Susah ya cari makanan halal di Bali? Iyaa, susaaah. Sepanjang jalan warungnya Babi Guling, Sate Babi, Babi Asam Manis (yang terakhir ini saya ngarang). Jadinya selama di Bali, Mas Suami dan saya hati-hati banget mau milih makanan. Gamau milih sembarangan. Apalagi ada pesan dari Abah, “hati-hati makannya, warung padang di sana juga bisa jadi ada babinya.” Bukan masalah dagingnya aja sih, tapii kami juga menghindari kalau alat masaknya dicampur antara babi dan bukan babi. Atau alat makannya dicampur juga.

Karena ingin menghindari hal-hal tersebut, jadilah Mas Suami paling gencar nyari makanan halal via Google, Foursquare dan Trip Advisor. Mas Suami itu seleranya tinggi, jadi rating restorannya harus bagus, review makanannya harus enak, meskipun Mas Suami itu doyan segala macem dan apapun yang dimakan pasti dibilang enak, hehe.

Berencana nonton Tari Kecak yang artinya jam 19.00 udah harus sampai di tempat tujuan, jadilah kami sekitar jam 16.30-17.00 berangkat dari penginapan menuju tempat makan, namanya Bale Udang. Lengkapnya sih Bale Udang Mang Engking, tapi ribet ya sis bro nyebutnya, disebut BUME aja gimana? Setuju aja yaa, hehe. BUME ini terletak di Jalan Raya Goa Gajah, yang memang satu arah dengan perjalanan menuju tempat pertunjukan Tari Kecak yang akan kami datangi malamnya.

BUME tampak depan di malam hari. Doc: Pribadi.

BUME tampak depan di malam hari. Doc: duasajadah.com.

BUME terletak di pinggir jalan raya, jadi tergolong mudah untuk mencari tempatnya. Sayang sekali, meskipun BUME ini tempatnya luaas, bahkan tempat parkirnya aja luas banget, tulisan BUME-nya kurang besar. Sampai-sampai kami harus berhenti dulu di pinggir jalan untuk memastikan, apakah ini beneran BUME? Bukan BUMIL? (iiih ga lucu yaa, maaf yaa… selera humornya cetek). Begitu yakin ini BUME, kami masuk untuk parkir motor di sembarang tempat (saking luasnya dan ga ada tukang parkirnya). Begitu masuk restoran, kami disambut oleh mbak-mbak bali yang melayani kami. Kami ditawari untuk makan di meja kursi atau bale lesehan. Dasarnya kami ini dari kampung, ya mintanya lesehan ya.

Pemandangan yang tampak dari gazebo tempat kami lesehan. Doc: Pribadi.

Pemandangan yang tampak dari gazebo tempat kami lesehan. Doc: duasajadah.com.

Tapi bale lesehannya bukan sekedar lesehan! Mas Suami aja sampai berdecak kagum melihat desain balenya. Jadi bangunannya itu dari bambu, didirikan di atas kolam air yang banyak ikannya. Begitu kita duduk di samping meja, di bawah meja itu bentuk bale lesehannya menjulang masuk ke permukaan air. Alias kita bisa duduk layaknya di atas kursi! Ga bakal pegal-pegal kaki dan pantat ini karena kebanyakan duduk bersila karena bentuk bale lesehan yang luar biasa ini. Dan jangan takut basah atau digigit ikan, karena bagian dasar kakinya dibungkus dengan jala yang membuat dasar bale tempat menaruh kaki tersebut kering.

Pemandangan di sekeliling BUME ini sangat indah. Kami disuguhi dengan pemandangan kolam dan penataan meja-kursi-ala-ala-romantis-di-tengah-kolam di sebelah timur, sedangkan di sebelah barat pemandangan sawah dengan luas menjulang. Mau makan pakai tangan pun mudah, disediakan keran air di depan bale. Kalau ga suka atau merasa terganggu dengan musik tradisional Bali yang diputar, terdapat pengatur volume musik di salah satu tiang bambu bale. Mau sok-sok romantis duduk-duduk di pinggir kolam juga bisa, bentuk balenya memungkinkan untuk itu.

