Kalau ke Semarang cuma dateng kawinan, rasanya sayang banget, masa ga pake jalan-jalan. Semarang sendiri merupakan kota plus kabupaten yang luas banget, yang kayanya gabisa kalau cuma dijelajah dalam waktu sehari. Mau nyari wisata macam apa pun semua ada; mulai dari pantai sampai gunung, tempat yang panas sampai yang dingin, tengah kota sampai pelosok desa.

Kota Semarang itu lebih terkenal dengan wisata historikal dan arsitekturnya, sedang Kabupaten Semarang yang cenderung dikuasai oleh dataran tinggi lebih terkenal dengan wisata alamnya. Ada sih pantai di Kota Semarang, tapi jangan berharap bisa nyemplung main air dan pasir deh! Adanya cuma beton sama air laut hehe. Tapi gausa khawatir, Semarang jauh lebih keren daripada sekedar pantai. Kayanya jarang ada satu kota yang menampakkan toleransi beragama yang kuat kaya Semarang, di mana kita bisa liat tempat wisata Masjid, Gereja, Candi, Vihara dan Klenteng. Jadi jangan berharap bisa menemukan tempat hits dalam tulisan ini ya (soalnya terakhir saya datang ke salah satu tempat hits eh kecewa banget soalnya gitu doang), tulisan ini akan lebih membahas tentang tempat wisata terkenal yang jadi simbol wisata di Semarang.

Lawang Sewu – Tugu Muda

Lawang Sewu

Lawang Sewu (sumber)

Tempat bersejarah ini sangat terkenal sejak acara TV Dunia Lain beberapa tahun lalu yang mengadakan tempat uji nyali di sini. Selain historis, tempat ini juga terkenal mistis, apalagi kalau didatangi di malam hari. Sejarah tempat ini lumayan miris (pun intended :p), ada aula yang lagi rame karena ada pesta Belanda tiba-tiba dibom jadi banyak yang meninggal seketika. Waktu masuk ke aula itu pemandu saya bilang, “Di sebelah sana ada noni Belanda yang sedang memperhatikan kita.” WOW serem kaan, bapak pemandunya kayanya pengen diundang di acara Dunia Lain. Ada juga bekas bom dan peluru yang menggores sekitaran ruangan Aula. Selain itu, ada penjara bawah tanah yang bahkan orang gabisa berdiri di dalamnya. Kebayang kan gimana keadaan para tawanan di penjara itu? Kasiaan huks.

Untuk bisa menikmati wisata Seribu Pintu (arti kata Lawang Sewu), pengunjung harus membayar tiket masuk. Ditambah biaya untuk sewa pemandu (kalau mau, tapi biasanya dipaksa :p), pengunjung akan mendapat cerita macem-macem soal berbagai macam ruangan di dalam Lawang Sewu. Kalau mau mampir penjara bawah tanah di malam hari (tapi biasanya ditutup pas musim hujan karena banjir), biasanya ada tarif tambahan lagi. Berkunjung di siang hari pun juga bagus kok! Bisa buat foto-foto manis buat prewed atau buat pamer di sosmed. Apalagi bentuk pintu yang tidak berujung kayak rel kereta api (sejarahnya karena gedung Lawang Sewu ini di jaman Belanda adalah Kantor Kereta Api).

Oya, Lawang Sewu terletak di Jalan Pemuda, tepatnya di seberang Tugu Muda. Lumayan kan, bisa mampir ke Tugu Muda, yang juga merupakan salah satu simbol Kota Semarang. Apalagi malam hari, Tugu Muda sekarang udah jadi tempat nongkrong gaul gitu. Kalau siang hari beberapa tahun lalu sih, biasanya ada anak-anak kecil yang mandi atau jadi tempat ceburan anak-anak SMA yang ulang tahun (kemudian saya pun mengenang masa-masa muda).

 Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah (sumber)

Ini Masjid yang diklaim sebagai Masjid paling besar di Jawa Tengah. Tapi memang indaaah banget dan besaaar masjidnya. Tempat ini punya tiga gedung utama yang dibentuk seperti huruf U dan latar di tengahnya biasanya bisa buat nongkrong para keluarga yang ingin menikmati keindahan masjid ini. Di latar ini pun ada enam payung besar (yang lebih sering ketutup) yang ketika hujan atau waktu-waktu tertentu jadi mengembang (dan supeerr kereeen).

Buat ngeliat bangunan ini dari atas pun bisa naik ke Menara Masjidnya, biaya masuknya cukup murah. Naik lift langsung ke lantai tertinggi aja, tempat di mana bisa melihat MAJT dari atas dan melihat kota Semarang. Hati-hati karena anginnya cukup kencang dan gausa iseng manjat-manjat jeruji pagar pembatas ya. Selain bisa melihat pemandangan, Menara MAJT juga menyediakan ruangan seperti museum yang menampilkan sejarah-sejarah Islam di Jawa Tengah lebih khususnya.

