Setelah cukup lama ga nulis lagi, gatel juga tangan ini untuk menuangkan isi pikiran yang sudah lama terpendam (naon). Sebenarnya kalau jujur-jujuran, ada banyak banget topik yang udah masuk to do list untuk ditulis semenjak libur lebaran, hasil dari baca-baca dan sedikit mikir.

Diantara sekian banyak topik yang saya pikirkan, kali ini saya ingin membahas tentang sebuah topik yang sangat menarik bagi saya, yakni tentang sinetron.

Bentar, ga salah is, sinetron yang di TV itu?

Iya bener, sinteron yang itu.

Lu liburan kurang kerjaan banget ya sampai nonton sinetron? Udah gitu mikir lagi pas nonton sinteron.

Hahahhaa, ya maaf. Soalnya kalau lagi dirumah nenek ga ada tontonan lain sih, jadinya ya nonton apa yang ada ada.

Oke teman, seng sabar, tenang, kejutan masih belum berakhir. Setelah menonton beberapa episode sinetron, saya menarik sebuah kesimpulan bahwa kualitas sinetron Indonesia saat ini telah meningkat. Sekali lagi saya tuliskan, kualitas sinetron Indonesia saat ini telah meningkat.

Penasaran bagaimana saya bisa mendapatkan sebuah kesimpulan itu? Mari kita lanjutkan pembahasannya.

Ketika libur lebaran kemarin, saya menonton sebuah sinteron yang saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat di Indonesia, sinetron itu berjudul Preman Pensiun. Sinetron ini sudah tak asing di telinga saya karena pernah masuk ke dalam Trendig Topic Indonesia ketika Ridwan Kamil muncul di salah satu episodenya. Selain itu, beberapa kali nama sinteron ini muncul di timline Twitter saya ketika Ridwan Kamil mengundang para aktor dari Preman Pensiun untuk membantu kegiatan bersih-bersih jalan Asia Afrika dalam rangka persiapan perayaan Konferensi Asia Afrika. Meskipun demikian, saya baru pertama kali nonton Preman Pensiun ketika libur lebaran kemarin.

Saya lupa secara pasti ada berapa episode yang saya tonton, sekitar 2 atau 3 , tidak banyak memang. Dari beberapa episode yang saya tonton tersebut, ada 2 scene yang membuat saya tersenyum ketika melihat sinteron ini.

Scene pertama

Scene ini menampilkan seorang pencopet yang mengambil dompet milik turis asing yang sedang berada di Bandung. Setelah mereka berhasil menjalankan aksinya, mereka menyerahkan hasil copetan mereka ke sang bos besar yang saat itu sedang tidur-tiduran. Anehnya, setelah mereka memberikan dompet milik turis asing tersebut, bos besar mereka langsung meminta mereka untuk mengembalikan dompet tersebut.

Kalian boleh mengambil dompet orang Bandung, tapi jangan sekali-kali kalian mengambil dompet turis asing disini. Jangan sampai Bandung nanti menjadi seperti Roma, Paris, dan kota-kota besar dunia lainnya yang terkenal akan banyak copetnya” kurang lebih seperti itulah perkataan sang bos besar kepada anak buahnya.

Scene Kedua

Scene ini dimulai ketika Kang Mus (bagi yang belum tahu, Kang Mus adalah bos dari para preman baik) memasuki rumahnya dan menemukan anak perempuannya sedang membaca komik di ruang tamu.

Kamu sedang baca apa?” tanya Kang Mus ke anaknya sambil tetap berdiri

Baca komik

Kamu gamau menyesuaikan bacaanmu dengan suasana saat ini?

Maksudnya?

Ya kan sekarang lagi ramadhan, coba baca Al-Quran atau buku agama gitu

Ah males ah, lagian bapak juga ngga pernah baca Al-Quran atau buku Agama

Kang Mus pun terdiam.

 

Pada adegan selanjutnya, Kang Mus akhirnya memutuskan untuk membiarkan anaknya melanjutkan membaca komik dan masuk ke dalam rumah. Didalam rumah, Istri Kang Mus yang sedang mempersiapkan masakan meminta Kang Mus memanggilkan anaknya untuk membantu ibunya memasak. Kak Mus pun kembali lagi ke ruang tamu dan meminta anaknya untuk membantu Ibunya. Bukannya bergegas menutup komik dan pergi untuk membantu Ibunya, anak Kang Mus justru membantah perintah Ayahnya dengan alasan bahwa ia tidak suka memasak. Pertengkaran pun terjadi antara Kang Mus dan anaknya yang berujung pada penyobekan komik oleh Kang Mus yang mengakibatkan anaknya menangis dan masuk ke kamar.

Melihat anaknya masuk ke kamar sambil menangis, Istri Kang Mus bergegas ke ruang tamu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Disana, ia menemukan Kang Mus sedang bersandar di pintu.

Saya merasa gagal sebagai seorang Bapak. Saya bisa mengatur anak-anak buah yang saya miliki, tapi mengatur anak sendiri tidak bisa. Padahal anak merupakan amanah yang diberikan oleh Tuhan yang harus dibesarkan dan dididik dengan baik” ujar Kang Mus kepada Istrinya yang saat itu telah berada dibelakangnya.

Beberapa hari kemudian, saya kembali menemukan sebuah scene yang menarik dari salah satu sinteron yang saya sendiri gatahu judulnya. Maklum nontonnya kan cuman sekilas pas ganti-ganti channel, 😀

Scene ini menampulkan 2 orang bapak yang akan mengambil uang di ATM. Ketika akan masuk ke ATM, 2 bapak itu melihat kakek-kakek yang duduk di depan ATM. Ketika ditanya apa yang dilakukan kakek tersebut di ATM, kakek tersebut menjawab bahwa ia ingin mengambil uang di ATM tetapi tidak mengetahui caranya sehingga ia meminta bantuan ke 2 orang bapak tadi. Merasa kasihan, 2 bapak tadi pun setuju untuuk membantu si kakek untuk mengambil uangnya di ATM.

