Oke, jadi begini, hampir semua umat Islam (karena kalau saya nulis ‘setiap’, saya ga punya datanya) mengetahui hadits yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan warisan apapun kepada umatnya melainkan Al-Quran dan Hadits 1. Dalam hadits tesebut disebutkan bahwa kita tidak akan tersesat jika kita mengikuti petunjuk Al-Quran dan Hadits.

Sebagai seorang umat muslim, tentunya saya meyakini bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang mutlak. Akan tetapi, saya sebenarnya tidak benar-benar memahami hadits tersebut dengan baik hingga akhir-akhir ini ketika saya mencoba untuk lebih memahami tentang ajaran Agama Islam. Sebagaimana pelajaran yang lain, belajar agama pun ada tingkatannya. Ketika kita kecil, kita hanya perlu menerima dan meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh guru kita sebagai sebuah kebenaran. Namun ketika kita dewasa, kita seharusnya sudah mencoba untuk memahami alasan dibalik kebenaran tersebut. Darimana sebuah teori didapatkan, bagaimana sebuah rumus ditemukan. Ketika dulu saya hanya menerima Al-Quran dan Hadits sebagai sebuah kebenaran, maka kini saya benar-benar memahami makna dibalik hadits yang mengatakan bahwa kita tidak akan tersesat jika kita mengikuti petunjuk Al-Quran dan Hadits.

Ada satu catatan penting yang harus ditekankan dalam proses pencarian ilmu, yaitu menemukan guru yang benar, karena guru yang tidak benar justru akan membawa kita ke jalan yang salah.

Oke, kembali ke topik pembasahan mengenai Al-Quran. Dalam pembelajaran saya untuk lebih memahami tentang agama Islam, saya menemukan bahwa saat ini terdapat 2 peradaban yang saling bertentangan satu sama lain, yakni peradaban Islam (Islamic Civilization) dan peradaban Barat (Western Civilization). Perbedaan antara kedua peradaban tersebut mengakibatkan sebuah pertentangan yang sering disebut dengan clash of civilization.

Dalam peradaban Islam, Al-Quran dan Hadits merupakan sumber ilmu utama yang mengalahkan sumber ilmu yang lain, dimana justru dalam peradaban barat mereka tidak memasukkan kitab agama sebagai sumber ilmu.

Dalam penelusuran lebih lanjut, saya menemukan bahwa hal dasar yang menjadikan kedua peradaban tersebut saling bertentangan adalah perbedaan sumber ilmu. Dalam peradaban Islam, Al-Quran dan Hadits merupakan sumber ilmu utama yang mengalahkan sumber ilmu yang lain, dimana justru dalam peradaban barat mereka tidak memasukkan kitab agama sebagai sumber ilmu. Dalam buku Filsafat ilmu: Perspektif Barat dan Islam, Adnin Armas dan Dr. Dinar Dewi Karnia menyebutkan bahwa proses sekularisasi ilmu ini dimulai oleh Rene Descartes, seorang filsuf barat dengan prinsipnya, aku berpikir maka aku ada (corgito ergo sum). Dengan prinsi ini maka Descartes telah manjadikan rasio sebagai satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Sedangkan pada zaman modern, Immanuel Kant memberikan pengaruh yang besar dengan pednapatkan yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hal yang mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin karena tidak bersandarkan kepada pancaindra 2

Perbedaan tentang sumber ilmu ini selanjutnya akan menimbulkan perbedaan dalam menentukan hal yang menurut saya merupakan sesuatu yang paling penting dalam hidup manusia, yakni kebenaran. Apa sih manfaat dari ilmu? Untuk mengetahui kebenaran. Kita belajar matematika supaya tahu bahwa 2×2 adalah 4, kita belajar biologi agar tahu bahwa makanan yang masuk ke dalam mulut kita akan diolah oleh organ pencernaan dalam tubuh kita. Menentukan kebenaran relatif lebih mudah jika kita berbicara tentang peristiwa alam yang bisa kita ketahui, namun ketika kebenaran sudah menyangkut permasalahan sosial, kebingunan mulai terjadi.

Apakah minum-minuman keras itu diperbolehkan? Apakah menikahi saudara sendiri itu diperbolehkan? Apakah pernikahan sesama jenis itu diperbolehkan? Apakah berjalan dengan tidak berpakaian dimuka umum itu diperbolehkan? Apakah proses pinjam meminjam dengan memberikan bunga itu diperbolehkan? Bagaimanakah peran suami dan istri dalam keluarga? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan yang jika kita menggunakan ilmu dari peradaban barat, akan menghasilkan jawaban yang tidak menentu, relatif.

