Alhamdulillah, telah berlangsung acara akad nikah dan tasyakuran kami, pada hari Minggu, 22 Mei 2016 di Hotel Semesta, Semarang. Persiapan pernikahan ini dilaksanakan kira-kira 3-4 bulan, all in, mulai dari survey, membandingkan satu vendor dengan vendor yang lain, nego-nego harga dan paketan, deal, hingga komunikasi terus berlanjut sampai hari H. Semua kami lakukan sendiri, ga cuma Mas Suami dan saya aja yang heboh, tapi juga berbagai pihak keluarga, terutama adik perempuan Mas Suami yang super lincah dan energik, repot dari zaman baheula sampai hari H (makasih, Dek Ifa!).

Banyak sih orang yang nanya, kok ga pake WO aja sih? Mana susah kan, pas persiapan, Mas Suami lagi belajar di Kairo, Mesir, saya lagi kerja di Jakarta, lah yang di Semarang siapa yang ngurusin? Nah itulah, Alhamdulillah sekarang serba digital, jadi hampir seluruh persiapan dilakukan via online (kecuali Dek Ifa yang mondar mandir ke sana ke mari). Mencari-cari vendor pun kami lakukan kebanyakan melalui Instagram dan Google. Lagipula konsep pernikahan yang kami inginkan itu sangat sederhana, bahkan kami hanya mengundang teman-teman akrab saja, tidak menggunakan adat ini itu, tidak menggunakan prosesi berhari-hari yang makan waktu, tenaga dan biaya. Toh pada akhirnya nikah itu yang dicari SAH-nya saja to? Selama SAH ya Insya Allah jadilah! Hehe.

Apa saja sih komponen-komponen utama dalam menyiapkan akad nikah dan tasyakuran? Mungkin kami bisa membagikan cerita kami untuk membantu teman-teman yang ingin menyiapkan pernikahannya. Terlebih, yang berada di kawasan Semarang dan sekitarnya. Adapun kami tidak akan memberitahu harga pasti, tipsnya: pinter-pinter nego aja yaa.

Administrasi (KUA dsb)

Kalau ga ada ini, ya gajadi nikah sob. Administrasi ini harus sudah diurus dari jauh-jauh hari, mengingat orang yang menikah itu tiap minggu pasti adaa aja. Kalau surat-surat sudah terkumpul dan sudah terurus, insya Allah kita dapat jaminan tag hari, waktu dan tempat agar Bapak Penghulu dapat mengesahkan pernikahan kita.

Yang pertama kali harus dimusyawarahkan adalah tempat, hari dan jam berapa dulu. Setelah itu, urus surat untuk calon yang hendak numpang nikah. Misal kalau dalam kasus saya, Mas Suami kan orang Bojonegoro, beliau harus urus dulu ke KUA Bojonegoro istilahnya laporan kalau beliau mau numpang nikah di Semarang. Nanti, dari KUA Bojonegoro akan memberikan satu bundel kelengkapan surat untuk diserahkan ke KUA Semarang. Jangan lupa, lapor dulu ke RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Pastikan tidak ada berkas yang lupa. KUA juga memberikan beberapa lembar formulir untuk ditandatangani oleh calon, orang tua calon, bahkan ketua RT dan RW. Jadi, sebaiknya mampir dulu ke KUA buat tanya-tanya, minta formulirnya, baru laporan ke RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan, lengkapi berkas-berkas dan laporan lagi ke KUA.

Kalau kita ingin menikah di luar hari kerja dan bukan di kantor KUA, maka ada biaya resmi yang harus dibayar sebesar 600 ribu. Tapiii ya begitulah, ada biaya plus plus common knowledge untuk urus ini itu, antar ini itu, biaya transport lalala. Setiap daerah bisa berbeda-beda kebutuhannya. Ada yang terus terang mintanya berapa, ada yang telepon hari H-1 minta parsel (ini beneran kejadian di salah satu senior saya), ada yang minta dijemput di hari H, ada yang malu-malu tapi mau. Saran saya sih, daripada ambigu, mending tanya aja langsung, gausa malu-malu. Daripada salah ntar, malah gajadi nikah hehe.

Oya, kalo Mas Suami sama saya kemarin, ada pemeriksaan calon pengantin, sekitar dua minggu sebelumnya. Kurang lebih ditanya-tanya soal berkas-berkas, soal mas kawin, soal ini itu. Hati-hati dilempar pertanyaan yang awkward, jawab aja pakai senyum ikhlas. Bapak KUA yang nanya akan memberikan nasehat-nasehat perihal pernikahan dalam Islam, jadi menurut saya worth it kok buat dilakukan.

