Berkaitan dengan hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini, pada orang-orang di sekitar saya yang sedang mengalami ini, artikel yang saya baca dan beberapa film yang saya tonton, saya memutuskan untuk menulis hal ini.

Manusia Dengan Manusia

Manusia memiliki masalahnya masing-masing.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa masalah yang dihadapi oleh seseorang pada saat itu disesuaikan dengan kemampuan dia pada saat itu. Maka, tanpa disadari, saat kita mengetahui apa yang sedang dialami orang lain, kadang kita membandingkannya dengan kemampuan diri kita dan menilai masalah orang lain tersebut.

“Ih, cuma gara-gara cowok aja kenapa dia kaya gitu sih?”

“Wah, kalau aku jadi dia, pasti ga kuat deh ngadepin LDR gitu.”

“Kok jauh-jauh ke sini, istrinya ditinggal di Indonesia? Ga kasian apa?”

Tentu saja, masalah orang lain bisa jadi terasa lebih mudah bagi kita, atau bisa jadi lebih sulit. Tapi, sangat tidak perlu bagi kita untuk membandingkan keadaan orang lain dengan diri kita dan bukan hak kita untuk menilai kondisi orang lain berdasarkan kemampuan kita. Sama-sama manusia aja sih, satunya dikasih A, yang lain dikasih B, perbandingannya ga akan pernah bisa apple-to-apple.

Kita tidak akan pernah bisa memahami orang lain, tanpa mengerti apa yang tengah dia hadapi.

Dalam artian, sebagai orang luar, kita hanya tahu hasil akhir dari suatu kondisi seseorang. Hasillah yang menjadi suatu standar baik buruknya seseorang di mata masyarakat. Misal, “oh dia sukses, rumahnya besar, uangnya banyak.” Padahal kita tidak tahu bagaimana proses ketika dia berusaha mendapatkannya, apa motivasi dia untuk mendapatkan kesuksesan itu, bagaimana kehidupan dia sekarang, dulu dan nanti.

Adalah proses, salah satu hal penting dalam kehidupan seseorang, yang tidak akan pernah bisa dinilai berdasarkan kemampuan manusia.

Kesempurnaan

Terlebih lagi, sebuah kondisi ideal yang ditawarkan di tengah-tengah masyarakat, seakan menuntut kita menjadi sempurna. Di Indonesia contohnya, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, menikah, punya anak, dan sebagainya (it is still lived in Generation X and Y). Intinya, it is a lot to bear. Sayangnya, kesempurnaan itu sering digembor-gemborkan sebagai sebuah tongkat yang diestafetkan kepada keturunan, saudara, tetangga, teman. Sebuah potret manusia ideal, yang jika kita tidak memiliki salah satu diantaranya, maka kita adalah produk gagal.

Seorang anak usia 10 tahun, yang harus mengalami perceraian orang tuanya, harus mengecap titel “anak broken home.” Kemudian dia mencari kebahagiaan lewat teman-temannya, yang ternyata terlibat dalam pergaulan yang salah, menjadi bisik-bisik tetangga “oh dia mah broken home, pantes aja jadi begitu.” Bahwa sebuah produk gagal adalah hasil dari ketidaksempurnaan kita dalam menjalani kehidupan.

Dan memang membicarakan dan menilai orang lain itu, sangat jauh lebih mudah untuk dilakukan daripada berusaha untuk menolong dan berbicara langsung pada orang tersebut. Karena tidak perlu ada keberanian lebih untuk bersikap judgemental terhadap orang lain.

Meski mungkin, bagi generasi Y dan millennials di masa depan, kesempurnaan itu akan berubah menjadi “living the dream”. Bahwa manusia yang kemudian berprofesi sebagai pegawai bank akan dinilai sebagai konvensional dan “gagal dalam meraih mimpinya.” Bahwa pegawai kantoran akan dinilai sebagai “masyarakat biasa” karena hidup berdasarkan standar yang dimiliki masyarakat pada umumnya. Karena generasi sekarang, ingin sekali menjadi istimewa, sehingga yang biasa itu akan terasa tidak menyenangkan.

Belum lagi, kesempurnaan yang sudah ada di dalam pikiran kita. Ketika kita sangat ahli dalam suatu hal, dan terbiasa mendapatkan pujian di hal tersebut, membuat kita yakin bahwa kita sempurna di satu bidang. Hingga suatu hari, ketika ternyata kita mengalami kejadian yang meruntuhkan keyakinan kita itu, menerima ketidaksempurnaan kita menjadi suatu hal yang sulit.

Bagi sebagian orang, menjadi tidak sempurna itu tidak mudah. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa pengakuan dari orang lain merupakan salah satu kebutuhan utama. Ini bukan soal fenomena manusia saat ini, tapi juga tertera pada Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, pengakuan merupakan kebutuhan tingkat ke-empat.