Amerika Serikat pernah melarang penjualan minuman keras pada tahun 1920-1933, beberapa negara bagian di Amerika Serikat saat ini mulai melegalkan perkawinan sesama jenis yang sebelumnya illegal dimana hal yang sama juga terjadi di beberapa negara Eropa. Atau kita bisa berbicara tentang feminisme yang saat ini menjadi sesuatu yang sangat ngetrend di negara barat. Lalu bagaimana barat menentukan bahwa sesuatu itu dinyatakan terlarang atau tidak? Dengan menggunakan standar pikiran manusia. Biasanya batasan yang ditetapkan adalah asal hal tersebut tidak mengganggu orang lain, mengapa harus dilarang? Pemikiran yang menganggap bahwa manusia mempuyai kemampuan untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa adanya campur tangan Tuhan ini disebut dengan humanism. Maka jangan heran jika dimasa mendatang perilaku pedofilia dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar dengan argumen bahwa pedofilia merupakan sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia semanjak ia lahir.

Lalu bagaimana dengan Islam?

Pencarian kebenaran dalam Islam merupakan sebuah hal yang sangat mudah. Jika suatu hal dianggap terlarang saat ini, maka sampai kapanpun hal tersebut juga akan tetap dilarang. Simple. Kalau ditanya mengapa sesuatu mempunyai hukum seperti itu, karena Al-Quran mengatakan seperti itu, kita tidak perlu bukti ilmiah karena kebenaran Al-Quran mempunyai nilai yang paling tinggi. Sebagai contoh, mengapa kita tidak memakan babi? Karena Al-Quran mengatakan seperti itu. Kenapa kita makan dengan tangan kanan? Karena itu merupakan sunnah Nabi. Bagaimana peran suami dan istri dalam rumah tangga? Peran utama suami adalah mencari nafkah bagi keluarga sedangkan istri adalah mengurus rumah tangga.

Masih ingatkah ketika kita masih kecil, orang tua kita melarang kita untuk melakukan ini dan itu? Saya menganggap hal yang sama dilakukan oleh Allah SWT melalui ajaran Islam.

Dengan melihat perbedaan sudut pandang Islam dan Barat dalam menentukan kebenaran, saya mulai memahami makna dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang telah saya sebutkan diawal. Ketika kita tidak menggunakan Al-Quran sebagai pedoman hidup, kita akan menggunakan akal dan pikiran kita untuk menentukan kebenaran, padahal pengetahuan kita sangatlah terbatas. Masih ingatkah ketika kita masih kecil, orang tua kita melarang kita untuk melakukan ini dan itu? Saya menganggap hal yang sama dilakukan oleh Allah SWT melalui ajaran Islam. Terkadang kita tidak memahami alasan dari sebuah perintah atau larangan, tapi kita harus percaya bahwa itu merupakan hal yang terbaik.

Apakah Al-Quran dan Hadits bisa digunakan sebagai petunjuk hidup?

Well, tentu saja bisa. Al-Quran dan Hadits mengandung semua ilmu yang kita perlukan untuk hidup di dunia ini. Ada ilmu tentang perdagangan, ilmu pemerintahan, ilmu ekonomi, ilmu dalam berkeluarga, ilm dalam bertetangga, semua ilmu terdapat dalam Al-Quran dan Hadits sehingga semuanya tergantung dari kita sendiri apakah mau mempelajarinya atau tidak.

Mengapa kita percaya pada apa yang ada di dalam Al-Quran?
Karena kita yakin bahwa itu merupakan perkataan Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan apa yang ditetapkan oleh Allah SWT merupakan yang terbaik untuk kita semua.

Jika ada satu orang yang bisa membuktikan bahwa Al-Quran bukan merupakan firman Allah SWT, maka hancurlah semua landasan kita sebagai umat Islam.

Karena sebagai umat Islam kita menggunakan Al-Quran sebagai landasan untuk melakukan segala hal, maka kebenaran Al-Quran sebagai firman Allah SWT merupakan hal yang sangat mutlak. Jika ada satu orang yang bisa membuktikan bahwa Al-Quran bukan merupakan firman Allah SWT, maka hancurlah semua landasan kita sebagai umat Islam. Usaha untuk menggoyahkan keyakinan umat Islam akan kebenaran Al-Quran saat ini telah dilakukan oleh berbagai pihak yang biasa kita sebut dengan dekonstruksi Al-Quran. Akan tetapi, semua teori yang digunakan untuk mendekonstruksi Al-Quran hingga saat ini belum ada yang mampu membuktikan dengan pasti bahwa Al-Quran bukan merupakan firman Allah SWT.

Sebagai penutup, izinkanlah saya meninggalkan satu ayat Al-Quran yang begitu istimewa untuk kita semua. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya” (QS.Al Hijr [15] : 9).

Sumber :
1. H/R Muslim (2137) Al-Haj. Abu Daud (1628). Al-Mnasik, Ibn Mahaj (3060) al-manasik.
2. Dr. Adian Husaini(ed). 2013. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani Press

Sumber Gambar : 1