Tempat

Banyak yang jadi faktor menentukan tempat. Jangan lupa soal harga dan penawaran. Bisa jadi harganya murah banget, tapi ternyata cuma sedia gedung. Atau harganya lumayan, tapi kalau pakai catering dari luar harus tambah ongkos. Harus pinter-pinter membandingkan mana yang paling menguntungkan buat kita. Meskipun kita punya duit buanyuak buanget dan mau kita habiskan, sayang sob kalo cuma buat tempat. Mending buat makanannya aja, yang enak buat tamunya.

Banyak pula orang yang bertanya, kok tempatnya jauh banget sih, dari rumah saya? Begini bapak ibu tercinta, tempat yang paling worth it itu di Hotel Semesta, paling cocok dengan kebutuhan kami. Selain itu, juga karena letak Hotel Semesta yang masih tengah kota sehingga mudah ditemukan oleh tamu undangan yang ga pernah mampir ke Semarang sebelumnya. Mas Suami dan saya banyak googling beberapa waktu sebelum survey tempat, melihat harga, paket penawaran dan tampilan gedung tersebut. Kenapa carinya di hotel? Selain karena biasanya paketnya lengkap jadi bisa menekan harga, juga karena tamu undangan kami kebanyakan dari luar kota. Biar enak buat tamunya, kan tinggal nginep di hotel aja, paginya langsung cus ke nikahan.

JPEG Image

Hotel Semesta

JPEG Image

Rafles Ballroom, tempat pernikahan kami, tampak dari depan

Makanan

Karena keluarga Mas Suami sudah jatuh cinta dengan kelezatan Sono Kembang, jadi tanpa ba bi bu langsung cus pilih catering ini. Dan rupanya, pas hari H Sono Kembang juga menghadirkan dekorasi yang luar biasa di gedung kami. Makanannya juga uenaak (padahal cuma ngincipin sedikit habis acara kelar). Numero uno.

JPEG Image

Dekorasi Sono Kembang

JPEG Image

Kelezatan tiada tara

Dekorasi

Ini nih susah nyarinya sis bro. Mihils mihiils, paling murah belasan juta, padahal kita maunya sederhana aja. Desain yang kita pengen ga neko-neko loh, tapi udah ke sana ke mari jatohnya mahal semua. Saya, si anak gamau rugi, gamau ngabisin duit cuma buat dekor, yang cuma diliat doang habis itu ilang gitu aja. Udah mau nyiapin sendiri nih dekornya, untung Mas Suami masih waras bilang sama saya kalau itu ga mungkin. Akhirnya Mas Suami nemu deal yang cocok antara harga dan kebutuhan kami di Eldorado Dekor. Eldorado ini pusatnya di Kudus, tapi dia kadang nyiapin acara di Semarang. Desain panggung yang kami inginkan, dibuat versi bagusnya pake skala gitu-gitu deh sama vendor ini. Begitu pula desain photobooth, juga ditunjukin sama mereka seperti apa. Memuaskan deh pelayanannya.

JPEG Image

Tanda di depan gedung, biar tamu ga salah masuk

JPEG Image

Dekorasi panggung

Photo & Videography

Saya udah bilang belum kalau Mas Suami itu seleranya high class? Ini nih, vendor yang paling banyak ditemukan di sosial media, tapi sedikit yang bisa menyentuh hati Mas Suami saya. Ada kurang inilah, kurang itulah, biasalah, padahal saya ga ngerti maksudnya apa hehe. Alhamdulillah, pilihan Mas Suami jatuh pada Pixa Digital. Kami negosiasi soal harga, hasilnya bagus, sesuai keinginan kami dan harganya sangat terjangkau.

Selama foto-foto hari H pun mas-masnya ramah-ramah. Bisa diajak bercandaan, jadi selama sesi foto ga kaku-kaku gitu. Pas awkward moment karena disuruh pose aneh-aneh sama Mas Suami pun, mas-masnya berusaha mencairkan suasana agar saya ga grogi hehe. Pinter juga si mas-masnya ngambil gambar, Mas Suami dan saya kebanyakan ketawa di atas panggung, rupanya banyak hidden moment yang diambil oleh mas-mas Pixa Digital ini.

Semua foto yang terlampir di tulisan ini adalah karya Pixa Digital.

Displaying PXA_7963.JPG

Ciyee keliatan romantis ya, padahal menahan ketawa awkward

Suvenir

Awalnya Mas Suami dengan saya bingung mau kasih suvenir apa ya? Mas Suami dengan jujurnya bilang, kalau selama ini beliau datang ke nikahan orang, beliau suka lupa dapet suvenir apa. Saya pun mengaku hal yang sama hahaha. Tapi saya merasa yang paling kepake buat saya adalah gelas. Mas Suami pun setuju dengan pendapat saya.