Kota Lama – Gereja Blenduk

Gereja Blenduk dari Kejauhan

Gereja Blenduk dari Kejauhan (sumber)

Daerah Kota Lama bisa ditemukan di sekeliling Stasiun Semarang Tawang atau coba telusuri Jalan Pemuda dari Tugu Muda sampai ujung. Banyak bangunan tua di daerah ini. Daerah ini cocok banget buat para photographer yang berburu foto.

Yang terkenal banget dari Kota Lama adalah Gereja Blenduk. Tempat ini adalah Gereja Kristen paling tua di Jawa Tengah. Yang menarik adalah atapnya yang seperti kubah bola, yang disebut Blenduk dalam Bahasa Jawa.

Sayangnya, saya jarang menemukan Gereja ini buka selain hari yang ditentukan. Kalau Gerejanya tutup, foto-foto aja di depannya hehe soalnya jarang banget ada Gereja yang bentuknya seperti ini.

Sam Poo Kong

Sam Po Kong

Sam Po Koong (sumber)

Sam Poo Kong adalah tempat yang menjadi pendaratan pertama Laksamana Cheng Ho, seorang keturunan Tiongkok yang beragama Islam. Warga keturunan Tiongkok di Semarang, menganggapnya sebagai Klenteng, sehingga sampai sekarang para penganut Kong Hu Cu beribadah di klenteng ini.

Bangunan Sam Poo Kong juga sering disebut sebagai Gedung Batu karena bentuknya seperti batu (menurut saya-yang ga paham arsitektur-kayanya ga kaya batu haha). Tempat ini biasanya dibuka setiap hari dan orang yang ga beribadah pun tetep bisa masuk, cuma di daerah yang terbatas aja, agar tetap terjaga kesucian ibadahnya. Lumayan bisa liat-liat bangunan arsitekturnya dan foto-foto hehe.

Watugong – Vihara Buddhagaya

Vihara Buddhagaya

Vihara Buddhagaya (sumber)

Sebenernya nama Watugong ini cuma daerahnya sih, objek wisata terkenalnya bernama Vihara Buddhagaya Watugong. Pagoda dalam Vihara ini diresmikan oleh MURI sebagai Pagoda tertinggi di Indonesia. Selain ada pagoda tertinggi, ada juga bangunan yang lain yang bisa dinikmati keindahan arsitekturnya.

Di dalam pagoda itu tersendiri ada patung budha yang super besar, bisa dilihat dari luar. Saya gatau sih apakah pengunjung boleh masuk atau engga, terakhir kali saya ke sana soalnya ga ada yang jaga jadi ga bisa nanya. Tapi lumayan bisa liat-liat dan mengamati budaya yang beda banget sama budaya yang saya punya.

Kalau di atas adalah tempat-tempat yang ada di daerah Kota Semarang aja, sekarang saya ingin ngasih tau tentang tempat favorit saya yang harus ditempuh dalam waktu satu jam dari pusat Kota Semarang ke arah Selatan. Kenapa favorit? Karena dekat dengan rumah saya (maklum ya, rumah saya di ujung selatan Kota Semarang, pelosok gitu hihi).

Bandungan

Kenapa disebut Bandungan? Kayanya sih karena suasananya mirip Bandung, Lembang sih lebih tepatnya, tapi karena ini KW jadinya Bandungan. Sumpah saya sotoy barusan. Tapi asli, Bandungan ini dingin, sejuk, banyak pemandangan bagus dari atas gunung. Maklum ya, Bandungan ini terletak di kaki Gunung Ungaran. Kalau mau naik Gunung Ungaran, cuma bisa lewat sekitaran sini nih.

Jaman-jaman saya masih bandel, ketika saya suka boong sama Mama mau main ke rumah temen eh tapi naik motor jauh padahal belum punya SIM, saya sering banget main ke sini. Bareng temen-temen dulu, kami suka minum susu kedelai asli dari kedelainya (ya saya gatau juga sih asli atau engga) dan tahu serasi yang super empuk itu. Duduk-duduk santai sejuk di tempat makan lesehan sambil memandang hijaunya sawah dari atas gunung. Modalnya cuma dua puluh rebu dulu (udah sama patungan bensin ya! Tujuh taun lalulah kira-kira).

Bisa banget loh dicoba, memang mantap susu kedelai dan tahu serasinya. Selain itu, makanan yang terkenal adalah gorengan Pasar Bandungan! Ada getuk dan gemblong, yang jarang bisa ditemukan di tempat lain selain di sini. Kalau mau tahu petis sih juga bisa, tapi enakan beli di Kota Semarangnya aja hehe.

Bandungan sendiri punya banyak tempat menarik, meski baru muncul ketika saya beranjak dewasa. Bahkan pom bensin Bandungan sendiri bisa jadi tempat rehat yang asyik karena pemandangannya yang keren banget. Simak ya tempat menariknya apa aja.

