot perkataan Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers mengenai ‘10,000-Hour Rule’, bahwa manusia akan mampu menjadi seorang yang ahli dalam suatu bidang jika dia telah menghabiskan waktunya selama 10,000 jam berkecimpung di bidang tersebut. Hal ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, bahwa ketika kita ingin menjadi perenang yang handal, kita harus terus berenang sepanjang 10,000 jam. Jika kita menghabiskan waktu 40 jam seminggu untuk berenang, maka dalam waktu 5 tahun, kita sudah bisa menjadi wakil negara untuk maju ke Olimpiade. Mungkin hal ini tidak hanya berlaku untuk kita yang ingin menjadi ahli di suatu minat bakat tertentu, tapi juga di bidang yang lebih abstrak, seperti…ingin menjadi orang yang lebih sabar?

Sore ini, saya dan Mas terlibat dalam diskusi yang cukup menarik. Perihal menjadi diri yang lebih baik. Suatu tujuan yang sangat abstrak, tapi saya rasa sangat realistis untuk diangankan. Pertanyaan inti kali ini adalah ‘bagaimana caranya seorang manusia dapat mencapai satu tahapan diri yang lebih tinggi dari diri sebelumnya?’

Misal, seseorang yang tidak bisa menahan hatinya untuk tidak iri dengan keadaan orang lain. Apakah seseorang tersebut suatu saat nanti akan sanggup untuk menjadi tidak iri lagi dengan orang lain? Jika jawabannya iya, bagaimana caranya?

Sedangkan, untuk dapat meraih salah satu sifat baik yang diinginkan seorang manusia, sudah tentu dapat dicari teorinya di mana-mana. Misal, ingin menjadi tidak iri hati, ya caranya dengan ikut senang dengan kondisi orang lain. Bahwa setiap orang memiliki takdirnya masing-masing sehingga sangat tidak perlu bagi kita untuk iri hati. Atau, seseorang ingin menjadi lebih sabar, ya caranya dengan mengontrol diri sendiri. Bahwa di setiap kita ingin meledak, maka kita harus menarik napas panjang berulang kali sampai hitungan sepuluh, kemudian ledakan itu akan teredam. Banyak sekali teori yang dapat kita pelajari untuk mendukung diri kita menjadi lebih baik.

Sayangnya, tujuan ‘diri kita yang lebih baik’ itu adalah sesuatu yang abstrak. Yang semakin banyak kita serap teorinya, kita semakin yakin akan ke-omong-kosong-an teori tersebut. “Yee ngomong sih gampang, prakteknya susah!” Sering sekali kita mendapati diri kita mengakui hal tersebut.

Keabstrakan hal ini memang lebih mengarah ke tacit knowledge daripada codified knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang sulit dibagikan dari satu orang ke orang yang lain. Seseorang yang menjadi tempat bertanya akan sulit menjelaskan bagaimana caranya mempelajari suatu keahlian, karena keahlian ini lebih mudah untuk dirasakan daripada dikatakan. We know more than we tell. Dan tentunya, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam mendapatkan keahlian ini. Terlahirkan pula kata-kata “jam terbang tinggi” terkait dengan tacit knowledge ini. Hal ini berseberangan dengan codified knowledge, di mana ilmu tersebut dapat dipelajari, diakses dan ditransfer dengan mudah dari satu orang ke orang yang lain.

Misal, seperti kemampuan untuk berenang. Jika kita bertanya pada atlet renang, dia akan memberikan saran seperti menggerakkan tangan sampai bahu dan kaki sampai paha, namun hanya sampai situ cara dia mengkomunikasikan keahlian dia untuk dapat kita pelajari. Sisanya, kita hanya mampu berusaha mempraktekkannya sesuai dengan saran tersebut.

Jadi, ‘diri kita yang lebih baik’ adalah abstrak dan berupa tacit knowledge. Lalu apakah kita masih mempunyai kesempatan untuk mencapainya?

Justru karena tujuan itu adalah tacit knowledge, di sinilah kita mampu menggunakan teori 10,000 jam. Untuk menjadi perenang handal, tidak cukup bagi kita jika sekedar mempelajari teori dari buku, internet atau perenang lain, tapi harus dipraktekkan. Setidaknya, jika kita menghabiskan waktu selama 10,000 jam untuk masuk ke dalam kolam renang dan mencoba menggerakkan badan kita, kita akan mampu menjadi perenang handal.

Namun, praktek 10,000 jam bukan hanya sekedar kita bergerak main air di kolam renang. Malcolm Gladwell menjelaskan dalam Outliers, bahwa 10,000 jam ini merupakan waktu yang dihabiskan untuk deliberate practice. Teori ini ditemukan oleh Anders Ericsson yang dijadikan dasar oleh Malcolm Gladwell dalam teori yang dia buat. Artinya, kuantitas dalam belajar tidak hanya diperlukan untuk mengasah kemampuan kita, namun juga dibutuhkan kualitas dalam proses belajar tersebut. Dalam proses belajar tersebut, kita membutuhkan well defined goals secara bertahap dan kemampuan untuk mengevaluasi hasil pembelajaran tersebut sehingga kita dapat mengetahui letak kesalahan kita. Jika kita tidak mampu mengevaluasinya sendirian, kita memerlukan pendapat para ahli untuk dapat mengevaluasi sudah sampai mana kita mampu mempraktekkan tacit knowledge tersebut dan di sebelah mana kita harus memperbaikinya agar kita dapat menjadi lebih baik.

Misal, setelah 40 jam seminggu kita habiskan untuk belajar berenang, maka kemudian kita mencoba melihat apakah tangan kita sudah bergerak ke arah yang benar, apakah kepala kita sudah menarik napas di waktu yang tepat, apakah kaki kita sudah bergerak secara keseluruhan. Akan lebih baik, jika kita belajar renang pada seorang guru renang atau atlet renang, sehingga kita dapat lebih mudah untuk menemukan kesalahan kita.

Dengan teori-teori di atas, saya rasa sangat wajar ketika kita ditempatkan di kondisi yang sangat tidak nyaman bagi kita, sebagai salah satu sarana bagi kita untuk mempraktekkan teori yang kita miliki dalam meraih ‘pribadi yang lebih baik’. Tidak perlu khawatir jika kadang dunia terasa sempit untuk bernapas. Jangan lupa selalu sempatkan beberapa jam dalam seminggu untuk mengevalusi diri kita dan ajak orang paling dekat dengan kita untuk membantu menilai diri kita.

*Featured image taken from here