Kami memesan dengan cukup bar-bar: udang madu (makanan rekomendasi BUME), iga bakar sapi (lapar mata saya sang pecinta kolesterol), sate ayam (karena takut Mas Suami masih lapar), karedok (nyayur biar sok-sok sehat) dengan minuman ciamik pula: Mas Suami pesen Soda Gembira, saya pesen Refresher (semacam leci plus soda plus sirup mint dan jeruk) dan teh manis hangat (maklum, saya sapi gelonggong minumnya banyak).

Pesanan yang bar-bar. Doc: Pribadi.

Pesanan yang bar-bar. Doc: duasajadah.com.

Mas Suami lagi-lagi berdecak kagum melihat menunya yang bagus dan harganya yang cenderung tidak terlalu mahal. Kemudian beliau bertanya-tanya untungnya dari mana. Kemudian kami pun berdiskusi tentang bisnis model restoran ini (ini ceritanya mau pacaran apa mau seminar). Kemudian Mas Suami pun berandai-andai tentang bisnis restoran ini (padahal cuma mampir, bukan yang punya).

Kami banyak mengambil foto sambil menunggu makanan datang. Banyak spot-spot menarik dan untung restorannya masih sepi (lha siapa yang mau makan jam 5 sore selain kita). Kami juga disuguhi makanan dan minuman pembuka, kayanya khas Bali gitu (asli saya sotoy, soalnya rasa minumannya aneh, hahaha).

Minumannya khas Bali kayanya, cuma berani ngicip dikit. Doc: duasajadah.com.

Begitu makanannya datang, lagi dan lagi Mas Suami berdecak kagum, “Wah porsinya banyak ya, kayanya ini restoran keluarga deh.” Daan makanannya enak-enak semua! Sayang semua yang kami pesan itu manis (lidah dan selera Jawa itu tidak bisa berbohong). Akhirnya kami kekenyangan sendiri. Dan pada dasarnya kami ini adalah orang-orang pembela bumi yang tidak ingin menyia-nyiakan makanan yang tersisa (baca: gamau rugi), akhirnya sisa makanannya kami bungkus untuk dibawa pulang.

Menjelang malam, restorannya makin kreatif. Di sepanjang kolam, terpasang lampion merah yang dinyalakan. Meja-kursi-ala-ala-romantis-di-tengah-kolam itu pun menunjukan keromantisannya, dengan ditambahkan lilin di tengah meja dan suasana yang kalem. Kayanya banyak yang melamar nikahan di sini deh (baper). Awalnya Mas Suami ngajakin foto di tengah-tengah kolam (semacam ada panggung terang di ujung meja ala-ala tadi), tapi karena lampionnya ga kelihatan akhirnya ga jadi foto. Saya tetap pengen foto yang kelihatan lampionnya, tapi karena Mas Suami ini orangnya gengsian dan pemalu, gamau selfie karena dilihatin orang, akhirnya cuma bisa satu kali foto dan blur. Alhamdulillah :” Akhirnya kami pergi dari BUME dengan tidak membayar uang parkir! Yeay! (kayanya kebiasaan di Bali memang tidak membayar uang parkir deh, karena saya sempat bayar uang parkir pas di Seminyak, trus mas-mas tukang parkirnya menatap uang itu dengan heran. Entah heran kenapa dikasih uang atau heran karena uangnya cuma dua ribu, hehehe)

Tuh kan cucok buat yang mau ngelamar! Doc: Pribadi.

Tuh kan cucok buat yang mau ngelamar! Doc: duasajadah.com.

Ga rugi pake banget bisa makan di Bale Udang Mang Engking ini! Siapapun yang mampir ke Ubud, bisa cobain tempat makan ini, dijamin puaass banget!