Masalahnya….susah cari suvenir gelas yang murah sis bro. Ada sih yang murah, tapi ya itu kaya asal buat aja, belum tentu dipake. Alhamdulillah ya, setelah berhari-hari ditempuh, kami menemukan Alifacraft. Setelah nego ini itu, Alhamdulillah penawaran yang diberikan sesuai dengan budget kami. Ada sekitar sebulan, suvenir ini baru siap, karena gelas bikinnya susah ya sob, dan itungannya ini sudah cukup cepat. Jadi, jangan lupa pesan suvenir dari jauh-jauh hari.

Alhamdulillah, suvenir dikirim dengan packing kayu karena barang pecah belah, sampai dengan selamat di rumah saya. Berat gitu kan tapi haha, sempat bingung mau bawa ke tempat nikahan pakai apa. Alhamdulillahnya lagiii, ternyata bisa sekali angkut naik mobil hehehe.

JPEG Image

Gelas, bungkus tile plus kartu ucapan

Baju Pengantin

Rencana awal saya dengan Mas Suami adalah….jengjeeengg…bikin baju nikahan sendiri. Kemudian disewakan (ini ide bisnis Mas Suami keluar lagi). Saya kemudian mencari tempat jahit baju nikah yang lumayan murah, dan dapet dari IG, tempatnya di daerah Bekasi. Sedangkan Mas Suami waktu itu survey-survey kain jas keliling Jakarta dan berencana menjahit jas sepulang dari Mesir (dengan alasan badannya bakal kurusan, tapi kenyataannyaa…..hehe).

Usut punya usut, dua bulan setelah saya pesan baju nikahan itu plus saya sudah bayar DP, penjahitnya bermasalah. Saya langsung kalang kabut. H-sebulan, mau bikin baju di manaa? Untungnya, ada Kak Oci yang selalu waras ketika saya panik, beliau yang sudah berpengalaman karena pernah bermasalah dengan baju nikahannya dulu pun menyarankan saya untuk meminjam ke kakak-kakak senior yang pernah jahit baju atau untuk menyewa saja. Jadilah, saya tanya ke sana ke mari dan survey di Instagram dan Google, di mana tempat menyewakan baju nikahan.

Berhubung saya ini maunya sederhana, sedangkan khalayak umum itu beranggapan baju nikahan harusnya heboh dan meriah, jadi yaa susah mencari apa yang saya inginkan. Esoknya, saya langsung cus ke Semarang, mengunjungi meilleurami_bride yang tokonya terletak di Kedungmundu. Saya lihat di IG, kebetulan yang Meilleur Ami tawarkan itu mirip dengan apa yang saya inginkan: gamis syar’i. Dan Alhamdulillah saya dapat sepasang (plus jas buat Mas Suami) baju pengantin warna putih dengan aksesoris toska, sesuai dengan yang saya inginkan, dengan harga yang lumayan.

JPEG Image

Baju dari Mellieur Ami

Baju yang saya kenakan waktu nikahan, sederhana banget lho! Cuma gamis putih semacam manset yang tidak ngepas di badan, luarnya berupa gamis brokat yang panjang di bagian lengan dan menjuntai menyapu lantai, sehingga masih terasa mewah dan elegan. Baju ini sepasang dengan kerudung syar’i yang terdiri atas dua bagian: bagian penutup dada dan bagian phasmina. Di hari H, saya meminta tolong Kak Oci dan Kak Nia, mereka sebagai lulusan DKV 2007 pasti jiwa seninya bagus, untuk memasangkan baju dan kerudung saya agar terlihat ciamik. Alhamdulillah, meski sederhana dan syar’i, tetap terlihat anggun (kalau diem aja sih anggun, kalo uda gerak ya ilang anggunnya).

JPEG Image

Perhatikan muka-muka rempong belum mandi di background foto

Btw Mas Suami dengan saya cuma pakai satu pasang pakaian selama acara. Biasanya kan orang pakai dua bahkan lebih tuh, beda-beda setiap acara. Karena kami lagi-lagi ga muluk-muluk, jadi dengan konsep putih-toska muda pun kami udah cukup bahagia.

Make Up Pengantin Wanita

Udahlah, lelaki ga perlu pakai make up, pakai bedak aja dikit. Yang heboh biar wanitanya. Saya ini termasuk lemah kalau dimake up orang, alias selalu jelek aja hasilnya. Jadi saya hopeless banget waktu cari make up. Untungnya dibantuin Kak Oci (lagi-lagi) dan minta pertimbangan Mas Suami untuk menilai bagus atau engga contoh make up-nya. Semua full kami cari di Instagram dengan hashtag #makeupsemarang. Hehehe.