MaslowsHierarchyOfNeeds

Maslow’s Hierarchy of Needs, source: wikipedia

Rasa Kecewa dan Depresi

Ketika seseorang mempercayai bahwa kesempurnaan adalah satu-satunya pilihan untuk dapat diakui orang lain, dia akan merasakan tekanan yang besar dari sekitar dan dari dirinya sendiri untuk bisa menjadi sempurna. Sehingga tidak jarang, ketika dia gagal menjadi sempurna, dia akan kecewa dengan dirinya sendiri.

Saya rasa, rasa kecewa itu hampir ada di setiap manusia. Kecewa karena keinginan kita tidak tercapai. Kecewa karena kita tidak gagal mencapai kesuksesan yang kita definisikan sendiri. Rasa kecewa itu, jika diselami terlalu dalam, akan mengarah ke depresi. Maka, saya pikir, kita semua mungkin pernah merasakan secuil depresi. Secuil saja mungkin sudah terlalu menyakitkan buat kita, apalagi orang yang benar-benar merasakan depresi itu?

Tidak jarang depresi itu menguasai pikiran dan bunuh diri bukan hal yang mustahil terpikirkan.

Sedihnya, orang depresi itu – karena kekecewaan pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi sempurna – merasa hidup sendirian. Apakah mungkin mereka berpikir, karena ketidaksempurnaannya itulah, mereka merasa mereka tidak akan diterima siapapun di dunia ini? Apakah mereka merasa terlalu berat menghadapi masalahnya dan tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya, sehingga cara yang paling mudah adalah untuk lari dari masalah tersebut? Dan yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengakhiri hidupnya sendiri?

You don’t have to be perfect.

Setelah korban-korban depresi tersebut meninggal, yang tersisa adalah orang-orang yang ditinggalkan. Dan mereka sangat menyesali kepergian korban, menyesal karena tidak pernah tahu mereka mengidap depresi, menyesal karena melihat kondisi korban ketika hidup terlihat baik-baik saja, menyesal karena tidak menyelamatkan korban ketika waktunya masih ada. Bahwa mereka mengasihi korban sebesar itu, meski mereka tidak pernah menunjukkannya. Karena mereka merasa semua baik-baik saja.

You don’t have to be perfect.

Kepada kamu, yang saat ini merasa kecewa, there are many people out there who truly love you, more than you know. Kadang memang rasanya sendirian, tidak ada orang yang dapat mengerti apa yang sedang kita alami saat ini. But how would they know if you never share your story? If you never share your feeling, they won’t know how to comfort you.

You are not alone.

Dan sangat tidak perlu untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan di luar sana tentang kamu. It is not important. Kalau memang isinya hanya tuntutan yang akan membuat kamu tertekan dan menggelepar, buat apa didengarkan? Hanya akan membuat kamu semakin merasa kecewa; dan sangat tidak penting rasanya untuk membahagiakan orang-orang di luar sana yang tidak tahu apa yang sedang kamu alami. Kita tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang.

As long as you are happy with yourself, it is enough.

It is okay to fail. Manusia itu tidak akan disebut manusia kalau tidak pernah gagal. Orang yang sering upload foto bahagia di sosial media itu, bukan berarti mereka tidak pernah gagal, hanya mereka tidak pernah menunjukkannya. Mungkin, mereka hanya menunjukkannya ke orang-orang terdekat mereka perihal kegagalan itu, and so do you. Saya termasuk orang yang percaya, who does not kill you only makes you stronger.

Imperfection is the human’s perfection.

Dan kepada kamu, yang saat ini baik-baik saja, it is time for you to change. Mencoba menilai orang lain dan membandingkan kondisi dia dengan kita (in a bad way) itu tidak ada gunanya. We live different lives, we are different people; setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Ada satu masalah yang mungkin menurut kita tidak penting, tapi menurut orang lain itu sangat berharga. Berhentilah menuntut orang lain menjadi sempurna.

Be there.

Mari kita mencoba lebih empati dan sensitif dengan orang-orang di sekitar kita, mencoba lebih membaca kondisi apakah mereka baik-baik saja? Mungkin kita tidak bisa menjadi solusi, tapi mungkin kita bisa menjadi jembatan dari solusi itu, atau mungkin hadir untuk menjadi pendengar yang akan melegakan hati dan pikirannya.

Dulu, pengalaman saya ketika kuliah menjadi Peer Counselor, kita tidak diperbolehkan memberikan solusi untuk orang lain. Kita hanya diperbolehkan untuk mendengarkan, mengulang apa yang dia ceritakan, memberikan perhatian penuh, tanpa mengarahkan dirinya ke suatu jawaban. Karena sesungguhnya setiap orang yang memiliki masalah, mengetahui jawaban dari masalahnya, namun dia belum bisa menemukannya sendiri. Maka, kita mengajak dia untuk sama-sama menemukannya. Well, maybe in some occassions, you will need this kind of method.

I know the feeling when some people around me always wanted to die. Because they thought their problem would go away once they died, but was it? It made me think, did they ever once thought about how much I needed them, more than they knew?

And once it’s too late, it’s too late to come back.

Don’t be too late to say how much you care about them. It is not a sign of weakness by saying it; it just shows how brave and strong you are.

In the end, it is okay for us to be imperfect.