Bisa dikatakan, sudah lama saya mengagumi beliau, jauh sebelum saya menikah dengan salah satu anak tertua beliau. Bukan kebetulan, saya sudah berteman dengan Mas lama, dan sudah sering mendengar cerita mengenai beliau sejak tingkat empat dalam perkuliahan. Saya dan Mas mengerjakan Tugas Akhir bersama satu dosen pembimbing yang sama, dan satu kelompok Tugas Akhir kami memang cukup dekat. Ditambah lagi, saya dan Mas akhirnya bekerja di satu tempat yang sama, di satu divisi yang sama, sehingga kami sering bercerita banyak hal di luar pekerjaan. Salah satunya, saya sering mendengar cerita tentang keluarga Mas (meski kalau bercerita tentang adik, Mas hanya menyebut kata “adik” tanpa menyebut nama, jadi kadang kami tidak tahu adik yang mana yang sedang disebut), termasuk perihal Ibu.

Dari cerita-cerita Mas, terlihat Mas sangat mengagumi Abah dan Ibu. Ibu adalah sosok yang sepertinya menjadi standar wanita idola bagi Mas. Yang paling beliau garis bawahi adalah bagian patuh kepada suami dan sabar menghadapi anak-anaknya. Cerita tentang Ibu dari sudut pandang anak-anaknya dapat diambil dari sini dan sini (buka halaman 185). Kekaguman Mas terhadap kedua orang tuanya, membuat saya menumbuhkan perasaan yang sama kepada orang tua Mas, sehingga ketika datang hari di mana Mas dan orang tuanya datang ke rumah untuk melamar saya, rasa grogi saya meningkat curam karena hendak bertemu dengan dua idola Mas, sekaligus sadar bahwa saya ini manusia super kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dua tokoh besar dalam hidup Mas ini. Jadi wajar saja, di hari lamaran itu, saya dinilai sebagai orang yang kalemnya luar biasa hahaha.

Di hari pernikahan, Ibu datang ke kamar saya ketika saya sedang dirias. Ibu memandang saya yang sedang dirias sambil tersenyum haru cukup lama, hingga akhirnya beliau tersentak dan melanjutkan kesibukannya dalam menyiapkan pernikahan kami. Beliau memasukkan barang-barang seserahan yang cukup banyak ke dalam kamar saya dibantu dengan saudara-saudara yang lain. Ibu pun masih sempat mengajak bicara saya setelah saya sedang menunggu akad nikah. Selesai acara pun, Ibu sudah menganggap saya sebagai anak sendiri (GR-nya saya aja sih hahaha).

Saya sadar betul, bahwa sebagai istri, saya sepenuhnya adalah pendukung suami. Dalam Islam diajarkan bahwa seorang lelaki bertanggung jawab terhadap empat perempuan: ibu, istri, saudara perempuan dan anak perempuan. Sehingga sebelum menikah pun, saya sudah mengerti bahwa sebagai istri nanti saya harus mengutamakan ibu suami, saudara-saudara perempuan suami dan anak-anak perempuan suami kelak. Dalam Islam pun diajarkan, bahwa bagi lelaki, salah satu jalan menuju surga yang utama adalah dengan patuh terhadap ibunya, sedangkan bagi perempuan, jalan itu adalah dengan taat kepada suami. Sehingga saya sepenuhnya sadar, bahwa saya harus mengutamakan suami saya dalam kehidupan, termasuk di dalamnya ketika suami mengutamakan ibunya.

Dalam kasus saya sendiri, menikah dengan Mas artinya saya sudah setuju untuk memprioritaskan lebih dari tujuh orang wanita yang sudah hadir dalam kehidupan Mas sebelum saya: Ibu dan enam saudara perempuan Mas, dan nantinya anak-anak perempuan Mas kelak. Karena pada akhirnya, saya yang paling fleksibel untuk memahami suami dalam kondisi apapun, sekaligus sebagai salah satu jihad saya untuk berbakti kepada suami dan keluarganya.

Bagi saya, yang kurang lebih hampir tujuh bulan menikah, Ibu sudah seperti Ibu saya sendiri. Yang memang sabar dalam kondisi apapun (yang saya belum nanya resepnya, kayaknya sih sabarnya Ibu itu lahir dari mengurus sembilan orang anak), mengutamakan Islam dalam kehidupannya dan keluarganya, super sederhana (Ibu jarang belanja buat diri beliau sendiri), berhati lembut (kadang kalau pas ngobrol berdua yang terharu gitu eh malah jadi nangis bareng), sangat menghormati dan menyayangi Abah dan anak-anaknya (kelihatan dari topik cerita Ibu ke saya dan ekspresi beliau dalam bercerita), pantang bolos baca Al Quran, menerima dan mengerti bahwa kemampuan setiap anak-anaknya berbeda-beda. Dan masih banyak kepribadian Ibu yang membuat saya mengerti kenapa Mas sangat kagum terhadap beliau, yang membuat saya pun sangat kagum dan sayang terhadap beliau, dan membuat saya berusaha untuk bisa meneladani Ibu.

Semakin ke sini, anak-anak Ibu semakin besar dan dewasa. Ada beberapa yang sudah menikah, banyak yang menuntut ilmu ke luar kota, dan tinggal dua paling kecil yang di rumah, itu pun mereka sudah mengutamakan bermain bersama teman-temannya. Meski Ibu bukan lagi yang utama, tapi Ibu masih tetap yang dicari ketika anak-anaknya memerlukan bantuan. Kadang sedih melihat Ibu ingin ngobrol sama salah satu anaknya, tapi anaknya lebih memilih untuk menonton film di laptop, padahal jarang bertemu Ibu. Alhamdulillah, Ibu masih sering ngobrol via chat atau telepon dengan anak-anak perempuannya yang besar-besar, meski sebagian besar sudah menikah. Setidaknya, bagi saya dan Mas, Ibu tetap dan akan menjadi prioritas, insya Allah sampai akhir hayat kami.

Selamat hari Ibu, ya Bu..

Meski saya cuma bisa mendengarkan, semoga Ibu tidak bosan berbagi cerita dengan saya 🙂