Umbul Sidomukti – Pondok Kopi

Awal-awal ketika tempat ini hits adalah jaman saya SMA. Tempatnya jauh banget dari Jalan Raya Bandungan, harus naik motor yang kuat buat tanjakan. Udah gitu jalannya rusaaakk banget karena belum terkenal. Kalau ke sana rame-rame naik motor, harus atur-atur duduknya, yang bonceng jangan yang badannya besar, yang ngeboncengin harus kuat mental. Kebayang kan saya kebagian yang mana? :p Tapi sekarang udah nyaman banget kalau mau ke sini mah.

Jalan udah lumayan besar dan rata, meski masih tanjakan. Tapi mobil kecil pun kuat kayanya ke sini (sotoy, padahal ke sini ga pernah naik mobil). Sekitar kira-kira 15-30 menit dari Jalan Raya, bisa ditemukan ada gapura gede yang disuruh bayar tiket masuk, nah itu Umbul Sidomuktinya.

Umbul Sidomukti sendiri terkenal dengan pemandangannya yang super wow. Karena dia terletak di makin-deket-puncaknya Gunung Ungaran, jadi bisa liat sawah, hutan, Rawa Pening, jalan raya semuaa dari atas. Kalau mau wisata menantang kaya Flying Fox dll, bisa juga di Umbul Sidomukti ini. Ada kolam renangnya juga, kayanya sih air panas. Bisa duduk-duduk nongkrong, pesen makan mahal juga. Kalau mau hemat bawa makan aja dari luar haha.

Bosen sama Umbul Sidomukti, coba lanjutin perjalanannya naik ke atas Gunung, ke Pondok Kopi. Ini pondok baru ada di tingkat akhir saya kuliah kayanya. Jalannya isinya cuma tanjakan yang super ekstrim sih daripada sebelumnya. Kalau naik motor bebek 90an kayanya yakin udah bakal ga kuat. Pondok Kopi dikenal dengan pohon cemaranya yang tinggi. Saya sih waktu ke sana bareng temen-temen cuma numpang duduk dan foto aja soalnya kopinya ga gitu mewah dan ga gitu enak (padahal mahal aja jadi ga beli). Pemandangannya supeeerrr kereeen dan baguuuss. Lebih bagus dari Umbul Sidomukti.

Kalau mau lanjut muncak Gunung Ungaran, sok nanjak. Katanya cuma empat jam dari Pondok Kopi.

Candi Gedong Songo

Candi-Gedong-Songo

Candi Gedong Songo (sumber)

Yang suka hiking, yang suka hiking, mari merapat. Candi ini ada sembilan, yang antar satu candi dengan candi yang lain jaraknya ada kayanya ratusan meter. Kalau capek  jalan kaki, sok atuh ada persewaan kuda. Yang jalan kaki hati-hati aja ya, banyak kuda buang air sembarangan di tengah jalan. Mau dimarahin kudanya juga ga ngaruh, keep calm and move on. Ada petugas yang ngebersihin kotoran kuda di sepanjang jalan kok.

Cobain jalan ke candi yang pertama, kalau berasa masih kuat, silahkan lanjut ke candi berikutnya. Karena kalo udah di candi tengah-tengah, udah gabisa balik, harus lanjut sampai kelar. Ga ada jalan pintasnya soalnya, ya ada sih, tapi ga ngaruh we. Tapi yakin deh, ga akan bosen sepanjang jalan. Karena pemandangannya bagus dan bentuk candinya ga ada yang sama.

Di dalam kawasan candi ada loh yang jual makanan dan minuman, cuma harganya lebih mahal dari harga luaran. Ada juga yang jual sate kelincii, dagingnya dikit tapi mahalnya Masyaa Allah. Kalau mau coba sih boleh aja, makan pop mie juga enak.

Tips dari saya, jangan lupa bawa air minum yang banyak (meski berat juga sih kalau dibawa-bawa pas jalan haha, secukupnya aja). Jangan makan di warung deket pintu masuk ya, mahal (meski kalo dibandingin harga makanan Jakarta sih masih ga segitu mahalnya). Gausa sok pakai pakaian cantik ya, soalnya kalo capek pasti ntar duduk di rerumputan yang pasti bakal bikin baju kotor.

Btw dari sini pun bisa lanjut muncak ke Gunung Ungaran kira-kira enam sampai delapan jam perjalanan.

Kira-kira udah cukup banyak ya informasi tentang tempat wisata di Semarang. Ini adalah rekomendasi saya, sebagai anak yang lahir dan tinggal sampai umur 18 tahun di Semarang. Sekarang Semarang udah berubah banget, udah mulai muncul tempat-tempat hits kaya Bandung, misal Brown Canyon, Gunung Kendil, Curug Lawe (ini mah udah ada dari jaman saya SMA cuma saya gatau tepatnya di mana). Silahkan aja googling buat cari tau lebih lanjut soal tempat wisata yang lain. Saran saya sih jangan ke mall ya, ga sekeren Bandung dan Jakarta punya atuh!

Selamat jalan-jalan!