Ketika 3 orang itu akan masuk ke bilik ATM, datangnya seorang pemuda yang meminta izin sebentar untuk berbicara secara personal dengan 2 orang bapak yang akan membantu kakek-kakek tadi. Walaupun awalnya sempat enggan, 2 orang bapak itu akhirnya setuju untuk berbicara dengan pemuda tadi di tempat yang agak jauh dari ATM. Dalam pembicaraan tersebut, sang pemuda mengingatkan 2 orang bapak tadi bahwa saat ini sedang banyak kasus perampasan di ATM dengan modus kakek-kakek yang meminta bantuan untuk mengambilkan uangnya. Pemuda itu menasehati agar sebaiknya 2 bapak itu mencari satpam untuk membantu kakek-kakek tersebut untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Mendengar penjelasan si pemuda, kedua bapak itupun setuju dan mengucapkan terima kasih karena sudah diingatkan.

Kedua bapak itupun kembali ke ATM untuk menemui kakek itu lagi. Mereka berkdata kepada kakek tersebut bahwa mereka tidak bisa membantu namun akan mencarikan satpam untuk membantu si kakek. Mendapatkan jawaban seperti itu, si Kakek kemudian marah-marah sambil memaki kedua bapak tadi dan kemudian meninggalkan ATM ketika 2 bapak memanggil satpam yang kebetulan sedang terlihat.

Melihat perilaku yang ditunjukkan oleh Kakek tadi, 2 bapak itupun bersyukur telah melaksanakan nasehat dari pemuda tadi karena jika dilihat dari gelagatnya, sepertinya Kakek itu merupakan salah seorang anggota dari sindikat perampasan yang banyak beroperasi di ATM.

Dua scene dari Preman Kampung dan satu scene tambahan dari sinteron yang tidak saya ketahui judulnya tersebut membuat saya snngat senang dengan perkembangan yang saat ini dimiliki oleh sinteron Indonesia. Adegan-adegan tersebut menampilkan hal yang begitu saya inginkan dari sinetron-sinteron di Indonseia, adanya manfaat yang didapatkan oleh orang yang menonton.

Sebagai contoh, permasalahan yang ditampilkan pada scene kedua Preman Pensiun yang saya tuliskan diatas merupakan permasalahan yang jamak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menampilkannya dalam sebuah adegan sinetron yang banyak ditonton oleh orang tua, maka akan banyak orang tua yang akan mendapatkan pelajaran yang berarti tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Mungkin banyak orang tua yang telah mengetahui teori akan hal tersebut, namun dengan menampilkannya dalam sebuah sinetron yang digandrungi dan visualisi yang nyata, saya yakin bahwa dampak yang dihasilkan akan lebih besar.

Adegan yang menampilkan modus penipuan dengan menggunakan kakek-kakek yang meminta bantuan di ATM juga merupakan contoh yang sangat bagus. Saya yakin siapapun yang melihat adegan tersebut pasti sekarang benar-benar tertanam dalam pikirannya untuk tidak membantu secara langsung ketika ada kakek-kakek yang meminta tolong di ATM. Cara ini saya yakin jauh lebih efektif dibandingkan dengan peringatan-peringatan yang biasannya disampaikan oleh Pak Polisi.

Sinteron merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia dengan jumlah penonton yang banyak dan tingkat engagement yang tinggi. Dengan demikian, sinetron memberikan pengaruh yang tinggi terhadap perilaku keseharian masyarakat karena secara tidak langsung mereka akan menirukan apa yang mereka lihat di televisi. Oleh karena itu, saya sangat senang ketika libur lebaran kemarin mendapati bahwa beberapa sinetron Indonesia saat ini telah memiliki kualitas yang bagus, dalam artian memberikan pelajaran yang bagus kepada penontonnya lewat adegan-adegan yang ditampilkan tanpa mengurangi faktor entertainment yang memang harus dimiliki oleh setiap sinetron.

Sinetron indonesa mempunyai potensi yang sangat besar untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat Indonesia. Bayangkan jika setiap sinetron Indonesia menyisipkan pelajaran moral dalam setiap episodenya, seperti pentingnya membuang sampah pada tempatnya untuk mencegah banjir, pentingnya pendidikan pada sinetron untuk anak remaja, pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan teman, saya yakin pengaruh yang ditimbulkan ke masyarakat akan sangat besar.

Jika Presiden Jokowi serius ingin melakukan revolusi mental pada bangsa ini, maka saya sangat merekomendasikan untuk menggandeng para produser sinetron.

Apakah hal ini berarti bahwa saat ini semua sinetron Indonesia telah memiliki kualitas yang bagus?

Sayangnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan pasti karena sinteron yang saya tonton hanya 2 itu. Jikapun saat ini tidak semua sinetron di Indonesia memberikan pelajaran yang bagus bagi penontonnya, paling tidak saat ini telah ada sinetron yang mempunyai sifat seperti itu dan bagi saya hal ini merupakan sebuah hal yang sangat baik. Ingat, merubah sebuah hal yang sudah lama berjalan itu tidak mudah, semuanya dimulai dari sebuah langkah kecil.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RCTI yang telah menayangkan sinetron yang memberikan pelajaran yang bagus kepada penontonnya. Semoga RCTI yang dibulan Agustus besok akan merayakan ulang tahunnya yang ke 26 bisa mempertahankan kualitas sinetron yang dimiliki dan menjadi panutan bagi saluran televisi yang lain.

Sumber gambar : 1