Dari sekian banyak yang saya hubungi, di mana make up yang natural tanpa menor itu harganya menjulang ke langit alias saya ga mampu bayar dan ga rela bayar segitu mahal cuma buat make up, akhirnya ada satu yang bagus dan tetap pas di kantong, yaitu Mbak Vira. Cuma mbaknya super sibuk banget, jadi gabisa janjian jauh-jauh hari kalau mau tes make up. Jadi saya menghubungi beliau baru seminggu sebelum, ngabarin kalau saya mau ke Semarang dan mau tes make up. Kalau buat make up hari H nya sendiri, ya harus jauh-jauh hari dong sis bro, soalnya mbaknya sibuk. Setidaknya kita ngetag tanggal dan tempat, bayar DP jadi aman deh hari H. Kalau buat tes make up nya, saran saya mendingan mepet hari H acara aja, biar mbaknya ga lupa. Untungnya, selama mendekati hari H, beliau responsif, bahkan beneran datang jam 03.30 buat persiapan make up saya di hari H. Sebelum make up berlangsung pun, beliau kasih treatment masker beberapa step, di muka enak banget deh rasanya. Dan hasilnya…….Alhamdulillah ini pertama kalinya saya kelihatan cantik dimakeupin :”

Oya tips buat cari make up yaa. Sebenernya tergantung selera sih, berhubung saya sangat tidak suka menor dan memang konsep saya sederhana, jadi saya cari MUA yang memang alirannya natural. Tapi kalau memang konsep pernikahannya tradisional, biasanya ibu-ibu yang make up pun menyesuaikan dengan adat istiadat yang berlaku (alias lebih menor). Jadi sebaiknya disesuaikan aja yaa dengan konsep pernikahannya.

Undangan

Ini yang paling gampang susah gampang susah. Berhubung saya suka banget sama desain undangan Kak Oci & Kak Jeffin jaman mereka menikah tahun kemarin, saya langsung minta tolong Kak Oci buat didesainin undangannya. Sederhana banget deh undangan kami, cuma putih plus toska muda aja sesuai dengan tema warna pernikahannya. Mas Suami juga minta didesainin logo buat blog kami (yeay logonya ada di halaman depan duasajadah.com), Kak Jeffin yang bersedia direpotin. Oh ya, Kak Oci dan Kak Jeffin ini adalah pasangan hits DKV ITB 2007, kalau mau minta didesainin sesuatu sok atuh langsung hubungi yah. Jangan minta-minta aja tapi meski temen sendiri, ngedesain itu susaaah jeeungg. Harus punya taste of art yang tinggi (weits), jadi jangan lupa bayar ya hahaha.

Mas Suami sendiri merasa undangan cetak itu ga perlu fancy, karena intinya kan cuma buat ngasih tau aja dan biasanya nanti kadaluarsa dan dibuang. Yang penting jadi ajah, jadi kami ga neko-neko bikin 10 halaman undangan ataupun milih bahan kertas paling tebal dan mahal buat undangan. Prinsipnya: yang simpel-simpel sajah.

Yang jelas, berhubung Mas Suami itu seleranya susah, jadi desain undangannya harus bagus. Undangannya kebanyakan akan kami bagikan via digital, berhubung teman-teman akrab yang akan kami undang sudah melanglang buana di mana kami sudah tidak bertemu lagi di dunia nyata. Sedangkan, undangan cetak akan kami khususkan untuk tamu-tamu kehormatan, termasuk tamu undangan dari pihak orang tua.

Undangan digital versi polosan

Undangan digital versi polosan

Sekian kira-kira checklist yang perlu disiapkan dari jauh-jauh hari, yang sebenarnya ga esensial dalam suatu pernikahan, tapi sangat mendukung keberjalanan acara pernikahan, meski sederhana saja. Banyak vendor yang saya tuliskan di sini berdomisili di sekitar Semarang, tapi ada juga yang berdomisili di luar kota yang bersedia melayani tempat-tempat di luar wilayah Semarang.

Sebagai penutup, Mas Suami dan saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk para pihak yang telah membantu kami, baik yang dibayar dengan uang maupun dibayar dengan doa. Konsep pernikahan kami sangat sederhana, warnanya aja cuma putih-aqua (alias toska muda), kesannya biar khidmat dan tetap elegan. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang bahkan jauh-jauh dari luar kota semua yang masih menyempatkan datang. Yang dari kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Padang, semuaaa terima kasih banyak!!!! Sungguh, kedatangan teman-teman semua sangat berarti dan bikin terharu pisan, bahkan masih ada yang bantu-bantuin di H-1, Alhamdulillah. Semoga yang belum berpasangan, segera menemukan pasangan dunia akhiratnya, yang sudah berpasangan, tetap istiqomah di jalan menuju surga-Nya.

PXA_7349

Tamu undangan

Aamiin Ya Rabb.